Konsep 8B Jadi Usulan Fahira Idris untuk Wujudkan Jakarta yang Inklusif dan Berkeadilan
Kamis, 18 Juni 2026 - 17:07 WIB
loading...
A
A
A
Pada aspek Berbudaya, Fahira menekankan pentingnya menjaga identitas Jakarta di tengah arus globalisasi. Budaya Betawi, kawasan Kota Tua, museum, hingga ruang seni dan tradisi lokal dinilai harus menjadi kekuatan utama kota. “Jakarta boleh menjadi kota global, tetapi tidak boleh kehilangan jati diri. Budaya lokal harus menjadi wajah utama kota,” katanya.
Selanjutnya, pada pilar Berkeadilan, Fahira menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari infrastruktur atau investasi, tetapi dari sejauh mana manfaatnya dirasakan seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti warga miskin kota, pekerja informal, lansia, perempuan, anak, dan penyandang disabilitas.
Dalam hal Bermukim Layak, Jakarta didorong menjadi kota yang nyaman dihuni dengan penyediaan hunian terjangkau, akses air bersih, ruang terbuka hijau, serta penataan kampung kota yang partisipatif tanpa memutus ikatan sosial warga. Sementara itu, pada aspek Bermobilitas Publik, Fahira menilai masa depan Jakarta sangat ditentukan oleh keberhasilan membangun sistem transportasi terintegrasi.
Moda seperti MRT, LRT, Transjakarta, KRL, hingga jalur sepeda dan trotoar harus menjadi satu kesatuan ekosistem yang aman, terjangkau, dan ramah lingkungan. “Jakarta kota global dimulai dari perjalanan harian warganya. Jika mobilitas mudah dan nyaman, maka Jakarta sedang menuju kota global yang sesungguhnya,” jelasnya.
Menghadapi tantangan lingkungan, Berketahanan Iklim menjadi aspek penting. Fahira menyoroti persoalan banjir, rob, polusi udara, hingga krisis air bersih yang harus ditangani secara komprehensif dan berbasis data. “Jakarta tidak mungkin menjadi kota global jika tidak tangguh menghadapi krisis iklim dan bencana,” tegasnya.
Selanjutnya, pada pilar Berkeadilan, Fahira menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari infrastruktur atau investasi, tetapi dari sejauh mana manfaatnya dirasakan seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti warga miskin kota, pekerja informal, lansia, perempuan, anak, dan penyandang disabilitas.
Dalam hal Bermukim Layak, Jakarta didorong menjadi kota yang nyaman dihuni dengan penyediaan hunian terjangkau, akses air bersih, ruang terbuka hijau, serta penataan kampung kota yang partisipatif tanpa memutus ikatan sosial warga. Sementara itu, pada aspek Bermobilitas Publik, Fahira menilai masa depan Jakarta sangat ditentukan oleh keberhasilan membangun sistem transportasi terintegrasi.
Moda seperti MRT, LRT, Transjakarta, KRL, hingga jalur sepeda dan trotoar harus menjadi satu kesatuan ekosistem yang aman, terjangkau, dan ramah lingkungan. “Jakarta kota global dimulai dari perjalanan harian warganya. Jika mobilitas mudah dan nyaman, maka Jakarta sedang menuju kota global yang sesungguhnya,” jelasnya.
Menghadapi tantangan lingkungan, Berketahanan Iklim menjadi aspek penting. Fahira menyoroti persoalan banjir, rob, polusi udara, hingga krisis air bersih yang harus ditangani secara komprehensif dan berbasis data. “Jakarta tidak mungkin menjadi kota global jika tidak tangguh menghadapi krisis iklim dan bencana,” tegasnya.
Lihat Juga :