Kisah Kombes Agustinus Christmas, dari Mengajar Mahasiswa hingga Dijuluki Jenderal Kopi
Selasa, 23 Juni 2026 - 17:31 WIB
loading...
Kombes Pol Agustinus Christmas membagikan kembali pengalaman yang membawanya aktif mengembangkan ekosistem kopi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto: Ist
A
A
A
KUPANG - Kombes Pol Agustinus Christmas membagikan kembali pengalaman yang membawanya aktif mengembangkan ekosistem kopi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengalaman itu mulai dari mendampingi petani, menjadi barista, mengajar mahasiswa, hingga mendorong lahirnya wirausahawan muda berbasis kopi.
Menurut dia, keterlibatannya di sektor kopi berangkat dari keinginan sederhana untuk membantu masyarakat mendapatkan nilai ekonomi yang lebih baik dari komoditas unggulan daerah. Dari perjalanan tersebut, dia belajar bahwa kopi bukan sekadar minuman, melainkan instrumen pemberdayaan yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya ketika terlibat dalam berbagai kegiatan edukasi kepada mahasiswa melalui program Rako Coffee Goes to Campus. Dalam kegiatan itu, dia berbagi pengalaman mengenai dunia usaha sekaligus mengajak generasi muda untuk berani melihat peluang di sektor kopi.
Baca juga: Desa di Ngada NTT Ekspor 15 Ton Kopi ke Thailand Bernilai Rp1,65 Miliar
“Saya selalu menyampaikan kepada mahasiswa bahwa kopi bukan hanya soal minumannya. Di belakang secangkir kopi ada petani, ada pengolahan, ada pemasaran, ada peluang usaha dan lapangan pekerjaan yang bisa diciptakan,” ujar Agustinus.
Dia sengaja terjun langsung ke berbagai aktivitas kopi, bahkan tidak segan menjadi barista dalam sejumlah kegiatan promosi dan edukasi. Langkah itu dilakukan untuk memberikan contoh kepada generasi muda bahwa tidak ada alasan malu memulai usaha dari bawah.
“Saya ingin menunjukkan bahwa menjadi barista, berjualan kopi, atau membangun usaha kecil adalah sesuatu yang membanggakan. Yang penting adalah keberanian memulai dan kemauan terus belajar,” katanya.
Dalam berbagai kesempatan, Agustinus juga aktif memberikan semangat kepada petani kopi agar terus meningkatkan kualitas produksi. Masa depan kopi NTT sangat bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja sama membangun ekosistem yang sehat dari hulu hingga hilir.
Dia menilai pengalaman berinteraksi dengan petani menjadi pelajaran berharga tentang ketekunan dan semangat bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Saya banyak belajar dari para petani. Mereka bekerja keras menjaga kualitas kopi kita. Karena itu saya merasa perlu ikut mendorong agar kopi NTT mendapatkan nilai tambah yang lebih besar dan mampu bersaing di pasar lebih luas,” ujar Agustinus.
Dedikasi tersebut kemudian mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Atas kontribusinya dalam mempromosikan dan mengembangkan kopi lokal, Agustinus pernah menerima apresiasi dari kalangan dunia usaha dan dikenal dengan julukan Jenderal Kopi.
Meski demikian, penghargaan tersebut bukanlah tujuan utama dari seluruh aktivitas yang dijalaninya. Baginya, pencapaian terbesar ketika semakin banyak anak muda berani menjadi wirausahawan dan semakin banyak petani yang merasakan manfaat ekonomi dari kopi yang mereka hasilkan.
“Saya berharap semakin banyak anak-anak muda NTT yang percaya diri untuk berwirausaha. Kita punya kopi bagus, punya potensi besar, dan punya sumber daya manusia yang mampu bersaing. Tinggal bagaimana keberanian itu terus kita tumbuhkan bersama,” ujarnya.
Bagi Agustinus, perjalanan di dunia kopi menjadi pengalaman yang memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan melalui banyak cara. Tidak hanya melalui tugas sebagai anggota Polri, tetapi juga melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pendampingan terhadap masyarakat agar mampu berkembang dan mandiri.
Menurut dia, keterlibatannya di sektor kopi berangkat dari keinginan sederhana untuk membantu masyarakat mendapatkan nilai ekonomi yang lebih baik dari komoditas unggulan daerah. Dari perjalanan tersebut, dia belajar bahwa kopi bukan sekadar minuman, melainkan instrumen pemberdayaan yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya ketika terlibat dalam berbagai kegiatan edukasi kepada mahasiswa melalui program Rako Coffee Goes to Campus. Dalam kegiatan itu, dia berbagi pengalaman mengenai dunia usaha sekaligus mengajak generasi muda untuk berani melihat peluang di sektor kopi.
Baca juga: Desa di Ngada NTT Ekspor 15 Ton Kopi ke Thailand Bernilai Rp1,65 Miliar
“Saya selalu menyampaikan kepada mahasiswa bahwa kopi bukan hanya soal minumannya. Di belakang secangkir kopi ada petani, ada pengolahan, ada pemasaran, ada peluang usaha dan lapangan pekerjaan yang bisa diciptakan,” ujar Agustinus.
Dia sengaja terjun langsung ke berbagai aktivitas kopi, bahkan tidak segan menjadi barista dalam sejumlah kegiatan promosi dan edukasi. Langkah itu dilakukan untuk memberikan contoh kepada generasi muda bahwa tidak ada alasan malu memulai usaha dari bawah.
“Saya ingin menunjukkan bahwa menjadi barista, berjualan kopi, atau membangun usaha kecil adalah sesuatu yang membanggakan. Yang penting adalah keberanian memulai dan kemauan terus belajar,” katanya.
Dalam berbagai kesempatan, Agustinus juga aktif memberikan semangat kepada petani kopi agar terus meningkatkan kualitas produksi. Masa depan kopi NTT sangat bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja sama membangun ekosistem yang sehat dari hulu hingga hilir.
Dia menilai pengalaman berinteraksi dengan petani menjadi pelajaran berharga tentang ketekunan dan semangat bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Saya banyak belajar dari para petani. Mereka bekerja keras menjaga kualitas kopi kita. Karena itu saya merasa perlu ikut mendorong agar kopi NTT mendapatkan nilai tambah yang lebih besar dan mampu bersaing di pasar lebih luas,” ujar Agustinus.
Dedikasi tersebut kemudian mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Atas kontribusinya dalam mempromosikan dan mengembangkan kopi lokal, Agustinus pernah menerima apresiasi dari kalangan dunia usaha dan dikenal dengan julukan Jenderal Kopi.
Meski demikian, penghargaan tersebut bukanlah tujuan utama dari seluruh aktivitas yang dijalaninya. Baginya, pencapaian terbesar ketika semakin banyak anak muda berani menjadi wirausahawan dan semakin banyak petani yang merasakan manfaat ekonomi dari kopi yang mereka hasilkan.
“Saya berharap semakin banyak anak-anak muda NTT yang percaya diri untuk berwirausaha. Kita punya kopi bagus, punya potensi besar, dan punya sumber daya manusia yang mampu bersaing. Tinggal bagaimana keberanian itu terus kita tumbuhkan bersama,” ujarnya.
Bagi Agustinus, perjalanan di dunia kopi menjadi pengalaman yang memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan melalui banyak cara. Tidak hanya melalui tugas sebagai anggota Polri, tetapi juga melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan pendampingan terhadap masyarakat agar mampu berkembang dan mandiri.
(jon)
Lihat Juga :