Kondis Miris Nenek Sarifah Buktikan Pemko Medan Lalai Siapkan Program Bantuan Lansia
Minggu, 01 November 2020 - 07:00 WIB
loading...
Nenek Sarifah perempuan kelahiran 31 Desember 1951 ini, masih harus dihadapkan pada kenyataan pahit, hidup sendiri dan rumah terendam banjir. (Foto/SINDOnews/Ist)
A
A
A
USIA SENJA belum bisa dinikmati Sarifah dengan damai. Perempuan kelahiran 31 Desember 1951 ini, masih harus dihadapkan pada kenyataan pahit, hidup sendiri dan terendam banjir.
Dikunjungi Bobby Nasution dirumahnya Jalan Panglima Denai, Medan Denai, Sabtu (31/10/2020), Nenek Sarifah merasa haru. Menantu Presiden Joko Widodo, datang berkunjung dan memperhatikannya. Padahal, bertahun-tahun berteriak kepada kepala lingkungan, lurah dan camat, tak ada satupun yang menggubrisnya.
Sejak suaminya meninggal dunia 25 tahun yang lalu, Sarifah yang sehari-hari dipanggil Upik ini hidup sendiri. Anak tunggalnya yang sudah menikah pun tak tahu lagi kemana perginya. Upik harus menghadapi bencana sendirian.
“Sejak tiga bulan lalu entah kemana perginya (anaknya), tidak pulang-pulang,” ucap Upik tanpa mau membicarakan anaknya lebih jauh. (BACA JUGA: Bobby Nasution: Percuma Musrenbang Pemko Medan Kalau Pemimpinnya Tidak Tahu Kondisi Masyarakat)
Padahal diusia senjanya, bantuan dari anak sangat dibutuhkan, terutama masalah yang dihadapinya. Rumahnya yang berada cukup jauh dari badan jalan, kini mulai terendam banjir lantaran pembangunan sekitar tidak memperhatian drainase, sehingga air terus menggenangi rumahnya.
“Sudah lima tahun seperti ini. Air sumur sudah tidak bagus lagi, dulu bening sekali, sekarang sudah keruh. Lantai pun sudah retak karena banjir. Dulu lantai ini bersih, sepuluh hari sekali di pel pakai solar. Kini apa yang mau di pel lagi, banjir terus,” tutur Upik.
Dikunjungi Bobby Nasution dirumahnya Jalan Panglima Denai, Medan Denai, Sabtu (31/10/2020), Nenek Sarifah merasa haru. Menantu Presiden Joko Widodo, datang berkunjung dan memperhatikannya. Padahal, bertahun-tahun berteriak kepada kepala lingkungan, lurah dan camat, tak ada satupun yang menggubrisnya.
Sejak suaminya meninggal dunia 25 tahun yang lalu, Sarifah yang sehari-hari dipanggil Upik ini hidup sendiri. Anak tunggalnya yang sudah menikah pun tak tahu lagi kemana perginya. Upik harus menghadapi bencana sendirian.
“Sejak tiga bulan lalu entah kemana perginya (anaknya), tidak pulang-pulang,” ucap Upik tanpa mau membicarakan anaknya lebih jauh. (BACA JUGA: Bobby Nasution: Percuma Musrenbang Pemko Medan Kalau Pemimpinnya Tidak Tahu Kondisi Masyarakat)
Padahal diusia senjanya, bantuan dari anak sangat dibutuhkan, terutama masalah yang dihadapinya. Rumahnya yang berada cukup jauh dari badan jalan, kini mulai terendam banjir lantaran pembangunan sekitar tidak memperhatian drainase, sehingga air terus menggenangi rumahnya.
“Sudah lima tahun seperti ini. Air sumur sudah tidak bagus lagi, dulu bening sekali, sekarang sudah keruh. Lantai pun sudah retak karena banjir. Dulu lantai ini bersih, sepuluh hari sekali di pel pakai solar. Kini apa yang mau di pel lagi, banjir terus,” tutur Upik.
Lihat Juga :