Kelola 15 Kios, Begini Cerita Pedagang Batik di PGC Bertahan Selama Pandemi Corona
Senin, 12 Oktober 2020 - 19:28 WIB
loading...
Tujuh bulan PSBB diberlakukan di Jakarta membuat pedagang batik di PCG kelimpungan. Pasalnya, pengeluarannya tak sebanding dengan omzetnya. Foto: Okto Rizki Alpino/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Sudah tujuh bulan lamanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan di wilayah DKI Jakarta sejak April 2020. Hal itu berdampak bagi seluruh pelaku usaha tak terkecuali Muhammad Hengky pedagang batik yang memiliki 15 kios di Pusat Grosir Cililitan (PGC) , Jakarta Timur.
Sejak awal PSBB diterapkan pendapatannya selalu menurun. Hingga pada sampai puncaknya Hengky yang mengelola 15 kios di PGC itu hanya mendapatkan omzet sekitar Rp1,5 juta. (Baca juga: PSBB Dilonggarkan, Pedagang PGC Prediksi Pembeli Ramai Awal November )
"Omzetnya paling cuma 15 persen, dari pendapatan sehari itu Rp10 juta. Jadi sejak ada Corona turun drastis," kata Hengky di PGC, Jakarta Timur, Senin (12/10/2020). (Baca juga: PSBB Transisi, Pemkot Jakut Enggak Akan Kasih Kendor Razia Masker )
Menurut Hengky, dengan omzet Rp1,5 juta membuat usahanya tidak berjalan baik. Berbagai cara dilakukan untuk bertahan di tengah pandemi, salah satunya memakai uang pribadi untuk menutupi biaya operasional.
"Omzet cuma Rp1,5 jutaan. Belum lagi harus membayar servis perawatan gedung, terpaksa ditopang dari tabungan kita," ujarnya. (Baca infografis: Jakarta Berlakukan PSBB Transisi, Rem Darurat Dilonggarkan )
Sejak awal PSBB diterapkan pendapatannya selalu menurun. Hingga pada sampai puncaknya Hengky yang mengelola 15 kios di PGC itu hanya mendapatkan omzet sekitar Rp1,5 juta. (Baca juga: PSBB Dilonggarkan, Pedagang PGC Prediksi Pembeli Ramai Awal November )
"Omzetnya paling cuma 15 persen, dari pendapatan sehari itu Rp10 juta. Jadi sejak ada Corona turun drastis," kata Hengky di PGC, Jakarta Timur, Senin (12/10/2020). (Baca juga: PSBB Transisi, Pemkot Jakut Enggak Akan Kasih Kendor Razia Masker )
Menurut Hengky, dengan omzet Rp1,5 juta membuat usahanya tidak berjalan baik. Berbagai cara dilakukan untuk bertahan di tengah pandemi, salah satunya memakai uang pribadi untuk menutupi biaya operasional.
"Omzet cuma Rp1,5 jutaan. Belum lagi harus membayar servis perawatan gedung, terpaksa ditopang dari tabungan kita," ujarnya. (Baca infografis: Jakarta Berlakukan PSBB Transisi, Rem Darurat Dilonggarkan )
Lihat Juga :