SMP IL Kapten Fatubaa NTT Raih Juara Utama di Kompetisi AIA Healthiest Schools 2026
Kamis, 09 Juli 2026 - 15:08 WIB
loading...
A
A
A
"Tindakan sederhana seperti makan lebih sehat, lebih aktif bergerak, dan menjaga kesehatan mental mungkin terlihat kecil. Namun ketika dilakukan secara konsisten di sekolah dan komunitas, tindakan tersebut mampu menciptakan perubahan perilaku dalam skala yang lebih luas," tuturnya.
Guru Sekolah SMP IL Kapten Fatubaa Antonius Kapitan mengaku tak menyangka bahwa sekolahnya dapat memenangkan penghargaan ini. “Kami para guru terutama para siswa hanya berusaha yang terbaik. Kami berusaha mengubah kulit pisang menjadi produk seperti es krim, pupuk cair, dan pupuk kompos,” ucapnya.
“Kami punya tugas melanjutkan projek ini karena tujuan kegiatan ini bukan untuk memenangkan penghargaan, namun untuk para siswa kami, masa depan mereka, dan komunitas di sekitar kami. Kami ingin terus berproduksi dan memberikan manfaat kepada lebih banyak siswa dan komunitas,” ujar Antonius.
SMP IL Kapten Fatubaa merupakan sekolah yang berada di wilayah perbatasan terpencil di Desa Fatubaa. Para siswa harus menempuh perjalanan sejauh 12 kilometer melewati jalan berbatu serta menyeberangi sungai selebar 48 meter tanpa jembatan untuk dapat mengikuti kegiatan belajar.
Sekolah ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur, rendahnya literasi lingkungan, terbatasnya akses air bersih, hingga pengelolaan sampah yang belum optimal, terutama limbah kulit pisang yang dihasilkan dari Gerakan Makan Sehat.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya kebutuhan akan solusi yang berkelanjutan dan relevan dengan kondisi setempat untuk meningkatkan kesadaran kesehatan, kepedulian lingkungan, serta keterampilan hidup siswa.
Dari kebutuhan tersebut lahirlah Huka Upcycling Project (HUP), yang diambil dari istilah bahasa Tetun Hudi Kakun, yang berarti kulit pisang. Berlandaskan semangat "from waste to wonder", proyek ini mengolah limbah organik menjadi tiga produk bernilai tambah, yaitu Huka Ice Cream, Huka Compost Fertiliser, dan Huka Liquid Fertiliser.
Program ini mengintegrasikan pembelajaran sains, pengembangan keterampilan praktis, serta pembelajaran Bahasa Indonesia sehingga siswa mampu melihat bagaimana sumber daya lokal dapat menjadi inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat di wilayah perbatasan.
HUP dijalankan melalui enam program strategis dan 20 kegiatan, meliputi perencanaan partisipatif, sosialisasi di lingkungan sekolah maupun lintas negara, skema donasi kulit pisang melalui sistem barter, hingga lokakarya produksi yang telah diverifikasi melalui pengujian laboratorium.
Produk HUP kini didistribusikan melalui dapur sekolah, NTT Mart, petani di wilayah perbatasan, serta koperasi lokal. Program ini melibatkan siswa, guru, orang tua, masyarakat Timor-Leste, petani, hingga mitra usaha. Lebih dari 1.000 orang telah merasakan manfaatnya. Para siswa mengalami peningkatan literasi lingkungan, keterampilan ekonomi sirkular, dan kepercayaan diri dalam berwirausaha.
Para guru memperkuat pembelajaran berbasis ekologi, keluarga mulai menerapkan praktik pengelolaan sampah yang lebih baik, petani meningkatkan kesuburan tanah melalui pupuk HUP, sementara masyarakat di wilayah perbatasan memperoleh ruang belajar bersama yang lebih inklusif.
Guru Sekolah SMP IL Kapten Fatubaa Antonius Kapitan mengaku tak menyangka bahwa sekolahnya dapat memenangkan penghargaan ini. “Kami para guru terutama para siswa hanya berusaha yang terbaik. Kami berusaha mengubah kulit pisang menjadi produk seperti es krim, pupuk cair, dan pupuk kompos,” ucapnya.
“Kami punya tugas melanjutkan projek ini karena tujuan kegiatan ini bukan untuk memenangkan penghargaan, namun untuk para siswa kami, masa depan mereka, dan komunitas di sekitar kami. Kami ingin terus berproduksi dan memberikan manfaat kepada lebih banyak siswa dan komunitas,” ujar Antonius.
SMP IL Kapten Fatubaa merupakan sekolah yang berada di wilayah perbatasan terpencil di Desa Fatubaa. Para siswa harus menempuh perjalanan sejauh 12 kilometer melewati jalan berbatu serta menyeberangi sungai selebar 48 meter tanpa jembatan untuk dapat mengikuti kegiatan belajar.
Sekolah ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur, rendahnya literasi lingkungan, terbatasnya akses air bersih, hingga pengelolaan sampah yang belum optimal, terutama limbah kulit pisang yang dihasilkan dari Gerakan Makan Sehat.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya kebutuhan akan solusi yang berkelanjutan dan relevan dengan kondisi setempat untuk meningkatkan kesadaran kesehatan, kepedulian lingkungan, serta keterampilan hidup siswa.
Dari kebutuhan tersebut lahirlah Huka Upcycling Project (HUP), yang diambil dari istilah bahasa Tetun Hudi Kakun, yang berarti kulit pisang. Berlandaskan semangat "from waste to wonder", proyek ini mengolah limbah organik menjadi tiga produk bernilai tambah, yaitu Huka Ice Cream, Huka Compost Fertiliser, dan Huka Liquid Fertiliser.
Program ini mengintegrasikan pembelajaran sains, pengembangan keterampilan praktis, serta pembelajaran Bahasa Indonesia sehingga siswa mampu melihat bagaimana sumber daya lokal dapat menjadi inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat di wilayah perbatasan.
HUP dijalankan melalui enam program strategis dan 20 kegiatan, meliputi perencanaan partisipatif, sosialisasi di lingkungan sekolah maupun lintas negara, skema donasi kulit pisang melalui sistem barter, hingga lokakarya produksi yang telah diverifikasi melalui pengujian laboratorium.
Produk HUP kini didistribusikan melalui dapur sekolah, NTT Mart, petani di wilayah perbatasan, serta koperasi lokal. Program ini melibatkan siswa, guru, orang tua, masyarakat Timor-Leste, petani, hingga mitra usaha. Lebih dari 1.000 orang telah merasakan manfaatnya. Para siswa mengalami peningkatan literasi lingkungan, keterampilan ekonomi sirkular, dan kepercayaan diri dalam berwirausaha.
Para guru memperkuat pembelajaran berbasis ekologi, keluarga mulai menerapkan praktik pengelolaan sampah yang lebih baik, petani meningkatkan kesuburan tanah melalui pupuk HUP, sementara masyarakat di wilayah perbatasan memperoleh ruang belajar bersama yang lebih inklusif.
Lihat Juga :