Sejatinya Saingan Kota Medan Itu Singapura dan Kualalumpur, Bukan Kota Lokal

loading...
Sejatinya Saingan Kota Medan Itu Singapura dan Kualalumpur, Bukan Kota Lokal
Kota Medan, saingannya bukan Surabaya, Makassar atau Bandung lagi. Karena letak posisi Kota Medan justru berdekatan dengan Singapura atau Kuala Lumpur, Malaysia.(Foto/SINDOnews/Sartana)
MEDAN - Kota Medan, saingannya bukan Surabaya, Makassar atau Bandung lagi. Karena letak posisi Kota Medan justru berdekatan dengan negara tetangga. Sehingga saingannya dengan Singapura atau Kuala Lumpur, Malaysia.

"Tapi sekarang, jangankan bersaing sama Singapura dan Kuala Lumpur, dengan kota yang lebih kecil seperti Semarang dan Bandung saja kalah," kata Muhammad Bobby Afif Nasution dalam kegiatan deklarasi dukungan Nusantara Bangkit di Hotel Madani Jalan Amaliun, Kelurahan Kota Matsumoto III, Kecamatan Medan Kota, Minggu (20/9/2020).

Menurutnya, jika misalnya kampanye saja ia ingin meniru Kota Semarang atau Surabaya, tentu pasti banyak yang setuju. Namun kalau misalnya saat kampanye, ia mengatakan, ingin melanjutkan kepemimpinan Kota Medan yang dulu, Nusantara Bangkit pun akan mencabut dukungannya.

"Untuk itu, harus ada terobosan dalam kepemimpinan kota ini," jelas calon Wali Kota Medan ini. (BACA JUGA: KPU Medan: Kami Siap Jika Pilkada Ditunda atau Tetap Dilaksanakan Desember 2020)



Bobby mengatakan, karena itu, dalam memimpin Medan, Bobby Nasution - H. Aulia Rachman tidak memberikan konsep yang muluk-muluk.

"Kami (Bobby - Aulia Rachman) muda. Dengan kemudaan ini, kami tidak mau sok paling bisa semua. Konsep kami adalah bersama-sama membangun Kota Medan, berkolaborasi membangun Kota Medan," tutur dia.

Apalagi, sambung penggagas #KolaborasiMedanBerkah ini, Medan memiliki banyak kota penyanggah, tapi tidak pernah dimanfaatkan, selama ini pemerintah kota malah berebut dengan kota penyanggah. "Seperti KIM (Kawasan Industri Medan), kita berebut dengan Deli Serdang. Bukannya dimanfaatkan," terang Bobby



Bobby juga mengaku, pernah diberikan pandangan soal masalah ketahanan pangan. Medan yang tidak punya lahan pertanian, maka seharusnya memiliki pemimpin yang punya terobosan agar bisa berkolaborasi dengan daerah-daerah penyanggahnya.

"Bicara pangan kita pasti harus bicarakan pertanian. Pertanian itu dari hulu sampai hilir. Dan Medan bisa menjadi kawasan hilirisasi pertanian dengan bekerjasama di tingkat hulu yang ada di kabupaten penyanggah, ini yang tidak pernah terjadi. Itu yang belum dipikirkan pemimpin Medan sebelumnya. (BACA JUGA: Pesawat Pengangkut Jenazah Serka Sahlan Ditembak KKB Papua)

Menurut menantu Presiden Joko Widodo ini saat ini kesannya memikirkan untuk menggunakan anggaran sekitar Rp6,2 triliun per tahun saja agak susah, maka itu belum lagi memikirkan masalah hilirisasi pertanian.

Bobby mengungkapkan, keberhasilan pemimpin dalam menggunakan anggaran harus dilihat dari langkahnya menggunakannya dalam satu periode, bukan satu tahun saja. Karena pemimpin dipilih per lima tahun.

"Jadi anggaran kepemimpinan atau anggaran pembangunan dan segala macam, hitungannya harus satu periode, gak bisa dipotong per tahun," tandasnya.
(vit)
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video
Top