Akademisi Dorong Kinerja Satgas Rajawali V di Papua Dievaluasi

Senin, 11 Mei 2026 - 19:14 WIB
loading...
Akademisi Dorong Kinerja...
Mabes TNI didesak mengevaluasi kinerja Satgas Rajawali V. Foto: Dok Puspen TNI
A A A
PAPUA - Guru Besar Politik dan Keamanan Universitas Padjajaran (Unpad) Prof. Muradi berpendapat bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan warga sipil menjadi korban dalam beberapa insiden di Papua Tengah, 13 April hingga 7 Mei 2026. Di antaranya adalah Satgas Rajawali V tidak membaca dengan baik dinamika yang terjadi, model atau taktik kelompok separatis, dan tidak dilakukan sesuai prosedur tetap (protap).

"Jadi, ada kemungkinan karena info tidak detail atau memang kesengajaan. Artinya, perlu dicek. Kalau misalnya situasi karena kesengajaan atau tidak melaksanakan protap dengan baik, maka Mabes TNI harus lakukan evaluasi internal. Kalau terbukti melanggar protap, harus ada proses punishment yang efektif," ujarnya saat dihubungi, Minggu (10/5/2026) malam.

Muradi mengingatkan, pemerintah berupaya setengah mati agar dunia internasional memandang Papua kondusif dan baik-baik saja. Namun, berbagai kejadian di Distrik Pogoma, Distrik Kembru, Distrik Sinak, dan Distrik Tembagapura, Papua Tengah, yang menimbulkan korban dari warga sipil justru dapat merusak kerja keras tersebut.

Baca juga: Kasum TNI Terima Penghargaan Internasional, Bukti TNI Hadir Lindungi Warga Papua



"Ini harus diluruskan. Ada mekanisme audit internal, bisa investigasi. Ini perlu dilakukan," jelasnya.

Lebih jauh, Muradi menerangkan bahwa operasi militer, termasuk operasi intelijen, tidak bisa dilakukan secara terbuka. Oleh karena itu, ia mengimbau agar personel TNI yang bertugas di lapangan agar tertib dan mengikuti protap berlaku. Apalagi, ini menyangkut keselamatan aset dan keberlanjutannya. "Mencari akses orang lokal itu enggak gampang. Itu perlu dilindungi, perlu penjagaan," ucapnya.

Muradi menambahkan, perperangan di Papua tergolong jangka panjang. Menurutnya, ada dua hal yang menjadi faktor memenangkan peperangan tersebut. "Yang menguatkan, memenangkan peperangan ada dua, (yaitu) dukungan publik dan propaganda masif. Kalau enggak bisa kita kuasai, agak berat buat kita," tandasnya.

Diketahui, terjadi operasi militer di Distrik Pogoma, 13 April 2026. Kontak senjata antara kelompok separatis dengan personel TNI dari Satgas Rajawali V pun tidak terhindarkan. Serangan ini memicu warga sipil menungsi wilayah lain.

Sehari kemudian, operasi meluas ke kampung-kampung di Distrik Kembru, yang seharusnya menjadi zona aman untuk pengungsian warga sipil. Berdasarkan laporan Komnas HAM, tragedi di Kembru mengakibatkan 12 warga sipil meninggal dunia dan sebanyak 7-14 orang terluka.

Insiden tersebut pun mengakibatkan ratusan warga sipil mengungsi. Mereka dilaporkan mengungsi ke wilayah lebih aman, seperti Distrik Sinak, Distrik Yambi, dan Kabupaten Mulia, Distrik Ilaga, bahkan hutan belantara.

Pada 15 April, kembali terjadi kontak senjata antara Satgas Rajawali dengan kelompok separatis di Distrik Sinak. Akibatnya, tiga warga sipil mengalami luka. Insiden ini pun memperparah situasi dan mengakibatkan gelombang pengungsian tak terhindarkan.

Belum genap sebulan, tepatnya 7 Mei 2026, kembali terjadi kontak senjata antara kelompok separatis dengan Satgas Rajawali V di Papua Tengah. Kali ini, insiden berlangsung di Kampung Narangkea-Uyawin dan Kampung Uyawin-Winni Mile 69 area Kali Kabur, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika.

Kontak senjata tersebut mengakibatkan enam warga sipil tertembak. Dua di antaranya adalah balita 1 tahun dan anak perempuan 12 tahun.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ledakan Bom Sisa Perang...
Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Numfor Papua, 9 Tewas, 6 Luka-luka
BMKG Deteksi Siklon...
BMKG Deteksi Siklon Tropis HAISHEN di Utara Papua, Ini Dampaknya bagi Cuaca Indonesia
Akademisi Desak Polri...
Akademisi Desak Polri Tindak Penyebar Disinformasi Pengamanan Kejaksaan oleh TNI
Jampidsus Febrie Adriansyah...
Jampidsus Febrie Adriansyah Mundur, Rumahnya di Jaksel Tak Lagi Dijaga Khusus TNI
Berdayakan Kampung Papua:...
Berdayakan Kampung Papua: Kolaborasi PBB, Kemendes, dan Komunitas Lokal Latih Ratusan Wirausaha Baru
Kapuspen TNI Tegaskan...
Kapuspen TNI Tegaskan Tak Ada Personel Datangi Polda Metro Jaya
Prabowo: Anggaran Pertahanan...
Prabowo: Anggaran Pertahanan dan Polri jika Perlu Dikurangi untuk Hapus Kemiskinan
Kelakar Prabowo: Nanti...
Kelakar Prabowo: Nanti Ada Pertandingan Jenderal-Jenderal, Saya Wasitnya
Prabowo Apresiasi Panen...
Prabowo Apresiasi Panen Raya Inisiasi TNI Serentak di 43 Titik Seluruh Indonesia
Rekomendasi
9 Hadis tentang Pernikahan,...
9 Hadis tentang Pernikahan, Kaum Muslim Wajib Tahu!
Rakernas Perdana IKAL...
Rakernas Perdana IKAL Lemhannas Rumuskan Program Strategis Dukung Asta Cita Prabowo
Marketing CoE Danantara,...
Marketing CoE Danantara, Jasa Marga Jadi Mentor Pengelolaan Command Center
Berita Terkini
Pria Tewas dengan Luka...
Pria Tewas dengan Luka Tembak di Hotel Mewah Sempat Kirim WA Permintaan Maaf ke Istri
Kolaborasi Seni Kontemporer...
Kolaborasi Seni Kontemporer dan Industri Kreatif Lahirkan Karya Artistik
Perkuat Ekonomi Jateng,...
Perkuat Ekonomi Jateng, ICBC Indonesia Buka Kantor Cabang Semarang
4 Kombes Pol Pecah Bintang...
4 Kombes Pol Pecah Bintang dan Promosi Jabatan ke Polda dalam Mutasi Polri Juni 2026, Ini Daftar Namanya
Gelar Sekolah Politik,...
Gelar Sekolah Politik, Partai Perindo Perkuat Fondasi Kaderisasi Menuju Pemilu di Kabupaten Bogor
MUI Tegas soal Kekerasan...
MUI Tegas soal Kekerasan Santri di Lombok: Harus Diproses Hukum, Tak Boleh Diselesaikan Internal
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved