Langit Biru, Bukan Mimpi di Rumah Kaca
Kamis, 24 September 2020 - 13:44 WIB
loading...
A
A
A
Desa Tarikolot termasuk kawasan penghasil gula aren. Pada kondisi normal, produksi gula aren bisa mencapai 350 kg per hari. Gula tersebut dihasilkan oleh sekitar 25 perajin yang menggantungkan hidupnya dari komoditi ini. Pohon aren di desanya juga banyak diburu untuk dijadikan sagu.
Selain itu, kayu jenis sengon dari Desa Tarikolot juga menjadi incaran pembeli dari luar daerah. Kontur tanah dan kualitas lingkungan yang bersih, membuat pohon sengon tumbuh tinggi dan besar. Selain sengon, kayu albasia dan jati juga cukup banyak. Begitupun bambu yang masih tumbuh subur dan kuat. Bambu di desanya layak dijadikan bahan baku produk kerajinan seperti tusuk gigi, sumpit, dan lainnya.
Dia mengaku, menjadi tanggung jawab bersama menjaga lingkungan di desanya tetap bersih. Apalagi jalan di desanya saat ini adalah salah satu jalur menuju kawasan wisata Waduk Jatigede. Dalam waktu dekat, pemerintah akan melakukan pelebaran jalan menjadi 30 meter. Bila terealisasi, diperkirakan bakal banyak kendaraan melintas di kawasan ini.
"Saya bersyukur ketika Pertamina datang ke desa kami, menawarkan kemitraan dengan BUMDes Tarikolot. Setidaknya kami bisa lebih awal mengedukasi warga agar menggunakan bahan bakar ramah lingkungan. Selain menambah pemasukan bagi desa kami," imbuh dia.
Layani Daerah Pelosok
Pertashop di Desa Tarikolot merupakan satu dari 31 unit stasiun bahan bakar mini yang ada di Jawa Barat. Selain di Sumedang, Pertashop Pertamina juga hadir di pelosok Garut, Gunung Halu Bandung Barat, dan lainnya. Pertamina Marketing Operation Region (MOR) III menargetkan membangun 36 Pertashop hingga akhir tahun ini. (Baca: Jalan Trans Sulawesi Palopo-Toraja Putus, Pasokan BBM-LPG Tetap Aman)
"Pertashop memang ditujukan bagi masyarakat desa yang domisilinya jauh dari SPBU, sehingga mereka bisa mendapatkan produk Pertamina dengan harga sama di SPBU. Ini komitmen kami mendistribusikan BBM ke seluruh wilayah Indonesia, dengan kebijakan satu harga," kata Unit Manager Communication Relations & CSR PT Pertamina MOR III Eko Kristiawan, Selasa (22/9/2020).
Pertashop juga merupakan upaya Pertamina merealisasikan program One Village One Outlet (OVOO) dalam rangka memastikan pelayanan Pertamina hingga ke perdesaan. Program ini tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman antara Pertamina dan Kementerian Dalam Negeri untuk memperluas pelayanan BBM satu harga dan distribusi LPG hingga pelosok negeri.
Pertashop dengan BBM jenis Pertamax di perdesaan adalah langkah konkret Pertamina mengedukasi dan mengajak masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan, menggunakan BBM sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraannya. Menggunakan Pertamax, akan menjaga performa kendaraan dan memperpanjang masa pakai mesin. Standar mesin Euro tinggi juga turut menjaga ekosistem lingkungan dengan mengurangi gas buang emisi karbon ke udara, sejalan kampanye langit biru.
Saat ini, volume konsumsi Pertamax (RON 92) dan Pertamax Turbo (RON 98) di wilayah kerja MOR III termasuk Jawa Barat mencapai hampir 20% dibandingkan konsumsi BBM jenis gasoline lainnya. Beberapa kilang minyak Pertamina mampu memproduksi BBM dengan kadar RON di atas 95 atau setara Standar Emisi Euro IV. Misalnya kilang minyak Cilacap dengan kapasitas produksi total 348.000 barel per hari.
Transformasi Energi
Pengamat Energi dari Universitas Trisakti, Komaidi Notonegoro mengatakan, program Pertashop adalah strategi pemerintah dan Pertamina yang cukup bagus dalam mewujudkan program langit biru, di samping program BBM satu harga.
"Pertashop adalah langkah bagus mengedukasi masyarakat di perdesaan agar menggunakan BBM ramah lingkungan. Kalau mereka sudah terbiasa, harapannya akan lebih mudah melakukan migrasi," jelas Komaidi.
Menurut dia, menggunakan bahan bakar ramah lingkungan sudah menjadi konsensus dunia. Tujuannya menjaga ekosistem bumi tetap sehat untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di dalamnya. Penggunaan BBM RON rendah seperti Premium (RON 88), akan memperbesar efek rumah kaca, polusi udara, dan mempercepat pemanasan global.
Data yang diterbitkan IQAir Air Visual tahun 2019, menempatkan Indonesia pada peringkat keenam dunia, dengan kualitas udara terburuk. Kualitas udara di kota besar juga terus menurun sebelum pandemi COVID-19. Buruknya kualitas udara menyebabkan penyakit pernapasan seperti asma, kanker paru-paru, hingga penyakit jantung. Kanker paru-paru merupakan satu dari lima penyakit yang menyebabkan kematian terbesar di Indonesia.
Saat ini, kata dia, tersisa tujuh negara termasuk Indonesia yang masih menggunakan BBM dengan RON di bawah 90. Selain Indonesia, negara lainnya di Asia adalah Bangladesh. Negara-negara di Eropa, bahkan sudah mulai menggunakan Standar Emisi Euro V hingga VI B. Berbeda dengan Indonesia yang masih menggunakan mesin kendaraan Standar Emisi Euro II.
Pemerintah sebenarnya telah memiliki aturan tentang Standar Emisi Euro IV. Tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O.
Selain itu, kayu jenis sengon dari Desa Tarikolot juga menjadi incaran pembeli dari luar daerah. Kontur tanah dan kualitas lingkungan yang bersih, membuat pohon sengon tumbuh tinggi dan besar. Selain sengon, kayu albasia dan jati juga cukup banyak. Begitupun bambu yang masih tumbuh subur dan kuat. Bambu di desanya layak dijadikan bahan baku produk kerajinan seperti tusuk gigi, sumpit, dan lainnya.
Dia mengaku, menjadi tanggung jawab bersama menjaga lingkungan di desanya tetap bersih. Apalagi jalan di desanya saat ini adalah salah satu jalur menuju kawasan wisata Waduk Jatigede. Dalam waktu dekat, pemerintah akan melakukan pelebaran jalan menjadi 30 meter. Bila terealisasi, diperkirakan bakal banyak kendaraan melintas di kawasan ini.
"Saya bersyukur ketika Pertamina datang ke desa kami, menawarkan kemitraan dengan BUMDes Tarikolot. Setidaknya kami bisa lebih awal mengedukasi warga agar menggunakan bahan bakar ramah lingkungan. Selain menambah pemasukan bagi desa kami," imbuh dia.
Layani Daerah Pelosok
Pertashop di Desa Tarikolot merupakan satu dari 31 unit stasiun bahan bakar mini yang ada di Jawa Barat. Selain di Sumedang, Pertashop Pertamina juga hadir di pelosok Garut, Gunung Halu Bandung Barat, dan lainnya. Pertamina Marketing Operation Region (MOR) III menargetkan membangun 36 Pertashop hingga akhir tahun ini. (Baca: Jalan Trans Sulawesi Palopo-Toraja Putus, Pasokan BBM-LPG Tetap Aman)
"Pertashop memang ditujukan bagi masyarakat desa yang domisilinya jauh dari SPBU, sehingga mereka bisa mendapatkan produk Pertamina dengan harga sama di SPBU. Ini komitmen kami mendistribusikan BBM ke seluruh wilayah Indonesia, dengan kebijakan satu harga," kata Unit Manager Communication Relations & CSR PT Pertamina MOR III Eko Kristiawan, Selasa (22/9/2020).
Pertashop juga merupakan upaya Pertamina merealisasikan program One Village One Outlet (OVOO) dalam rangka memastikan pelayanan Pertamina hingga ke perdesaan. Program ini tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman antara Pertamina dan Kementerian Dalam Negeri untuk memperluas pelayanan BBM satu harga dan distribusi LPG hingga pelosok negeri.
Pertashop dengan BBM jenis Pertamax di perdesaan adalah langkah konkret Pertamina mengedukasi dan mengajak masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan, menggunakan BBM sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraannya. Menggunakan Pertamax, akan menjaga performa kendaraan dan memperpanjang masa pakai mesin. Standar mesin Euro tinggi juga turut menjaga ekosistem lingkungan dengan mengurangi gas buang emisi karbon ke udara, sejalan kampanye langit biru.
Saat ini, volume konsumsi Pertamax (RON 92) dan Pertamax Turbo (RON 98) di wilayah kerja MOR III termasuk Jawa Barat mencapai hampir 20% dibandingkan konsumsi BBM jenis gasoline lainnya. Beberapa kilang minyak Pertamina mampu memproduksi BBM dengan kadar RON di atas 95 atau setara Standar Emisi Euro IV. Misalnya kilang minyak Cilacap dengan kapasitas produksi total 348.000 barel per hari.
Transformasi Energi
Pengamat Energi dari Universitas Trisakti, Komaidi Notonegoro mengatakan, program Pertashop adalah strategi pemerintah dan Pertamina yang cukup bagus dalam mewujudkan program langit biru, di samping program BBM satu harga.
"Pertashop adalah langkah bagus mengedukasi masyarakat di perdesaan agar menggunakan BBM ramah lingkungan. Kalau mereka sudah terbiasa, harapannya akan lebih mudah melakukan migrasi," jelas Komaidi.
Menurut dia, menggunakan bahan bakar ramah lingkungan sudah menjadi konsensus dunia. Tujuannya menjaga ekosistem bumi tetap sehat untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di dalamnya. Penggunaan BBM RON rendah seperti Premium (RON 88), akan memperbesar efek rumah kaca, polusi udara, dan mempercepat pemanasan global.
Data yang diterbitkan IQAir Air Visual tahun 2019, menempatkan Indonesia pada peringkat keenam dunia, dengan kualitas udara terburuk. Kualitas udara di kota besar juga terus menurun sebelum pandemi COVID-19. Buruknya kualitas udara menyebabkan penyakit pernapasan seperti asma, kanker paru-paru, hingga penyakit jantung. Kanker paru-paru merupakan satu dari lima penyakit yang menyebabkan kematian terbesar di Indonesia.
Saat ini, kata dia, tersisa tujuh negara termasuk Indonesia yang masih menggunakan BBM dengan RON di bawah 90. Selain Indonesia, negara lainnya di Asia adalah Bangladesh. Negara-negara di Eropa, bahkan sudah mulai menggunakan Standar Emisi Euro V hingga VI B. Berbeda dengan Indonesia yang masih menggunakan mesin kendaraan Standar Emisi Euro II.
Pemerintah sebenarnya telah memiliki aturan tentang Standar Emisi Euro IV. Tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O.
Lihat Juga :