Ridwan Kamil Tagih Kepastian Proyek LRT Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Jum'at, 16 Oktober 2020 - 21:28 WIB
loading...
A
A
A
Meski begitu, Kang Emil menegaskan, Pemprov Jabar akan mendukung keputusan pemilihan moda transportasi penghubung yang akan dibangun sepanjang memudahkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Kami dukung keputusan pemilihan moda transportasinya dan kami doakan lancar. Apa pun itu (transportasi penghubungnya), waktu sudah mendesak dan saya mengajak mari segera putuskan pilihan yang paling rasional," katanya. (BACA JUGA: Inovasi Perajin Batik Mengatasi Dampak Pandemi)
Lebih lanjut Kang Emil mengatakan bahwa pembangunan jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 kilometer turut mendukung lahirnya tiga pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jabar, yakni Karawang, Walini, dan Tegalluar.
Ketiga wilayah tersebut menjadi objek Transit Oriented Development (TOD) lewat pengembangan tata ruang terintegrasi antara orang, kegiatan, bangunan, dan ruang publik dengan konektivitas yang mudah.
"Dengan kereta cepat, tiga pusat pertumbuhan baru akan lahir. Jadi, jalur transportasi ini jangan dilihat hanya dari mewadahi kebutuhan volume pergerakan mobilitas eksisting, tapi juga jadi alasan melahirkan gagasan kota baru," jelasnya.
Di masa depan, imbuh Kang Emil, tiga wilayah TOD tersebut bakal menjadi pilihan masyarakat sebagai tempat tinggal selain kawasan metropolitan Jabotabek dan Bandung Raya karena hadirnya Kereta Cepat Jakarta-Bandung menjadikan efektivitas bukan lagi jarak melainkan waktu. (BACA JUGA: Kabar Buruk, Valentino Rossi Positif Covid-19)
"Kalau ditanya berapa jauh Jakarta-Bandung? Jawaban konvensional biasanya 130 kilometer, tetapi di masa depan jawabannya adalah 36 menit. Jadi, waktu akan menjadi kata kunci baru dalam mempersepsikan sebuah jarak (di masa depan)," tandasnya.
Menanggapi permintaan Kang Emil, Direktur Prasarana Perkeretaapian Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Republik Indonesia, Heru Wisnu Wibowo berharap, keputusan soal moda transportasi penghubung Stasiun Tegalluar ke stasiun di pusat Kota Bandung dapat diperoleh bulan depan.
"Kami dukung keputusan pemilihan moda transportasinya dan kami doakan lancar. Apa pun itu (transportasi penghubungnya), waktu sudah mendesak dan saya mengajak mari segera putuskan pilihan yang paling rasional," katanya. (BACA JUGA: Inovasi Perajin Batik Mengatasi Dampak Pandemi)
Lebih lanjut Kang Emil mengatakan bahwa pembangunan jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 kilometer turut mendukung lahirnya tiga pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jabar, yakni Karawang, Walini, dan Tegalluar.
Ketiga wilayah tersebut menjadi objek Transit Oriented Development (TOD) lewat pengembangan tata ruang terintegrasi antara orang, kegiatan, bangunan, dan ruang publik dengan konektivitas yang mudah.
"Dengan kereta cepat, tiga pusat pertumbuhan baru akan lahir. Jadi, jalur transportasi ini jangan dilihat hanya dari mewadahi kebutuhan volume pergerakan mobilitas eksisting, tapi juga jadi alasan melahirkan gagasan kota baru," jelasnya.
Di masa depan, imbuh Kang Emil, tiga wilayah TOD tersebut bakal menjadi pilihan masyarakat sebagai tempat tinggal selain kawasan metropolitan Jabotabek dan Bandung Raya karena hadirnya Kereta Cepat Jakarta-Bandung menjadikan efektivitas bukan lagi jarak melainkan waktu. (BACA JUGA: Kabar Buruk, Valentino Rossi Positif Covid-19)
"Kalau ditanya berapa jauh Jakarta-Bandung? Jawaban konvensional biasanya 130 kilometer, tetapi di masa depan jawabannya adalah 36 menit. Jadi, waktu akan menjadi kata kunci baru dalam mempersepsikan sebuah jarak (di masa depan)," tandasnya.
Menanggapi permintaan Kang Emil, Direktur Prasarana Perkeretaapian Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Republik Indonesia, Heru Wisnu Wibowo berharap, keputusan soal moda transportasi penghubung Stasiun Tegalluar ke stasiun di pusat Kota Bandung dapat diperoleh bulan depan.
Lihat Juga :