Siswa SMP di Gresik Diduga Tertembak Peluru Nyasar Latihan TNI AL, Operasinya Sempat Tertunda

Kamis, 02 April 2026 - 18:40 WIB
loading...
Siswa SMP di Gresik...
Dewi Muniarti, ibunda Darrell Fausta Hamdani (14) dalam konferensi pers di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (2/4/2026). Foto: Riyan Rizki Roshali
A A A
JAKARTA - Darrell Fausta Hamdani (14), siswa kelas III SMPN 33 Gresik, Jawa Timur diduga menjadi salah satu korban peluru nyasar oleh oknum TNI. Ia diduga terkena peluru nyasar dari latihan militer 4 batalyon di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya.

Ibu korban, Dewi Muniarti menjelaskan peristiwa yang menimpa putranya itu terjadi pada 17 Desember 2025. Saat kejadian, korban tengah sedang mengikuti kegiatan sosialisasi sekolah tingkat lanjut dan tengah membaca brosur di musala sekolah.

“Posisi anak saya sedang membaca brosur. Acara tersebut dilakukan di musala sekolah. Jadi anak saya ini enggak ke mana-mana. Tiba-tiba kena peluru di tangan kirinya," ungkap Dewi dalam konferensi pers di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (2/4/2026).

Siswa SMP di Gresik Diduga Tertembak Peluru Nyasar Latihan TNI AL, Operasinya Sempat Tertunda


Baca juga: 3 Brigjen dari BIN Digeser Panglima TNI pada Mutasi Maret 2026, Ada Kabinda Papua



Peluru tersebut berasal dari latihan tembak prajurit TNI AL di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang Surabaya, yang berjarak sekitar 2,3 kilometer dari sekolahnya. Peluru tersebut menembus lengan kiri Darrell hingga mengenai tulangnya.

Peluru itu pun bersarang tepat di bagian punggung tangannya. "Anak saya ini kena tulangnya, sehingga dia dipasang pen tepat di tengah-tengah. Tangannya itu enggak bisa ditekuk maupun diluruskan secara normal," ujar Dewi.

Sementara itu, peluru lain juga mengenai temannya yang bernama Renheart dan bersarang di area punggung kanan bawah. Peluru tersebut hanya mengenai lapisan lemak tanpa mencederai bagian tulang maupun organ dalam.

Kedua korban pun langsung dilarikan ke RS Siti Khodijah Sepanjang, Sidoarjo. Di sana, perwakilan TNI AL pun langsung menemui pihak sekolah dan keluarga dan membenarkan bahwa latihan itu diikuti oleh empat batalyon, yaitu Zeni, Angmor, POM, dan Taifib.

"Pihak kesatuan meminta maaf atas insiden yang terjadi. Pihak kesatuan juga menyampaikan akan bertanggung jawab penuh atas penyembuhan dan pemulihan Para Korban sampai tuntas," ucap Dewi.

Dewi menyebut pihak TNI meminta kepada keluarga korban agar permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan, tidak melapor ke mana pun, dan melarang memviralkan insiden tersebut.

Pada hari yang sama pukul 20.00 WIB, kata dia, Darrell dijadwalkan menjalani operasi pengangkatan peluru dan pemasangan pen. Namun, sekitar 35 menit setelah Darrell masuk ruang operasi, keluarga dipanggil oleh seorang perwakilan Marinir yang mempermasalahkan pilihan kamar VIP B untuk Darrell.

Padahal, kata Dewi, salah satu perwakilan TNI bernama Perwira Siregar sempat mengatakan kepada pihak rumah sakit agar korban mendapat pelayanan maksimal.

"Dia menyatakan bahwa saya seolah-olah memanfaatkan kesatuan dengan meminta kamar VIP B. Di situ saya menyampaikan bahwa saya mengambil tipe itu menyesuaikan kemampuan dan kenyamanan saya, kalau saya mau memanfaatkan, saya pasti akan ambil VIP A atau VVIP," ujarnya.

Akibat perdebatan itu, operasi pun tertunda selama 35 menit dan Darrell baru bisa keluar ruang operasi pada pukul 23.30 WIB menjelang tengah malam. Keributan kembali terjadi pada pukul 00.00 WIB, saat seorang anggota yang memperkenalkan diri sebagai Mayor Tri mendatangi kamar rawat Darrell.

Mayor Tri disebut memaksa agar peluru yang baru saja diangkat dari lengan Darrell diserahkan ke kesatuan Marinir dan tidak boleh disimpan rumah sakit. "Saya bilang, 'Bapak, biarkan peluru itu ada di rumah sakit sampai permasalahan ini klir. Boleh mengobservasi namun jangan diambil, Pak, karena itu adalah barang bukti'," ungkap Dewi.

Mayor Tri disebut merespons dengan nada tinggi dan membentak Dewi tepat di depan putranya yang baru selesai dioperasi. "Jangankan peluru, selongsongnya pun harus kembali kepada kesatuan," kata Dewi menirukan ucapan Mayor Tri.

Penolakan Dewi pun direspons dengan ancaman bahwa tim penasihat hukum kesatuan akan datang untuk memproses hukum Dewi karena enggan menyerahkan peluru.

Terpisah, Perwira Hukum Resimen Banpur 2 Marinir Mayor Ahmad Fauzi menyampaikan empati dan simpati atas peristiwa yang menimpa dua korban tersebut.

“Pertama-tama kami menyampaikan turut prihatin atas terjadinya musibah yang menimpa dua siswa SMP di Gresik. Kami memahami peristiwa ini menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran bagi kita semua. Kami atas nama Komandan Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir menyampaikan rasa simpati dan empati yang tulus terhadap para korban,” ujarnya.

Dia menegaskan, sejak menerima informasi adanya peristiwa tersebut, pihaknya langsung melakukan koordinasi dan pendalaman di tempat kejadian perkara (TKP).

“Serta memastikan kedua korban mendapat tindakan medis walaupun sampai saat ini belum bisa dipastikan bahwa peluru tersebut berasal dari Korps Marinir masih perlu penyelidikan dan pendalaman lebih lanjut,” ujarnya.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perumda Dharma Jaya...
Perumda Dharma Jaya Edukasi Ketahanan Pangan ke Siswa SMPN 51 Jakarta
Bea Cukai Pangkal Pinang...
Bea Cukai Pangkal Pinang Sebut 15 Kontainer PMM Telah Memenuhi Syarat
2 Oknum TNI Diduga Terlibat...
2 Oknum TNI Diduga Terlibat Kasus Penyalahgunaan BBM Bersubsidi di Jabar dan Jateng
Penjelasan TNI soal...
Penjelasan TNI soal Siswa SMP di Gresik Diduga Terkena Peluru Nyasar
Jual Senjata Organik...
Jual Senjata Organik ke Papua Nugini, Oknum TNI Ditangkap di Papua
Denpom Periksa Oknum...
Denpom Periksa Oknum Prajurit TNI Todongkan Pistol ke Pengendara di Tangsel
Modernisasi Kapal Induk...
Modernisasi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Penting untuk Perpanjang Usia Pakai
RDP di Komisi II, Dirjen...
RDP di Komisi II, Dirjen Bina Adwil Kemendagri Ungkap 5 Kunci Penataan Lahan Pasuruan
TAUD Khawatir Barang...
TAUD Khawatir Barang Bukti Kasus Andrie Yunus Dimusnahkan PN Militer
Rekomendasi
Cerita Purbaya Ingin...
Cerita Purbaya Ingin Beli Harley Davidson Hasil Sitaan Negara, Tapi Dilarang Istri
Kapten Iran: Perang...
Kapten Iran: Perang Merampas Euforia Piala Dunia 2026
Ketua Dewan Pers Komaruddin...
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat Tekankan Sikap Kritis dan Konstruktif Media Massa
Berita Terkini
Biaya Operasional Tinggi,...
Biaya Operasional Tinggi, Gapasdap Minta Pemerintah Naikkan Tarif Angkutan Penyeberangan
Polda Metro Jaya: 3.588...
Polda Metro Jaya: 3.588 Personel Gabungan Dikerahkan Amankan Demo di DPR RI
Dukung Program MBG Dilanjutkan,...
Dukung Program MBG Dilanjutkan, Akademisi: Bermanfaat bagi Anak dan Masyarakat
Polda Metro Jaya Larang...
Polda Metro Jaya Larang Massa Demo Mahasiwa Masuk Jalur VIP Presiden Jerman
Ketua DPW Partai Perindo...
Ketua DPW Partai Perindo Sulsel Abdul Hayat Gani, dari Birokrasi ke Politik yang Melayani
Polisi Tangkap 2 Pelaku...
Polisi Tangkap 2 Pelaku yang Hendak Culik Lansia di PIK Jakut
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved