PINTU Kolaborasi dengan Universitas Paramadina Beri Edukasi Literasi Digital ke Warga Bekasi
Senin, 13 Juli 2026 - 21:12 WIB
loading...
PINTU, platform investasi aset crypto yang berizin dan diawasi OJK berkolaborasi dengan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina mendukung peningkatan literasi digital masyarakat. Foto: Ist
A
A
A
BEKASI - PT Pintu Kemana Saja (PINTU), platform investasi aset crypto yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berkolaborasi dengan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina mendukung peningkatan literasi digital masyarakat. Melalui program bertajuk “Cek Sebelum Cekcok”, program literasi tersebut berfokus pada penyuluhan mengenai kewaspadaan terhadap bahaya hoaks, deepfake video, hingga ancaman siber yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Kegiatan yang diselenggarakan pada Sabtu 4 Juli 2026 bertempat di Trimedia Green Park, Bintara, Bekasi, ini dihadiri sekitar 150 warga Kota Bekasi dan mendapat dukungan dari berbagai pihak di antaranya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang diwakili Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Kemkomdigi Dimas Aditya Nugraha.
Kemudian, Chairun Nisa selaku Anggota DPRD Kota Bekasi, Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina Dr Rini Sudarmanti, dan Reyner Jonathan selaku Senior Product Marketing Specialist Pintu.
Baca juga: Pintu-pintu Rezeki Manusia yang Allah Berikan
Chief Marketing Officer (CMO) PINTU Timothius Martin menjelaskan, kolaborasi PINTU dengan Universitas Paramadina merupakan bentuk komitmen serta tanggung jawab PINTU akan pentingnya literasi digital guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi ancaman siber.
“Tujuannya agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi untuk manfaat sebesar-besarnya. Kami berharap program ini dapat menjadi inspirasi serta landasan bagi masyarakat yang lebih cerdas digital,” ujarnya, Senin (13/7/2026).
Anggota DPRD Kota Bekasi Chairun Nisa menuturkan Kota Bekasi memiliki jumlah penduduk sebanyak 2,8 juta orang dengan pengguna internetnya ada 2,2 juta orang. Pihaknya bersyukur dikunjungi dan diadakan acara ini di Kota Bekasi.
“Kita tahu hampir setiap orang saat ini menghabiskan waktunya berlama-lama di sosial media, maka itu perlu untuk melindungi kita semua dari praktik penipuan digital,” ucapnya.
Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina Rini Sudarmanti mengatakan, masyarakat, khususnya Ibu-ibu perlu mengenali ciri hoaks agar tidak terjebak informasi keliru. “Kita harus curiga jika ada judul lebay, foto atau video hasil rekayasa AI, serta sumber hantu yang tidak jelas nama ahlinya. Waspadai juga narasi bombastis yang memaksa untuk menyebarkan berita demi memicu kepanikan,” ungkapnya.
Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Kemkomdigi Dimas Aditya Nugraha menambahkan mayoritas orang Indonesia ketika dapat informasi yang bersifat hoaks, kemampuan identifikasinya itu beragam. Sekitar 7% sangat yakin dengan informasi tersebut, 25% yakin, dan 45% bimbang antara yakin dan tidak yakin. “Jadi sangat penting bagi kita melakukan saring sebelum sharing agar terhindar dari praktik manipulasi informasi,” katanya.
Senior Product Marketing Specialist PINTU Reyner Jonathan memberikan tips bagi peserta untuk terhindar dari penipuan dalam finansial serta manfaat penggunaan AI, “Banyak sekali penipuan yang menggunakan AI yang juga menyasar kalangan ibu-ibu. Pertama jika mendapatkan informasi yang belum jelas sumbernya, tanamkan sifat tidak mudah percaya, kedua jangan panik, ketiga cek sumbernya, lihat nomornya, jika mengatasnamakan institusi tertentu bisa dicek dulu ini benar nomor resminya atau bukan, dan jangan klik link sembarang maupun link phishing," ujarnya.
Reyner menambahkan AI juga memiliki banyak manfaat bisa dipergunakan untuk hal yang positif. Misalnya bagi ibu-ibu yang suka masak bisa bertanya resep masakan, atau bagi yang sedang mencari barang tertentu dan ingin melakukan komparasi produknya, bisa menggunakan AI. Terakhir bisa mendukung untuk berjualan seperti membuatkan caption untuk media sosial, menghitung pembukuan, dan lain-lainnya. Jadi AI ini hanya alat yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif.
Kegiatan yang diselenggarakan pada Sabtu 4 Juli 2026 bertempat di Trimedia Green Park, Bintara, Bekasi, ini dihadiri sekitar 150 warga Kota Bekasi dan mendapat dukungan dari berbagai pihak di antaranya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang diwakili Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Kemkomdigi Dimas Aditya Nugraha.
Kemudian, Chairun Nisa selaku Anggota DPRD Kota Bekasi, Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina Dr Rini Sudarmanti, dan Reyner Jonathan selaku Senior Product Marketing Specialist Pintu.
Baca juga: Pintu-pintu Rezeki Manusia yang Allah Berikan
Chief Marketing Officer (CMO) PINTU Timothius Martin menjelaskan, kolaborasi PINTU dengan Universitas Paramadina merupakan bentuk komitmen serta tanggung jawab PINTU akan pentingnya literasi digital guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi ancaman siber.
“Tujuannya agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi untuk manfaat sebesar-besarnya. Kami berharap program ini dapat menjadi inspirasi serta landasan bagi masyarakat yang lebih cerdas digital,” ujarnya, Senin (13/7/2026).
Anggota DPRD Kota Bekasi Chairun Nisa menuturkan Kota Bekasi memiliki jumlah penduduk sebanyak 2,8 juta orang dengan pengguna internetnya ada 2,2 juta orang. Pihaknya bersyukur dikunjungi dan diadakan acara ini di Kota Bekasi.
“Kita tahu hampir setiap orang saat ini menghabiskan waktunya berlama-lama di sosial media, maka itu perlu untuk melindungi kita semua dari praktik penipuan digital,” ucapnya.
Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina Rini Sudarmanti mengatakan, masyarakat, khususnya Ibu-ibu perlu mengenali ciri hoaks agar tidak terjebak informasi keliru. “Kita harus curiga jika ada judul lebay, foto atau video hasil rekayasa AI, serta sumber hantu yang tidak jelas nama ahlinya. Waspadai juga narasi bombastis yang memaksa untuk menyebarkan berita demi memicu kepanikan,” ungkapnya.
Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Kemkomdigi Dimas Aditya Nugraha menambahkan mayoritas orang Indonesia ketika dapat informasi yang bersifat hoaks, kemampuan identifikasinya itu beragam. Sekitar 7% sangat yakin dengan informasi tersebut, 25% yakin, dan 45% bimbang antara yakin dan tidak yakin. “Jadi sangat penting bagi kita melakukan saring sebelum sharing agar terhindar dari praktik manipulasi informasi,” katanya.
Senior Product Marketing Specialist PINTU Reyner Jonathan memberikan tips bagi peserta untuk terhindar dari penipuan dalam finansial serta manfaat penggunaan AI, “Banyak sekali penipuan yang menggunakan AI yang juga menyasar kalangan ibu-ibu. Pertama jika mendapatkan informasi yang belum jelas sumbernya, tanamkan sifat tidak mudah percaya, kedua jangan panik, ketiga cek sumbernya, lihat nomornya, jika mengatasnamakan institusi tertentu bisa dicek dulu ini benar nomor resminya atau bukan, dan jangan klik link sembarang maupun link phishing," ujarnya.
Reyner menambahkan AI juga memiliki banyak manfaat bisa dipergunakan untuk hal yang positif. Misalnya bagi ibu-ibu yang suka masak bisa bertanya resep masakan, atau bagi yang sedang mencari barang tertentu dan ingin melakukan komparasi produknya, bisa menggunakan AI. Terakhir bisa mendukung untuk berjualan seperti membuatkan caption untuk media sosial, menghitung pembukuan, dan lain-lainnya. Jadi AI ini hanya alat yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif.
(jon)
Lihat Juga :