FKM UI Gelar Pelatihan K3 dan Kesiapsiagaan Kebakaran untuk Guru SMPN 107 Jakarta
Kamis, 02 Juli 2026 - 17:52 WIB
loading...
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menggelar pelatihan K3 dan kesiapsiagaan kebakaran untuk guru SMPN107 Jakarta. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) melalui Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menggelar pelatihan peningkatan kapasitas guru dalam program K3KITA 2.0. Pelatihan K3 dan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran ini diselenggarakan di SMP Negeri 107 Jakarta.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, serta Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (UI) sebagai bentuk komitmen dalam membangun budaya keselamatan di lingkungan sekolah.
Ketua Program K3KITA 2.0 sekaligus dosen Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja FKM UI Abdul Kadir bersama lima mahasiswa Program Studi K3 ini terdiri dari mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, tiga mahasiswa volunteer Program Studi K3, serta didukung anggota dosen Rahmi dari Universitas Indonesia dan Bangga Agung Satrya dari Universitas Esa Unggul.
Baca juga: UI Resmikan Arboretum Hutan, Ruang Terbuka Hijau untuk Edukasi hingga Healing
“Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas warga sekolah dalam menerapkan budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, khususnya kebakaran,” katanya, Kamis (2/7/2026).
Berbeda dengan hari pertama yang berfokus pada edukasi bagi siswa, kegiatan pada 18 Juni 2026 ditujukan kepada 45 guru dan tenaga kependidikan SMPN 107 Jakarta sebagai garda terdepan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan tanggap terhadap kondisi darurat.
Ketua Program K3KITA 2.0 Abdul Kadir menjelaskan guru memiliki peran strategis dalam membangun budaya keselamatan di sekolah. Budaya keselamatan tidak dapat dibangun hanya melalui edukasi kepada siswa.
“Guru merupakan aktor utama yang berperan dalam mengidentifikasi potensi bahaya, mengambil keputusan saat kondisi darurat, serta menjadi teladan dalam penerapan perilaku aman di lingkungan sekolah. Melalui pelatihan ini, kami berharap kapasitas guru semakin meningkat sehingga sekolah mampu membangun sistem keselamatan yang berkelanjutan," katanya
Lihat video: Taklimat Prabowo Kepada Pimpinan Perguruan Tinggi: Harus Berperan Nyata Dalam Pembangunan
Kepala SMP Negeri 107 Jakarta, R. Rahayuniati menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang telah terjalin dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
"Pelatihan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan yang sangat bermanfaat bagi para guru. Tidak hanya memahami teori, kami juga memperoleh pengalaman praktik yang akan sangat membantu apabila terjadi keadaan darurat di sekolah. Kami berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut sehingga budaya keselamatan semakin mengakar di SMP Negeri 107 Jakarta,” katanya.
Pelatihan diawali dengan materi mengenai Fire Risk Assessment untuk membantu guru mengenali potensi bahaya kebakaran dan melakukan identifikasi risiko di lingkungan sekolah. Selanjutnya peserta mendapatkan materi mengenai Emergency Response yang membahas pembentukan sistem tanggap darurat sekolah, mekanisme pelaporan insiden, koordinasi saat keadaan darurat, serta strategi evakuasi yang efektif.
Selain penyampaian materi, peserta mengikuti pelatihan praktik Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang dipandu oleh instruktur dari Direktorat Keselamatan Kampus Universitas Indonesia, yaitu Heri Jamal, Gumi Mani Saputra, Sugino, dan Malik Ibrahim. Pada sesi ini para guru mempraktikkan Bantuan Hidup Dasar (BHD), teknik resusitasi jantung paru (RJP) menggunakan manekin, teknik imobilisasi korban menggunakan bidai, serta teknik lifting and moving untuk memindahkan korban secara aman tanpa menimbulkan cedera tambahan.
Sesi berikutnya membahas penanggulangan gempa bumi dan kebakaran yang disampaikan oleh Devi Partina Wardani, dan Nida Hanifah Nasir. Kegiatan diakhiri dengan praktik penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), di mana seluruh peserta memperoleh kesempatan memadamkan api secara langsung menggunakan APAR sesuai prosedur keselamatan yang benar di bawah supervisi instruktur.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, tim K3KITA 2.0 menyerahkan peralatan keselamatan dan kebakaran kepada SMP Negeri 107 Jakarta yang meliputi Alat Pemadam Api Ringan (APAR), tandu evakuasi, serta perlengkapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) seperti bidai.
“Bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi berbagai kondisi darurat sekaligus mendukung implementasi budaya K3 secara berkelanjutan,” katanya.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia berharap melalui K3KITA 2.0, sekolah tidak hanya memiliki pengetahuan mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja, tetapi juga mampu membangun sistem kesiapsiagaan yang terintegrasi, sehingga seluruh warga sekolah memiliki kompetensi untuk mencegah risiko, merespons keadaan darurat secara cepat, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan tangguh.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, serta Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (UI) sebagai bentuk komitmen dalam membangun budaya keselamatan di lingkungan sekolah.
Ketua Program K3KITA 2.0 sekaligus dosen Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja FKM UI Abdul Kadir bersama lima mahasiswa Program Studi K3 ini terdiri dari mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, tiga mahasiswa volunteer Program Studi K3, serta didukung anggota dosen Rahmi dari Universitas Indonesia dan Bangga Agung Satrya dari Universitas Esa Unggul.
Baca juga: UI Resmikan Arboretum Hutan, Ruang Terbuka Hijau untuk Edukasi hingga Healing
“Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas warga sekolah dalam menerapkan budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, khususnya kebakaran,” katanya, Kamis (2/7/2026).
Berbeda dengan hari pertama yang berfokus pada edukasi bagi siswa, kegiatan pada 18 Juni 2026 ditujukan kepada 45 guru dan tenaga kependidikan SMPN 107 Jakarta sebagai garda terdepan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan tanggap terhadap kondisi darurat.
Ketua Program K3KITA 2.0 Abdul Kadir menjelaskan guru memiliki peran strategis dalam membangun budaya keselamatan di sekolah. Budaya keselamatan tidak dapat dibangun hanya melalui edukasi kepada siswa.
“Guru merupakan aktor utama yang berperan dalam mengidentifikasi potensi bahaya, mengambil keputusan saat kondisi darurat, serta menjadi teladan dalam penerapan perilaku aman di lingkungan sekolah. Melalui pelatihan ini, kami berharap kapasitas guru semakin meningkat sehingga sekolah mampu membangun sistem keselamatan yang berkelanjutan," katanya
Lihat video: Taklimat Prabowo Kepada Pimpinan Perguruan Tinggi: Harus Berperan Nyata Dalam Pembangunan
Kepala SMP Negeri 107 Jakarta, R. Rahayuniati menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang telah terjalin dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
"Pelatihan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan yang sangat bermanfaat bagi para guru. Tidak hanya memahami teori, kami juga memperoleh pengalaman praktik yang akan sangat membantu apabila terjadi keadaan darurat di sekolah. Kami berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut sehingga budaya keselamatan semakin mengakar di SMP Negeri 107 Jakarta,” katanya.
Pelatihan diawali dengan materi mengenai Fire Risk Assessment untuk membantu guru mengenali potensi bahaya kebakaran dan melakukan identifikasi risiko di lingkungan sekolah. Selanjutnya peserta mendapatkan materi mengenai Emergency Response yang membahas pembentukan sistem tanggap darurat sekolah, mekanisme pelaporan insiden, koordinasi saat keadaan darurat, serta strategi evakuasi yang efektif.
Selain penyampaian materi, peserta mengikuti pelatihan praktik Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang dipandu oleh instruktur dari Direktorat Keselamatan Kampus Universitas Indonesia, yaitu Heri Jamal, Gumi Mani Saputra, Sugino, dan Malik Ibrahim. Pada sesi ini para guru mempraktikkan Bantuan Hidup Dasar (BHD), teknik resusitasi jantung paru (RJP) menggunakan manekin, teknik imobilisasi korban menggunakan bidai, serta teknik lifting and moving untuk memindahkan korban secara aman tanpa menimbulkan cedera tambahan.
Sesi berikutnya membahas penanggulangan gempa bumi dan kebakaran yang disampaikan oleh Devi Partina Wardani, dan Nida Hanifah Nasir. Kegiatan diakhiri dengan praktik penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), di mana seluruh peserta memperoleh kesempatan memadamkan api secara langsung menggunakan APAR sesuai prosedur keselamatan yang benar di bawah supervisi instruktur.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, tim K3KITA 2.0 menyerahkan peralatan keselamatan dan kebakaran kepada SMP Negeri 107 Jakarta yang meliputi Alat Pemadam Api Ringan (APAR), tandu evakuasi, serta perlengkapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) seperti bidai.
“Bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi berbagai kondisi darurat sekaligus mendukung implementasi budaya K3 secara berkelanjutan,” katanya.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia berharap melalui K3KITA 2.0, sekolah tidak hanya memiliki pengetahuan mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja, tetapi juga mampu membangun sistem kesiapsiagaan yang terintegrasi, sehingga seluruh warga sekolah memiliki kompetensi untuk mencegah risiko, merespons keadaan darurat secara cepat, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan tangguh.
(cip)
Lihat Juga :