Raksha Loka Fest di Jaksel, Tim FIA UI Dorong Literasi Keuangan Komunitas Iklim
Senin, 25 Mei 2026 - 20:12 WIB
loading...
Isu pendanaan bagi komunitas iklim kembali menjadi perhatian penting dalam Raksha Loka Fest di M Bloc Space, Jakarta Selatan, 22–23 Mei 2026. Hadir sebagai pembicara dari FIA UI, Yayasan Penabulu, Lawe Indonesia, dan KEM. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Isu pendanaan bagi komunitas terdampak iklim kembali menjadi perhatian penting dalam gelaran Raksha Loka Fest yang berlangsung pada 22–23 Mei 2026 di M Bloc Space, Jakarta Selatan. Dalam rangkaian acara tersebut, Terasmitra menyelenggarakan talkshow bertajuk “Pendanaan Berkelanjutan dan Berkeadilan untuk Komunitas Terdampak Iklim”.
Hadir sebagai pembicara dari Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), Yayasan Penabulu, Lawe Indonesia, dan Koalisi Ekonomi Membumi (KEM), dengan moderator Maria Eurelia Wayan dari FIA UI.
Komunitas hijau, koperasi, dan kelompok usaha berbasis lingkungan kerap menghadapi tantangan ganda yaitu menjaga keberlanjutan alam sekaligus memastikan usaha mereka tetap bertahan secara ekonomi. Talkshow diadakan sebagai ruang berbagi gagasan mengenai akses pembiayaan usaha berbasis lingkungan yang lebih inklusif, sederhana, dan berpihak pada komunitas lokal.
Baca juga: Tim PPM UI Gelar Literasi Sadar Bencana dan Sosialisasi Mitigasi Bagi Remaja
Terasmitra bersama GEF SGP Indonesia Fase 7 memperkenalkan pentingnya pembiayaan dengan pendampingan berbasis business development dan literasi keuangan bagi komunitas dan bisnis hijau. Dalam kegiatan tersebut, dua platform pembiayaan yaitu TMFund dan BUMI diperkenalkan sebagai opsi pembiayaan yang mengedepankan proses sederhana, transparan, dan bersifat inklusif.
Novita Ikasari dari FIA UI mengatakan, TMFund versi awal dikembangkan sebagai aplikasi pembiayaan yang bersifat tertutup berdasarkan survei pendahuluan tentang kebiasaan pengelolaan keuangan, pola pembayaran, serta kebutuhan pembiayaan yang sesuai dengan kapasitas calon pemanfaat pembiayaan.
Padai 2026 ini, peran FIA UI berkembang dari membantu pengembangan platform TM Fund menuju pendampingan literasi keuangan dan bisnis dari penerima manfaat pembiayaan. “TMFund bukan sekadar platform pembiayaan, namun pemicu untuk pemilik bisnis memastikan pengelolaan bisnis dan keuangannya lebih profesional dan berkelanjutan," ujar Novita, Senin (25/5/2026).
Nanang dari Yayasan Penabulu menuturkan pembiayaan BUMI (Bantuan Usaha Melalui Investasi) untuk usaha berbasis lingkungan yang sudah relatif stabil dari segi pendanaan namun ingin memperluas jaringan dan pasar.
Hal senada diungkapkan Farhana Zahrotunnisa dari KEM. Dia menekankan permasalahan pembiayaan bisnis kecil bukanlah dari ketersediaan dana pembiayaan ataupun serapannya, melainkan mengenai akses terhadap pembiayaan tersebut.
“Untuk mendapatkan akses tersebut, penguatan kelembagaan bisnis sangat penting karena pembiayaan maupun negosiasi dan komunikasi dengan berbagai pihak penyedia dana perlu dilakukan secara institusional,” katanya.
Empat pembicara sepakat bahwa banyak komunitas bisnis lokal telah memiliki kontribusi nyata terhadap lingkungan dan ekonomi daerah, tetapi masih menghadapi kendala kelembagaan, literasi dan tata kelola keuangan, dokumentasi dan kapasitas usaha, akses pasar hingga keterbatasan jaminan ketika hendak mengakses pembiayaan formal.
Talkshow ditutup dengan Wiraswati Yuliani dari Lawe Indonesia yang berbagi manfaat positif dari pembiayaan yang diperoleh melalui aplikasi TMFund versi 2.0. “Walaupun belum berhasil naik ke pinjaman dana yang maksimal, namun dukungan fintech dari Terasmitra sudah berperan besar dalam keberhasilan usaha Lawe,” ucapnya.
Forum ini menggarisbawahi pentingnya perubahan cara pandang terhadap pendanaan komunitas. Pendanaan tidak dapat berhenti pada pendekatan transaksional yang hanya berorientasi pada penyaluran dana jangka pendek.
Hadir sebagai pembicara dari Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), Yayasan Penabulu, Lawe Indonesia, dan Koalisi Ekonomi Membumi (KEM), dengan moderator Maria Eurelia Wayan dari FIA UI.
Komunitas hijau, koperasi, dan kelompok usaha berbasis lingkungan kerap menghadapi tantangan ganda yaitu menjaga keberlanjutan alam sekaligus memastikan usaha mereka tetap bertahan secara ekonomi. Talkshow diadakan sebagai ruang berbagi gagasan mengenai akses pembiayaan usaha berbasis lingkungan yang lebih inklusif, sederhana, dan berpihak pada komunitas lokal.
Baca juga: Tim PPM UI Gelar Literasi Sadar Bencana dan Sosialisasi Mitigasi Bagi Remaja
Terasmitra bersama GEF SGP Indonesia Fase 7 memperkenalkan pentingnya pembiayaan dengan pendampingan berbasis business development dan literasi keuangan bagi komunitas dan bisnis hijau. Dalam kegiatan tersebut, dua platform pembiayaan yaitu TMFund dan BUMI diperkenalkan sebagai opsi pembiayaan yang mengedepankan proses sederhana, transparan, dan bersifat inklusif.
Novita Ikasari dari FIA UI mengatakan, TMFund versi awal dikembangkan sebagai aplikasi pembiayaan yang bersifat tertutup berdasarkan survei pendahuluan tentang kebiasaan pengelolaan keuangan, pola pembayaran, serta kebutuhan pembiayaan yang sesuai dengan kapasitas calon pemanfaat pembiayaan.
Padai 2026 ini, peran FIA UI berkembang dari membantu pengembangan platform TM Fund menuju pendampingan literasi keuangan dan bisnis dari penerima manfaat pembiayaan. “TMFund bukan sekadar platform pembiayaan, namun pemicu untuk pemilik bisnis memastikan pengelolaan bisnis dan keuangannya lebih profesional dan berkelanjutan," ujar Novita, Senin (25/5/2026).
Nanang dari Yayasan Penabulu menuturkan pembiayaan BUMI (Bantuan Usaha Melalui Investasi) untuk usaha berbasis lingkungan yang sudah relatif stabil dari segi pendanaan namun ingin memperluas jaringan dan pasar.
Hal senada diungkapkan Farhana Zahrotunnisa dari KEM. Dia menekankan permasalahan pembiayaan bisnis kecil bukanlah dari ketersediaan dana pembiayaan ataupun serapannya, melainkan mengenai akses terhadap pembiayaan tersebut.
“Untuk mendapatkan akses tersebut, penguatan kelembagaan bisnis sangat penting karena pembiayaan maupun negosiasi dan komunikasi dengan berbagai pihak penyedia dana perlu dilakukan secara institusional,” katanya.
Empat pembicara sepakat bahwa banyak komunitas bisnis lokal telah memiliki kontribusi nyata terhadap lingkungan dan ekonomi daerah, tetapi masih menghadapi kendala kelembagaan, literasi dan tata kelola keuangan, dokumentasi dan kapasitas usaha, akses pasar hingga keterbatasan jaminan ketika hendak mengakses pembiayaan formal.
Talkshow ditutup dengan Wiraswati Yuliani dari Lawe Indonesia yang berbagi manfaat positif dari pembiayaan yang diperoleh melalui aplikasi TMFund versi 2.0. “Walaupun belum berhasil naik ke pinjaman dana yang maksimal, namun dukungan fintech dari Terasmitra sudah berperan besar dalam keberhasilan usaha Lawe,” ucapnya.
Forum ini menggarisbawahi pentingnya perubahan cara pandang terhadap pendanaan komunitas. Pendanaan tidak dapat berhenti pada pendekatan transaksional yang hanya berorientasi pada penyaluran dana jangka pendek.
(jon)
Lihat Juga :