Di Kongres Nasional PMKRI, Sudirman Said Ajak Mahasiswa Bangun Kepemimpinan Intrinsik
Kamis, 23 Juli 2026 - 07:35 WIB
loading...
Rektor UHN Sudirman Said mengajak mahasiswa membangun kepemimpinan intrinsik, dari nilai dan karakter yang dibangun sendiri oleh seseorang dari waktu ke waktu. Foto/Ist
A
A
A
MANGGARAI - Krisis kepercayaan pada institusi negara membuat gagasan kepemimpinan yang tidak bergantung pada jabatan kembali relevan dibicarakan. Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN) Sudirman Said mengajak aktivis mahasiswa membangun kepemimpinan intrinsik, yaitu kepemimpinan yang sumber kekuatannya bukan otoritas formal, melainkan nilai dan karakter yang dibangun sendiri oleh seseorang dari waktu ke waktu.
Hal itu disampaikan di hadapan ratusan delegasi Kongres Nasional Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ke-34 di di Unika Indonesia St Paulus Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa 21 Juli 2026.
Baca juga: Prabowo Dukung TNI-Polri Ciptakan Kepemimpinan yang Kuat, Bijaksana, dan Adaptif
“Kita patut syukuri semua kemajuan yang telah kita capai sebagai bangsa. Tetapi harus kita sadari bahwa keadaan kita saat ini tidak sedang baik-baik saja,” kata Sudirman dalam keterangannya, dikutip Kamis (23/7/2026).
Sudirman memaparkan dalam sepuluh tahun terakhir, seiring pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen per tahun, peringkat Indeks Persepsi Korupsi justru anjlok dari 88 ke 109. Satu persen orang terkaya menguasai lebih dari separuh ekonomi nasional, kelompok miskin bertambah lebih dari 10 juta orang, dan sekitar 19 juta lulusan SMA berstatus tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan apa pun.
Gejolak pasar keuangan turut jadi buktinya. Bank Indonesia berulang kali menggelontorkan cadangan devisa untuk menahan pelemahan rupiah, namun hasilnya tetap menjadi salah satu periode terburuk dalam sejarah pasar modal domestik.
Baca juga: Pidato Presiden Prabowo di WEF 2026 Penegasan Arah Baru Kepemimpinan Indonesia
"Negara boleh membungkam para intelektual, boleh menyingkirkan para aktivis, boleh mengendalikan partai-partai, boleh membuat parlemen itu lumpuh, boleh mencengkeram penegak hukum. Yang tidak bisa diatur adalah pasar. Pasar adalah pengontrol atau penyeimbang yang sangat kuat, dan ini buktinya bahwa akibat dari praktik korupsi, akibat dari tata kelola yang lemah, akibat dari indeks demokrasi yang menurun, inilah hasilnya," jelas Sudirman.
Di tengah gambaran suram itu, Sudirman tetap meyakini ada alasan untuk optimistis, digali dari sejarah bangsa ini. Setiap lompatan besar Indonesia, dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, hingga Reformasi, selalu digerakkan oleh kaum muda dan kaum terpelajar.
Menurutnya, modal generasi sekarang jauh lebih besar dibanding 1908, saat hampir seluruh penduduk buta huruf dan cuma ada 178 mahasiswa pribumi di seluruh negeri. Hari ini Indonesia punya sekitar 25 juta mahasiswa dan hampir 3.000 perguruan tinggi.
"Secara keseluruhan kita punya kemauan untuk mendobrak, melawan status quo, dan melakukan perbaikan," katanya, mengutip pesan lama Bung Karno dan Bung Hatta bahwa perjuangan generasi sekarang justru lebih berat karena lawannya bukan penjajah asing, melainkan korupsi, penindasan, dan ketimpangan yang tumbuh dari bangsa sendiri.
Sayangnya, kata Sudirman, capaian demokrasi hasil reformasi tidak dirawat baik dalam satu dekade terakhir. Ia menyebut kondisi ini sebagai lubang hitam yang harus segera diangkat keluar. Dari situ menawarkan tiga model kepemimpinan yang mesti tumbuh bersamaan: institusional, yang membenahi kelembagaan rusak; kolektif, karena tidak ada satu tokoh pun yang sanggup membereskan persoalan sebesar ini sendirian; dan yang paling ia tekankan malam itu, kepemimpinan intrinsik.
"Yang disebut kepemimpinan intrinsik adalah kepemimpinan yang dasarnya bukan jabatan, bukan otoritas, tapi nilai-nilai, integritas, kompetensi, dan kemampuan menggerakkan. Diikuti karena pengaruh, karena wibawa, bukan karena kekuasaan. Diikuti karena rasa hormat, bukan karena rasa takut atau kepatuhan. Basisnya adalah kekuatan personal, bukan kekuatan jabatan, dan personal power melekat pada diri kita, tidak peduli apakah kita naik, turun, bergeser, berhenti bekerja, atau pensiun," jelas Sudirman.
Pesan senada datang dari sejumlah tokoh lain yang turut hadir dan memberi sambutan. Rektor IFTK Ledalero Prof. Dr. Otto Gusti Madung SVD menegaskan posisi PMKRI sebagai ruang pembentukan karakter kebangsaan. "PMKRI bukan saja organisasi kemahasiswaan, tetapi merupakan sekolah demokrasi yang harus menjadi jalan bagi kembalinya moralitas dalam bernegara," katanya.
Romo Dr. Agustinus Setyo Wibowo SJ mengingatkan agar perbaikan bangsa tidak menunggu keadaan memburuk lebih dulu. "Banyak negara dan bangsa yang melakukan pembenahan mendasar karena dipaksa keadaan. Kita tidak ingin Indonesia harus mengalami penderitaan, baru kita sadar untuk menata diri. Ongkosnya akan terlalu mahal," ujarnya.
Sementara itu, Rektor Unika Indonesia Santu Paulus Ruteng Romo Dr. Manfred A. Habur menitipkan pesan agar nilai keagamaan tidak lepas dari peran para kader PMKRI ke depan. "Ajaran sosial gereja harus menjadi pijakan moral bagi para aktivis PMKRI, untuk mengemban panggilan kepemimpinan ke depan," katanya.
Ia juga berpesan agar mahasiswa terus mengasah gagasan dan membangun jembatan ketimbang tembok. "Jaga integritas, bangun kompetensi, perbanyak jejaring, tapi benamkan ego, benamkan kepentingan diri sendiri," tutupnya.
Kongres di Ruteng itu turut dihadiri Rektor Unika Indonesia Santu Paulus Ruteng Romo Dr. Manfred A. Habur beserta jajaran pejabat struktural kampus, Romo Dr. Agustinus Setyo Wibowo SJ, anggota DPR RI Benny K. Harman, Rektor IFTK Ledalero Prof. Dr. Otto Gusti Madung SVD, Ketua Presidium Nasional PMKRI Susana Florika Kandaimu, ratusan delegasi peserta kongres dari seluruh Indonesia, serta civitas akademika Unika Indonesia Santo Paulus Ruteng.
Hal itu disampaikan di hadapan ratusan delegasi Kongres Nasional Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ke-34 di di Unika Indonesia St Paulus Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa 21 Juli 2026.
Baca juga: Prabowo Dukung TNI-Polri Ciptakan Kepemimpinan yang Kuat, Bijaksana, dan Adaptif
“Kita patut syukuri semua kemajuan yang telah kita capai sebagai bangsa. Tetapi harus kita sadari bahwa keadaan kita saat ini tidak sedang baik-baik saja,” kata Sudirman dalam keterangannya, dikutip Kamis (23/7/2026).
Sudirman memaparkan dalam sepuluh tahun terakhir, seiring pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen per tahun, peringkat Indeks Persepsi Korupsi justru anjlok dari 88 ke 109. Satu persen orang terkaya menguasai lebih dari separuh ekonomi nasional, kelompok miskin bertambah lebih dari 10 juta orang, dan sekitar 19 juta lulusan SMA berstatus tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan apa pun.
Gejolak pasar keuangan turut jadi buktinya. Bank Indonesia berulang kali menggelontorkan cadangan devisa untuk menahan pelemahan rupiah, namun hasilnya tetap menjadi salah satu periode terburuk dalam sejarah pasar modal domestik.
Baca juga: Pidato Presiden Prabowo di WEF 2026 Penegasan Arah Baru Kepemimpinan Indonesia
"Negara boleh membungkam para intelektual, boleh menyingkirkan para aktivis, boleh mengendalikan partai-partai, boleh membuat parlemen itu lumpuh, boleh mencengkeram penegak hukum. Yang tidak bisa diatur adalah pasar. Pasar adalah pengontrol atau penyeimbang yang sangat kuat, dan ini buktinya bahwa akibat dari praktik korupsi, akibat dari tata kelola yang lemah, akibat dari indeks demokrasi yang menurun, inilah hasilnya," jelas Sudirman.
Di tengah gambaran suram itu, Sudirman tetap meyakini ada alasan untuk optimistis, digali dari sejarah bangsa ini. Setiap lompatan besar Indonesia, dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, hingga Reformasi, selalu digerakkan oleh kaum muda dan kaum terpelajar.
Menurutnya, modal generasi sekarang jauh lebih besar dibanding 1908, saat hampir seluruh penduduk buta huruf dan cuma ada 178 mahasiswa pribumi di seluruh negeri. Hari ini Indonesia punya sekitar 25 juta mahasiswa dan hampir 3.000 perguruan tinggi.
"Secara keseluruhan kita punya kemauan untuk mendobrak, melawan status quo, dan melakukan perbaikan," katanya, mengutip pesan lama Bung Karno dan Bung Hatta bahwa perjuangan generasi sekarang justru lebih berat karena lawannya bukan penjajah asing, melainkan korupsi, penindasan, dan ketimpangan yang tumbuh dari bangsa sendiri.
Sayangnya, kata Sudirman, capaian demokrasi hasil reformasi tidak dirawat baik dalam satu dekade terakhir. Ia menyebut kondisi ini sebagai lubang hitam yang harus segera diangkat keluar. Dari situ menawarkan tiga model kepemimpinan yang mesti tumbuh bersamaan: institusional, yang membenahi kelembagaan rusak; kolektif, karena tidak ada satu tokoh pun yang sanggup membereskan persoalan sebesar ini sendirian; dan yang paling ia tekankan malam itu, kepemimpinan intrinsik.
"Yang disebut kepemimpinan intrinsik adalah kepemimpinan yang dasarnya bukan jabatan, bukan otoritas, tapi nilai-nilai, integritas, kompetensi, dan kemampuan menggerakkan. Diikuti karena pengaruh, karena wibawa, bukan karena kekuasaan. Diikuti karena rasa hormat, bukan karena rasa takut atau kepatuhan. Basisnya adalah kekuatan personal, bukan kekuatan jabatan, dan personal power melekat pada diri kita, tidak peduli apakah kita naik, turun, bergeser, berhenti bekerja, atau pensiun," jelas Sudirman.
Pesan senada datang dari sejumlah tokoh lain yang turut hadir dan memberi sambutan. Rektor IFTK Ledalero Prof. Dr. Otto Gusti Madung SVD menegaskan posisi PMKRI sebagai ruang pembentukan karakter kebangsaan. "PMKRI bukan saja organisasi kemahasiswaan, tetapi merupakan sekolah demokrasi yang harus menjadi jalan bagi kembalinya moralitas dalam bernegara," katanya.
Romo Dr. Agustinus Setyo Wibowo SJ mengingatkan agar perbaikan bangsa tidak menunggu keadaan memburuk lebih dulu. "Banyak negara dan bangsa yang melakukan pembenahan mendasar karena dipaksa keadaan. Kita tidak ingin Indonesia harus mengalami penderitaan, baru kita sadar untuk menata diri. Ongkosnya akan terlalu mahal," ujarnya.
Sementara itu, Rektor Unika Indonesia Santu Paulus Ruteng Romo Dr. Manfred A. Habur menitipkan pesan agar nilai keagamaan tidak lepas dari peran para kader PMKRI ke depan. "Ajaran sosial gereja harus menjadi pijakan moral bagi para aktivis PMKRI, untuk mengemban panggilan kepemimpinan ke depan," katanya.
Ia juga berpesan agar mahasiswa terus mengasah gagasan dan membangun jembatan ketimbang tembok. "Jaga integritas, bangun kompetensi, perbanyak jejaring, tapi benamkan ego, benamkan kepentingan diri sendiri," tutupnya.
Kongres di Ruteng itu turut dihadiri Rektor Unika Indonesia Santu Paulus Ruteng Romo Dr. Manfred A. Habur beserta jajaran pejabat struktural kampus, Romo Dr. Agustinus Setyo Wibowo SJ, anggota DPR RI Benny K. Harman, Rektor IFTK Ledalero Prof. Dr. Otto Gusti Madung SVD, Ketua Presidium Nasional PMKRI Susana Florika Kandaimu, ratusan delegasi peserta kongres dari seluruh Indonesia, serta civitas akademika Unika Indonesia Santo Paulus Ruteng.
(shf)
Lihat Juga :