Rapid Test Pengungsi Gunung Merapi di Tlogolele Akhirnya Dibatalkan
Selasa, 10 November 2020 - 14:51 WIB
loading...
Pengungsi Merapi dari Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali di lokasi pengungsian, Selasa (10/11/2020). Foto/SINDOnews/Ary Wahyu Wibowo
A
A
A
BOYOLALI - Rapid test COVID-19 kepada pengungsi Gunung Merapi di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali akhirnya dibatalkan. Rapid test dikhawatirkan justru membuat pengungsi takut dan membuat mereka kembali ke rumah.
Sekretaris Desa (Sekdes) Tlogolele, Neigen Achtah Nur Edy Saputra mengatakan, warga, pemerintah desa dan pengelola pengungsian akhirnya memutuskan menolak rapid test COVID-19. "Pertimbangannya karena hal itu akan menambah keresahan pengungsi," kata Neigen di lokasi pengungsian, Selasa (10/11/2020). (Baca juga: Siaga Erupsi Gunung Merapi, Sirene Peringatan Dini di Tlogolele Jadi Andalan)
Sesuai info dari pengungsian di lokasi lain, pengungsi akhirnya pulang dan tidak mau kembali setelah rapid test. Pihaknya tadi malam telah menghubungi BPDB Boyolali terkait permintaan pembatalan rapid test. (Baca juga: Perjuangan Heroik Mbah Min, Dapat Tugas Mengintai Kekuatan Militer Belanda)
Sehingga Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali akhirnya datang ke lokasi pengungsian dan hanya memberikan imbauan agar pengungsi mengikuti protokol kesehatan COVID-19, yakni rajin mencuci tangan dengan sabun, memakai masker dan jaga jarak.
Pihaknya belum menyampaikan ke pengungsi terkait rencana rapid test yang kemudian dibatalkan. Sebab hal itu secara mental akan membuat mereka takut.
Sekretaris Desa (Sekdes) Tlogolele, Neigen Achtah Nur Edy Saputra mengatakan, warga, pemerintah desa dan pengelola pengungsian akhirnya memutuskan menolak rapid test COVID-19. "Pertimbangannya karena hal itu akan menambah keresahan pengungsi," kata Neigen di lokasi pengungsian, Selasa (10/11/2020). (Baca juga: Siaga Erupsi Gunung Merapi, Sirene Peringatan Dini di Tlogolele Jadi Andalan)
Sesuai info dari pengungsian di lokasi lain, pengungsi akhirnya pulang dan tidak mau kembali setelah rapid test. Pihaknya tadi malam telah menghubungi BPDB Boyolali terkait permintaan pembatalan rapid test. (Baca juga: Perjuangan Heroik Mbah Min, Dapat Tugas Mengintai Kekuatan Militer Belanda)
Sehingga Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali akhirnya datang ke lokasi pengungsian dan hanya memberikan imbauan agar pengungsi mengikuti protokol kesehatan COVID-19, yakni rajin mencuci tangan dengan sabun, memakai masker dan jaga jarak.
Pihaknya belum menyampaikan ke pengungsi terkait rencana rapid test yang kemudian dibatalkan. Sebab hal itu secara mental akan membuat mereka takut.
(shf)
Lihat Juga :