16 Jam Ekspedisi Ciliwung Bogor-Jakarta, Bima Arya: PR Banyak, Harus Kerja Bareng dari Hulu ke Hilir
Rabu, 11 November 2020 - 22:00 WIB
loading...
A
A
A
“Kami melakukan apa yang bisa dilakukan di Kota Bogor. Ada Satgas Ciliwung yang tugasnya bersihkan sampah, normalisasi saluran air, edukasi kepada warga. Tapi data yang kami dapat ini akan kami sampaikan kepada kepala daerah masing-masing. Kelihatannya kita perlu banyak dibantu juga di wilayah Depok. Karena kalau Depok sampai Jakarta ini tergarap, banjir Jakarta akan jauh lebih berkurang,” terang Bima.
Selain itu, ada hal jauh lebih penting lagi, yakni membangun infrastruktur untuk membentuk kultur. “Jadi kampung-kampung di situ dibangun IPAL-nya, dibangun sistem sampahnya, supaya orang tidak buang sampah sembarangan, tidak buang air sembarangan. Kan tidak mungkin melarang orang buang sampah tapi tempat sampahnya tidak ada, melarang warga buang air tapi IPAL-nya tidak dibangun,” jelasnya.
“Ini PR kita. Dan kami ingin sampaikan juga kepada bapak Presiden, Kementerian PUPR, supaya Ciliwung ini diperhatikan betul. Ciliwung ini urusan bersama. Kalau kita serius di hulu tapi di hilirnya tidak, ya percuma. Serius di hilir tapi dihulunya tidak ya juga sama saja. Saya optimistis bisa karena banyak komunitas, banyak penggiat lingkungan hidup, banyak warga juga yang siap membantu, tadi pada semangat ya. Tinggal pemerintahnya mendorong,” pungkas Bima.
Dalam pengarungan tersebut, diikuti 12 perahu karet dari Bogor ke Depok yang berisikan para penggiat lingkungan, seperti Komunitas Peduli Ciliwung dan Satgas Ciliwung serta didukung oleh Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) dan unit rescue dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Tiba di Depok, tim memutuskan untuk bermalam dan melanjutkan ekspedisi hari kedua dari Depok menuju Pintu Air Manggarai, Jakarta. Pada hari kedua ini tim dibantu perahu bermotor untuk memudahkan pengarungan karena alirannya sangat datar. Sesekali perahu motor yang ditumpangi tim harus mati mesin karena tersumbat sampah. Hingga pada akhirnya tim tiba Pintu Air Manggarai.
Selain itu, ada hal jauh lebih penting lagi, yakni membangun infrastruktur untuk membentuk kultur. “Jadi kampung-kampung di situ dibangun IPAL-nya, dibangun sistem sampahnya, supaya orang tidak buang sampah sembarangan, tidak buang air sembarangan. Kan tidak mungkin melarang orang buang sampah tapi tempat sampahnya tidak ada, melarang warga buang air tapi IPAL-nya tidak dibangun,” jelasnya.
“Ini PR kita. Dan kami ingin sampaikan juga kepada bapak Presiden, Kementerian PUPR, supaya Ciliwung ini diperhatikan betul. Ciliwung ini urusan bersama. Kalau kita serius di hulu tapi di hilirnya tidak, ya percuma. Serius di hilir tapi dihulunya tidak ya juga sama saja. Saya optimistis bisa karena banyak komunitas, banyak penggiat lingkungan hidup, banyak warga juga yang siap membantu, tadi pada semangat ya. Tinggal pemerintahnya mendorong,” pungkas Bima.
Dalam pengarungan tersebut, diikuti 12 perahu karet dari Bogor ke Depok yang berisikan para penggiat lingkungan, seperti Komunitas Peduli Ciliwung dan Satgas Ciliwung serta didukung oleh Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) dan unit rescue dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Tiba di Depok, tim memutuskan untuk bermalam dan melanjutkan ekspedisi hari kedua dari Depok menuju Pintu Air Manggarai, Jakarta. Pada hari kedua ini tim dibantu perahu bermotor untuk memudahkan pengarungan karena alirannya sangat datar. Sesekali perahu motor yang ditumpangi tim harus mati mesin karena tersumbat sampah. Hingga pada akhirnya tim tiba Pintu Air Manggarai.
(thm)
Lihat Juga :