Soroti Perkembangan AI, RSM Indonesia Tekankan Pentingnya Tata Kelola dan Regulasi
Sabtu, 07 Maret 2026 - 18:00 WIB
loading...
Artificial Intelligence (AI) di Indonesia berkembang sangat pesat. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat mendorong banyak organisasi berinvestasi dan bereksperimen dengan berbagai solusi berbasis teknologi. Namun di tengah percepatan inovasi tersebut, aspek tata kelola (governance) kerap tertinggal.
Hal itu terungkap dalam webinar bertajuk “From AI Experiment to Trustworthy AI: Why Governance Determines Success in AI Innovation.” yang digelar RSM Indonesia. Webinar ini menyoroti bahwa keberhasilan implementasi AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kematangan tata kelola, manajemen risiko, serta akuntabilitas organisasi.
Chief Strategy Officer sekaligus Head of Governance Risk Control and Technology Consulting RSM Indonesia Angela Simatupang menegaskan, AI saat ini membuka peluang besar sekaligus eksposur baru bagi organisasi.
Baca juga: Mendorong Peran AI di Asia Tenggara dalam Bangun Infrastruktur Kepercayaan Digital
“Selama lebih dari 40 tahun RSM Indonesia mendampingi organisasi dalam memperkuat tata kelola dan sistem pengendalian. Kami melihat bahwa AI governance kini menjadi agenda strategis di banyak negara. Transformasi digital yang berkelanjutan harus berdiri di atas fondasi governance yang jelas, manajemen risiko yang disiplin, serta struktur akuntabilitas yang tegas,” ujar Angela, Sabtu (7/3/2026).
Menurut Angela, perkembangan AI sering kali bergerak lebih cepat dibandingkan kesiapan organisasi dalam mengelolanya. “Banyak perusahaan sudah berinvestasi besar dalam teknologi AI. Namun pertanyaan mendasarnya adalah jika terjadi kesalahan keputusan akibat AI, siapa yang bertanggung jawab? Pada akhirnya regulator dan publik tidak akan meminta penjelasan kepada sistem, tetapi kepada organisasi,” jelasnya.
Lihat video: Gibran di KTT G20: AI Tentukan Kekuatan Ekonomi Global Masa Depan
Angela menambahkan organisasi yang mengadopsi AI tanpa kerangka governance yang memadai berpotensi menghadapi berbagai risiko. “Organisasi yang mengadopsi AI tanpa governance yang jelas bukan sedang berinovasi, tetapi sedang mengakumulasi risiko—mulai dari bias algoritma, pelanggaran data, keputusan yang tidak dapat dijelaskan, hingga risiko reputasi. Teknologi bisa dibeli, tetapi kepercayaan harus dijaga,” tambah Angela.
Senior Manager Data, AI and Emerging Technology RSM Indonesia Sindhu Wardhana, menjelaskan salah satu tantangan utama dalam implementasi AI adalah inovasi yang berkembang tanpa koordinasi yang terstruktur antar unit organisasi. Sementara itu, tekanan regulasi terkait perlindungan data dan tata kelola teknologi juga semakin meningkat.
Menurut Sindhu, organisasi perlu mengambil langkah sistematis agar AI dapat diadopsi secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Empat langkah utama dalam membangun AI governance meliputi AI Readiness Assessment untuk mengukur kesiapan organisasi, pengembangan AI Governance Framework yang menetapkan peran dan tanggung jawab berbasis risiko, penerapan AI Assurance dan Audit untuk memastikan sistem yang aman dan patuh regulasi.
“Termasuk AI Project Assurance guna menjaga kualitas dan kontrol sejak tahap perencanaan hingga implementasi,” ucapnya.
Turut memberikan perspektif dalam webinar tersebut, Abraham Kurniawan, ISO/IEC 42001 Specialist dari British Standards Institution (BSI), menekankan pentingnya penerapan AI Management System (AIMS) berbasis standar internasional seperti ISO/IEC 42001.
Implementasi AIMS tidak hanya berfungsi untuk memastikan kepatuhan, tetapi juga menjadi strategi bagi organisasi dalam menciptakan nilai dan keunggulan kompetitif. Dengan kerangka AIMS yang terstruktur, organisasi dapat memastikan sistem AI yang dikembangkan memiliki efektivitas dalam konteks nyata, meminimalkan potensi bias sehingga lebih adil, serta meningkatkan transparansi dalam proses pengambilan keputusan.
Lebih lanjut disampaikan bahwa governance yang kuat membantu meminimalisasi risiko kegagalan AI sejak tahap perencanaan hingga operasional. Implementasi AIMS yang efektif juga dapat memperkuat reputasi organisasi, meningkatkan kepercayaan pelanggan, mendorong efisiensi operasional, serta mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Hal itu terungkap dalam webinar bertajuk “From AI Experiment to Trustworthy AI: Why Governance Determines Success in AI Innovation.” yang digelar RSM Indonesia. Webinar ini menyoroti bahwa keberhasilan implementasi AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kematangan tata kelola, manajemen risiko, serta akuntabilitas organisasi.
Chief Strategy Officer sekaligus Head of Governance Risk Control and Technology Consulting RSM Indonesia Angela Simatupang menegaskan, AI saat ini membuka peluang besar sekaligus eksposur baru bagi organisasi.
Baca juga: Mendorong Peran AI di Asia Tenggara dalam Bangun Infrastruktur Kepercayaan Digital
“Selama lebih dari 40 tahun RSM Indonesia mendampingi organisasi dalam memperkuat tata kelola dan sistem pengendalian. Kami melihat bahwa AI governance kini menjadi agenda strategis di banyak negara. Transformasi digital yang berkelanjutan harus berdiri di atas fondasi governance yang jelas, manajemen risiko yang disiplin, serta struktur akuntabilitas yang tegas,” ujar Angela, Sabtu (7/3/2026).
Menurut Angela, perkembangan AI sering kali bergerak lebih cepat dibandingkan kesiapan organisasi dalam mengelolanya. “Banyak perusahaan sudah berinvestasi besar dalam teknologi AI. Namun pertanyaan mendasarnya adalah jika terjadi kesalahan keputusan akibat AI, siapa yang bertanggung jawab? Pada akhirnya regulator dan publik tidak akan meminta penjelasan kepada sistem, tetapi kepada organisasi,” jelasnya.
Lihat video: Gibran di KTT G20: AI Tentukan Kekuatan Ekonomi Global Masa Depan
Angela menambahkan organisasi yang mengadopsi AI tanpa kerangka governance yang memadai berpotensi menghadapi berbagai risiko. “Organisasi yang mengadopsi AI tanpa governance yang jelas bukan sedang berinovasi, tetapi sedang mengakumulasi risiko—mulai dari bias algoritma, pelanggaran data, keputusan yang tidak dapat dijelaskan, hingga risiko reputasi. Teknologi bisa dibeli, tetapi kepercayaan harus dijaga,” tambah Angela.
Senior Manager Data, AI and Emerging Technology RSM Indonesia Sindhu Wardhana, menjelaskan salah satu tantangan utama dalam implementasi AI adalah inovasi yang berkembang tanpa koordinasi yang terstruktur antar unit organisasi. Sementara itu, tekanan regulasi terkait perlindungan data dan tata kelola teknologi juga semakin meningkat.
Menurut Sindhu, organisasi perlu mengambil langkah sistematis agar AI dapat diadopsi secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Empat langkah utama dalam membangun AI governance meliputi AI Readiness Assessment untuk mengukur kesiapan organisasi, pengembangan AI Governance Framework yang menetapkan peran dan tanggung jawab berbasis risiko, penerapan AI Assurance dan Audit untuk memastikan sistem yang aman dan patuh regulasi.
“Termasuk AI Project Assurance guna menjaga kualitas dan kontrol sejak tahap perencanaan hingga implementasi,” ucapnya.
Turut memberikan perspektif dalam webinar tersebut, Abraham Kurniawan, ISO/IEC 42001 Specialist dari British Standards Institution (BSI), menekankan pentingnya penerapan AI Management System (AIMS) berbasis standar internasional seperti ISO/IEC 42001.
Implementasi AIMS tidak hanya berfungsi untuk memastikan kepatuhan, tetapi juga menjadi strategi bagi organisasi dalam menciptakan nilai dan keunggulan kompetitif. Dengan kerangka AIMS yang terstruktur, organisasi dapat memastikan sistem AI yang dikembangkan memiliki efektivitas dalam konteks nyata, meminimalkan potensi bias sehingga lebih adil, serta meningkatkan transparansi dalam proses pengambilan keputusan.
Lebih lanjut disampaikan bahwa governance yang kuat membantu meminimalisasi risiko kegagalan AI sejak tahap perencanaan hingga operasional. Implementasi AIMS yang efektif juga dapat memperkuat reputasi organisasi, meningkatkan kepercayaan pelanggan, mendorong efisiensi operasional, serta mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.
(cip)
Lihat Juga :