Kasatgas PRR: Penanganan Pengungsi Banjir Sumatera Hampir Tuntas

Rabu, 25 Maret 2026 - 21:24 WIB
loading...
Kasatgas PRR: Penanganan...
Kasatgas PRR sekaligus Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan, penanganan pengungsi pascabencana banjir di Sumatera telah mencapai tahap hampir tuntas. Foto/Ist
A A A
JAKARTA - Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) sekaligus Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian menegaskan bahwa penanganan pengungsi pascabencana banjir di wilayah Sumatera telah mencapai tahap hampir tuntas. Secara keseluruhan, hampir 100 persen pengungsi tidak lagi tinggal di tenda darurat, menandai percepatan signifikan dalam proses pemulihan masyarakat terdampak.

Capaian tersebut ditopang oleh kondisi di dua wilayah terdampak utama, yakni Sumatera Barat dan Sumatera Utara, yang telah mencatatkan nol pengungsi di tenda. Sementara itu, di Provinsi Aceh masih terdapat 171 jiwa atau 43 kepala keluarga (KK) dalam jumlah yang sangat terbatas dan saat ini tengah dalam proses penanganan lanjutan.

Baca juga: Kemendikdasmen Salurkan Tunjangan Rp6 Juta untuk Guru Terdampak Banjir Sumatera

“Bapak Presiden tidak menyampaikan bahwa seluruh apa daerah bencana sudah tidak ada tenda. Tidak. Yang disampaikan adalah mendekati 100%. Mendekati 100% itu tidak ditenda,” ujar Tito, Rabu (25/3/2026).



Tito menjelaskan bahwa capaian hampir seluruh pengungsi keluar dari tenda dihitung dengan membandingkan jumlah pengungsi yang tersisa saat ini, yakni sekitar 171 orang di Provinsi Aceh, dengan total pengungsi pada awal kejadian yang mencapai 2,1 juta jiwa per 2 Desember 2025.

Dari perhitungan tersebut, persentase pengungsi yang masih berada di tenda hanya sekitar 0,008 persen, sehingga dapat disimpulkan bahwa sekitar 99,96 persen pengungsi telah keluar dari tenda. Oleh karena itu, pemerintah menggunakan istilah “hampir” atau “mendekati 100 persen” dan tidak mengklaim seluruhnya selesai.

Baca juga: SPMB untuk Siswa Terdampak Bencana Sumatera Akan Diatur Khusus

“Nah, bagaimana kita menghitungnya? Ya, hitung saja 171 orang sekarang ini dibagi 2,1 juta pada saat 2 Desember data pada waktu mengungsi ya itu lebih kurang 0,008% sehingga bisa dikatakan 99,96% ada lagi tenda. Makanya ada kata-kata hampir atau mendekati 100%. Kita tidak mengklaim 100%,” jelasnya.

Tito menjelaskan bahwa sisa pengungsi saat ini berada di dua wilayah, yakni Kabupaten Aceh Tamiang dan Kabupaten Bireuen. Di Aceh Tamiang, sebelumnya tercatat sebanyak 26 kepala keluarga atau 96 jiwa di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, yang sempat menjadi perhatian publik.

Namun demikian, kondisi tersebut telah ditangani, dan tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah turun langsung ke lokasi untuk menyiapkan solusi penanganan.

“Sebelum viral pun kami sudah menyampaikan bahwa memang ada 26 KK, 96 jiwa yang ada di Tamiang yang di Desa Sekumur yang ada ibu-ibu dan sudah didatangi oleh tim dari BNPB. Solusinya sudah ada. Nah, ini kira-kira mudah-mudahan ini bisa menjelaskan dan juga bisa menyelesaikan, artinya solusinya sudah ada,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa penyelesaian hunian di wilayah tersebut ditargetkan rampung dalam waktu dekat. “Insya Allah paling lambat 2 minggu ke depan, tapi lagi diupayakan oleh Pak Kepala BNPB minggu depan mudah-mudahan bisa selesai karena perlu ada listrik juga perlu ada air, air minum dan lain-lain di sana,” tambahnya.

Sementara itu, di Kabupaten Bireuen masih terdapat 17 kepala keluarga atau sekitar 75 jiwa yang berada di tenda, tepatnya di area halaman kantor bupati yang dijadikan lokasi penampungan sementara. Tito menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh adanya perbedaan preferensi masyarakat terkait skema hunian yang diinginkan.

Menurutnya, sebagian masyarakat tidak bersedia menerima skema Dana Tunggu Hunian (DTH) dan menginginkan agar langsung dibangunkan hunian tetap maupun hunian sementara. Di sisi lain, pemerintah kabupaten pada awalnya mendorong agar masyarakat langsung menempati hunian tetap.

Namun, dari keseluruhan 403 kepala keluarga terdampak, terdapat 17 kepala keluarga yang memilih untuk dibangunkan hunian sementara terlebih dahulu sebelum nantinya beralih ke hunian tetap.

“Nah, persoalannya apa? Masyarakat ini menghendaki agar mereka tidak mau menerima DTH, tapi mau langsung dibangunkan Huntap atau Huntara. Sementara dari pemerintahan kabupaten menyampaikan masyarakat inginnya dari tenda langsung Huntap semua. Tapi rupanya ada yang berbeda 17 KK gak,” ungkapnya.

Tito menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai upaya mediasi untuk menjembatani perbedaan pandangan tersebut. Salah satu opsi yang ditawarkan adalah pemanfaatan Dana Tunggu Hunian yang memungkinkan masyarakat tinggal sementara di rumah keluarga.

Namun, pemerintah daerah mengusulkan agar langsung dibangun hunian tetap. Atas perbedaan tersebut, pemerintah mengambil jalan tengah dengan menyiapkan solusi yang paling memungkinkan untuk segera direalisasikan.

“Kita tengahi dengan cara oke kita buatkan Huntap kemudian itu dikerjakan oleh BNPB dan sudah ada contohnya dan sedang berjalan ya, mudah-mudahan sesegera mungkin selesai ini solusinya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa penyelesaian hunian bagi warga terdampak terus dikebut agar seluruh pengungsi dapat segera menempati tempat tinggal yang layak.

“Kalau solusi ini sudah ada yang 26 KK di Aceh Tamiang ini sedang dibangun dan minggu depan paling lambat 2 minggu lagi selesai 26 ini akan masuk Huntara, no problem, yang 17 KK di Bireuen karena maunya langsung huntap ya otomatis perlu waktu karena membangun Huntap ini juga perlu waktu lebih dari sebulan,” pungkasnya.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
6 Fakta Gempa Kerak...
6 Fakta Gempa Kerak Dangkal M6,7 di Jalur Sesar Aktif Sulawesi Tengah
BMKG Pantau Potensi...
BMKG Pantau Potensi Likuefaksi usai Gempa Besar M6,7 di Palu Sulteng
BMKG: 9 Gempa Susulan...
BMKG: 9 Gempa Susulan Terjadi Pascagempa M6,7 di Palu
BNPB: Bencana Banjir...
BNPB: Bencana Banjir hingga Karhutla Melanda 4 Daerah
Gempa M7,7 Filipina...
Gempa M7,7 Filipina Picu Tsunami di Indonesia, BMKG: Tidak Masuk Zona Megathrust
Tsunami Terjadi di 3...
Tsunami Terjadi di 3 Wilayah Indonesia Pascagempa 7,7 di Filipina, BMKG: Ketinggian 9-18 Cm
Mendagri Minta Tambahan,...
Mendagri Minta Tambahan, Total Pagu Anggaran 2027 Rp10 Triliun
25 Wilayah Indonesia...
25 Wilayah Indonesia Berpotensi Tsunami Akibat Gempa M7,7 di Mindanao Filipina
Dasco Panggil Satgas...
Dasco Panggil Satgas Percepatan Penanganan Bencana Sumatera
Rekomendasi
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Prabowo Pakai Peci Karanji...
Prabowo Pakai Peci Karanji Hadiri Pekan Petani dan Nelayan di Gorontalo
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
Berita Terkini
DPC Rampung di 9 Kecamatan,...
DPC Rampung di 9 Kecamatan, Partai Perindo Tubaba Tancap Gas Bentuk DPRt
Digugat Roy Suryo soal...
Digugat Roy Suryo soal Penggeledahan, Polda Metro Jaya Siap Hadir
BNPP Perkuat Pengawasan...
BNPP Perkuat Pengawasan Perbatasan RI-Timor Leste via Survei Pengendalian Jalur Tak Resmi di Belu
Taufik Hidayat Pelaku...
Taufik Hidayat Pelaku Penganiayaan Pacar Ditahan di Sel Khusus
Prakiraan Cuaca Jakarta...
Prakiraan Cuaca Jakarta Rabu 24 Juni 2026: Berawan Sejak Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Sore Hari
Di Diskusi Partai Perindo,...
Di Diskusi Partai Perindo, JJ Rizal Minta Gubernur Jakarta Belajar dari Soekarno
Infografis
Eks Sandera Israel:...
Eks Sandera Israel: Pengeboman Gaza Hampir Merenggut Nyawa Saya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved