'Menolak' Zona Nyaman, Tiga Dekade Berkawan dengan Alam Liar
Selasa, 01 Desember 2020 - 20:31 WIB
loading...
A
A
A
Bagi Suseno, apa yang dilakukan Didi di hutan dengan sejumlah penemuan spesies burung di Pulau Togian, Teluk Tomini, Sulawesi Tengah, dan segala keterlibatannya dalam konservasi alam, benar-benar menarik perhatian. Termasuk juga buku “Biologi Konservasi” yang ditulis bersama Richard Primack dan Jatna Supriatna, serta Buku “Civic Engagement in Asia”.
“Dia orang yang sangat adaptif dalam perubahan, seperti air menyesuaikan tapi tetap air. Kemudian menggunakan pembelajaran itu untuk mencapai hasil yang terbaik,” jelasnya.
Sementara itu, Director of Global Networking and Engagement Chulalongkorn University Michiko Yoshida mengatakan, Didi adalah salah satu anggota API yang dipilih oleh seleksi komite yang ketat, public intelektual dari beberapa negara, bukan melalui jalan pintas.
“Pak Didi punya akademik yang bagus tapi itu tidak cukup untuk dipilih sebagai anggota API, tapi dia belajar berinteraksi dengan masyarakat dan alam di desa di semua level masyarakat, menjadi pendengar yang baik dan terbuka untuk berbagai budaya dan ide, menghormati yang lain dan rendah hati. Jika tidak rendah hati, kita tidak bisa melihat berlian di lautan. Tanpa karakter tersebut Didi tidak public intellectual,” tuturnya.
Didi, ungkap Michiko, melakukan semuanya dengan sepenuh hati. Memiliki karakter seperti ini butuh berdekade-dekade untuk menjadi public intelectual.
Dia juga menyinggung bahwa anak muda adalah pendorong masa depan dan mereka yang akan menciptakan dunia lebih baik. Michiko menyebut generasi muda di era digital dan dinamis saat ini punya banyak kesempatan seiring meningkatnya konektivitas.
"Anak muda punya kesempatan yang tidak tersedia di generasi saya. Jangan sampai menjadi hambatan. Interaksi langsung dengan masyarakat ini membutuhkan waktu lama, tidak ada jalan pintas. Ini sebuah keindahan individu, sebagai warga negara, dan sebagai warga negara global untuk pembangunan berkelanjutan,” paparnya.
“Dia orang yang sangat adaptif dalam perubahan, seperti air menyesuaikan tapi tetap air. Kemudian menggunakan pembelajaran itu untuk mencapai hasil yang terbaik,” jelasnya.
Sementara itu, Director of Global Networking and Engagement Chulalongkorn University Michiko Yoshida mengatakan, Didi adalah salah satu anggota API yang dipilih oleh seleksi komite yang ketat, public intelektual dari beberapa negara, bukan melalui jalan pintas.
“Pak Didi punya akademik yang bagus tapi itu tidak cukup untuk dipilih sebagai anggota API, tapi dia belajar berinteraksi dengan masyarakat dan alam di desa di semua level masyarakat, menjadi pendengar yang baik dan terbuka untuk berbagai budaya dan ide, menghormati yang lain dan rendah hati. Jika tidak rendah hati, kita tidak bisa melihat berlian di lautan. Tanpa karakter tersebut Didi tidak public intellectual,” tuturnya.
Didi, ungkap Michiko, melakukan semuanya dengan sepenuh hati. Memiliki karakter seperti ini butuh berdekade-dekade untuk menjadi public intelectual.
Dia juga menyinggung bahwa anak muda adalah pendorong masa depan dan mereka yang akan menciptakan dunia lebih baik. Michiko menyebut generasi muda di era digital dan dinamis saat ini punya banyak kesempatan seiring meningkatnya konektivitas.
"Anak muda punya kesempatan yang tidak tersedia di generasi saya. Jangan sampai menjadi hambatan. Interaksi langsung dengan masyarakat ini membutuhkan waktu lama, tidak ada jalan pintas. Ini sebuah keindahan individu, sebagai warga negara, dan sebagai warga negara global untuk pembangunan berkelanjutan,” paparnya.
(shf)
Lihat Juga :