Perkuat Teknologi Gojek SHIELD untuk Lindungi Mitra dari Kejahatan Siber
Rabu, 14 Oktober 2020 - 09:43 WIB
loading...
Gojek SHIELD merupakan teknologi keamanan yang menjamin keamanan pengguna saat menggunakan aplikasi Gojek.Foto/ist
A
A
A
SURABAYA - Pandemi COVID-19 telah mengubah perilaku masyarakat menjadi pengguna aktif internet. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyebutkan, penggunaan internet meningkat 40%. Akses yang biasanya didominasi dari kawasan perkantoran kini didominasi dari kawasan pemukiman.
Namun, tingkat penggunaan internet tersebut tidak seimbang dengan pengetahuan mengenai cara beraktivitas daring yang aman. Centre for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatat kejahatan siber termasuk penipuan rekayasa sosial juga meningkat terutama menyasar pembelanjaan barang medis dan kebutuhan sehari-hari.
(Baca juga: Mengaspal di Jatim, Ini Harga Suzuki Karimun Wagon R 50th Anniversary Edition )
Adjunct Researcher CfDS UGM Ir Tony Seno Hartono, M. Ikom menjelaskan, pengetahuan yang minim mengenai keamanan daring, memperbesar potensi kejahatan penipuan berteknik memanipulasi psikologis (magis). Teknik ini sifatnya sederhana, tidak perlu meretas sistem namun dampaknya luar biasa. “Kami mengamati selama masa pandemi penipuan jenis ini tetap ada dan cenderung meningkat,” katanya, Rabu (14/10/2020).
Teknik manipulasi psikologis, kata Tony, merupakan teknik lama yang menyasar pengguna yang kurang waspada dalam bertransaksi daring. Caranya, dengan memancing korban untuk memberikan informasi pribadi seperti nomor rekening, nomor kartu ATM bahkan sampai password dan nama ibu kandung.
“Umumnya pelaku menggunakan iming-iming atau mengatasnamakan lembaga resmi. Sekarang mereka biasanya mengatasnamakan aplikasi tertentu atau lembaga tertentu, kalau dulu modusnya mama minta pulsa atau saudara sedang sakit,” ungkapnya.
(Baca juga: Terobosan Pandemi, Pemkab Blitar Perluas Pasar Telur ke Indonesia Timur )
Namun, tingkat penggunaan internet tersebut tidak seimbang dengan pengetahuan mengenai cara beraktivitas daring yang aman. Centre for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatat kejahatan siber termasuk penipuan rekayasa sosial juga meningkat terutama menyasar pembelanjaan barang medis dan kebutuhan sehari-hari.
(Baca juga: Mengaspal di Jatim, Ini Harga Suzuki Karimun Wagon R 50th Anniversary Edition )
Adjunct Researcher CfDS UGM Ir Tony Seno Hartono, M. Ikom menjelaskan, pengetahuan yang minim mengenai keamanan daring, memperbesar potensi kejahatan penipuan berteknik memanipulasi psikologis (magis). Teknik ini sifatnya sederhana, tidak perlu meretas sistem namun dampaknya luar biasa. “Kami mengamati selama masa pandemi penipuan jenis ini tetap ada dan cenderung meningkat,” katanya, Rabu (14/10/2020).
Teknik manipulasi psikologis, kata Tony, merupakan teknik lama yang menyasar pengguna yang kurang waspada dalam bertransaksi daring. Caranya, dengan memancing korban untuk memberikan informasi pribadi seperti nomor rekening, nomor kartu ATM bahkan sampai password dan nama ibu kandung.
“Umumnya pelaku menggunakan iming-iming atau mengatasnamakan lembaga resmi. Sekarang mereka biasanya mengatasnamakan aplikasi tertentu atau lembaga tertentu, kalau dulu modusnya mama minta pulsa atau saudara sedang sakit,” ungkapnya.
(Baca juga: Terobosan Pandemi, Pemkab Blitar Perluas Pasar Telur ke Indonesia Timur )
Lihat Juga :