PINTU Kolaborasi dengan Universitas Paramadina Beri Edukasi Literasi Digital ke Warga Bekasi
Senin, 13 Juli 2026 - 21:12 WIB
loading...
A
A
A
“Kita tahu hampir setiap orang saat ini menghabiskan waktunya berlama-lama di sosial media, maka itu perlu untuk melindungi kita semua dari praktik penipuan digital,” ucapnya.
Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina Rini Sudarmanti mengatakan, masyarakat, khususnya Ibu-ibu perlu mengenali ciri hoaks agar tidak terjebak informasi keliru. “Kita harus curiga jika ada judul lebay, foto atau video hasil rekayasa AI, serta sumber hantu yang tidak jelas nama ahlinya. Waspadai juga narasi bombastis yang memaksa untuk menyebarkan berita demi memicu kepanikan,” ungkapnya.
Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Kemkomdigi Dimas Aditya Nugraha menambahkan mayoritas orang Indonesia ketika dapat informasi yang bersifat hoaks, kemampuan identifikasinya itu beragam. Sekitar 7% sangat yakin dengan informasi tersebut, 25% yakin, dan 45% bimbang antara yakin dan tidak yakin. “Jadi sangat penting bagi kita melakukan saring sebelum sharing agar terhindar dari praktik manipulasi informasi,” katanya.
Senior Product Marketing Specialist PINTU Reyner Jonathan memberikan tips bagi peserta untuk terhindar dari penipuan dalam finansial serta manfaat penggunaan AI, “Banyak sekali penipuan yang menggunakan AI yang juga menyasar kalangan ibu-ibu. Pertama jika mendapatkan informasi yang belum jelas sumbernya, tanamkan sifat tidak mudah percaya, kedua jangan panik, ketiga cek sumbernya, lihat nomornya, jika mengatasnamakan institusi tertentu bisa dicek dulu ini benar nomor resminya atau bukan, dan jangan klik link sembarang maupun link phishing," ujarnya.
Reyner menambahkan AI juga memiliki banyak manfaat bisa dipergunakan untuk hal yang positif. Misalnya bagi ibu-ibu yang suka masak bisa bertanya resep masakan, atau bagi yang sedang mencari barang tertentu dan ingin melakukan komparasi produknya, bisa menggunakan AI. Terakhir bisa mendukung untuk berjualan seperti membuatkan caption untuk media sosial, menghitung pembukuan, dan lain-lainnya. Jadi AI ini hanya alat yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif.
Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina Rini Sudarmanti mengatakan, masyarakat, khususnya Ibu-ibu perlu mengenali ciri hoaks agar tidak terjebak informasi keliru. “Kita harus curiga jika ada judul lebay, foto atau video hasil rekayasa AI, serta sumber hantu yang tidak jelas nama ahlinya. Waspadai juga narasi bombastis yang memaksa untuk menyebarkan berita demi memicu kepanikan,” ungkapnya.
Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Kemkomdigi Dimas Aditya Nugraha menambahkan mayoritas orang Indonesia ketika dapat informasi yang bersifat hoaks, kemampuan identifikasinya itu beragam. Sekitar 7% sangat yakin dengan informasi tersebut, 25% yakin, dan 45% bimbang antara yakin dan tidak yakin. “Jadi sangat penting bagi kita melakukan saring sebelum sharing agar terhindar dari praktik manipulasi informasi,” katanya.
Senior Product Marketing Specialist PINTU Reyner Jonathan memberikan tips bagi peserta untuk terhindar dari penipuan dalam finansial serta manfaat penggunaan AI, “Banyak sekali penipuan yang menggunakan AI yang juga menyasar kalangan ibu-ibu. Pertama jika mendapatkan informasi yang belum jelas sumbernya, tanamkan sifat tidak mudah percaya, kedua jangan panik, ketiga cek sumbernya, lihat nomornya, jika mengatasnamakan institusi tertentu bisa dicek dulu ini benar nomor resminya atau bukan, dan jangan klik link sembarang maupun link phishing," ujarnya.
Reyner menambahkan AI juga memiliki banyak manfaat bisa dipergunakan untuk hal yang positif. Misalnya bagi ibu-ibu yang suka masak bisa bertanya resep masakan, atau bagi yang sedang mencari barang tertentu dan ingin melakukan komparasi produknya, bisa menggunakan AI. Terakhir bisa mendukung untuk berjualan seperti membuatkan caption untuk media sosial, menghitung pembukuan, dan lain-lainnya. Jadi AI ini hanya alat yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif.
(jon)
Lihat Juga :