Kisah Kesaktian Sunan Kalijaga Menundukkan Kera-Kera Raksasa Hutan Gunungpati
Sabtu, 07 Maret 2026 - 09:42 WIB
loading...
Sunan Kalijaga menaklukkan kera-kera besar penguni Hutan Gunungpati saat mencari kayu jati untuk membangun masjid di wilayah kekuasaan Kesultanan Demak. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
SOSOK Sunan Kalijaga dikenal sebagai salah satu wali besar penyebar Islam di Pulau Jawa. Selain berdakwah dengan pendekatan budaya, tokoh bernama asli Raden Sahid ini juga kerap dikisahkan memiliki kesaktian yang digunakan untuk membantu penyebaran agama Islam.
Salah satu kisah menarik terjadi ketika ia mendapat perintah dari Sultan Demak untuk mencari kayu jati terbaik di hutan belantara. Kayu tersebut akan digunakan untuk membangun masjid sebagai pusat syiar Islam di wilayah kekuasaan Kesultanan Demak.
Baca juga: Kisah Sunan Kalijaga Menjaga Tongkat Sakti Sunan Bonang
Tanpa ragu, Sunan Kalijaga menjalankan amanah tersebut. Ia menuju hutan lebat di kawasan Gunungpati. Dikutip dari buku "Kesaktian dan Tarekat Sunan Kalijaga" karya Rusydie Anwar, hutan itu dikenal sangat rimbun dan dipenuhi pohon-pohon jati besar yang tumbuh subur.
Namun sesuai perintah Sultan Demak, Sunan Kalijaga diminta mencari pohon jati yang paling besar dan berkualitas terbaik untuk dijadikan bahan pembangunan masjid.
Setelah berhari-hari menyusuri hutan, ia akhirnya menemukan pohon jati yang sangat besar. Akan tetapi, pohon itu ternyata menjadi tempat tinggal sekelompok kera berukuran besar.
Kehadiran Sunan Kalijaga rupanya membuat para kera itu terkejut. Mereka bergelantungan di dahan-dahan pohon dan satu per satu turun ke tanah seolah siap menyerang orang asing yang datang ke wilayah mereka.
Situasi itu tidak membuat Sunan Kalijaga panik. Ia justru berjalan mencari sungai kecil di sekitar lokasi untuk berwudhu. Setelah itu, sang wali menengadahkan tangan dan berdoa kepada Allah SWT agar para kera tersebut tidak mengganggu dan justru bersedia membantunya.
Baca juga: Biografi Sunan Kalijaga, Sejarah Hingga Cara Berdakwah
Kera-kera yang semula tampak agresif tiba-tiba berubah sikap. Mereka turun dari pohon dan duduk berbaris di hadapan Sunan Kalijaga dengan tenang.
Sunan Kalijaga semakin takjub ketika para kera itu disebut mampu berbicara seperti manusia. “Kami siap tunduk pada perintahmu,” kata para kera itu.
Mendengar hal tersebut, Sunan Kalijaga lalu menjelaskan maksud kedatangannya. Ia mengatakan bahwa dirinya diutus untuk mengambil pohon jati besar tersebut guna membangun masjid sebagai tempat ibadah dan penyebaran agama Islam.
Permintaan Tak Terduga dari Para Kera (H2)
Sunan Kalijaga berharap para kera bersedia mengikhlaskan pohon jati yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka. Para kera akhirnya bersedia membantu. Namun mereka mengajukan satu syarat, yakni ingin menjadi pengikut Sunan Kalijaga dan ikut bersamanya ke Demak.
Permintaan itu membuat Sunan Kalijaga keberatan. Ia menilai syarat tersebut muncul karena para kera merasa kehilangan tempat tinggalnya.
Sebagai gantinya, Sunan Kalijaga menanam dua pohon jati di depan sebuah gua yang berada di hutan tersebut. Ia meminta para kera tetap tinggal dan menjaga kawasan itu. Anehnya, para kera langsung mematuhi perintah sang wali.
Gua tempat para kera itu diyakini kemudian dikenal sebagai Goa Kreo. Nama “Kreo” berasal dari kata “Mangreho” yang berarti peliharalah atau jagalah.
Lokasi ini berada di kawasan Semarang, tepatnya di wilayah Gunungpati yang dahulu merupakan hutan lebat. Hingga kini, Goa Kreo masih menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup populer. Di kawasan tersebut masih banyak kera yang hidup bebas dan terkenal cukup jinak dengan para pengunjung.
Masyarakat setempat bahkan meyakini kera-kera yang ada di Goa Kreo merupakan keturunan dari kera yang pernah bertemu dengan Sunan Kalijaga dalam kisah pembangunan masjid pada masa lalu.
Salah satu kisah menarik terjadi ketika ia mendapat perintah dari Sultan Demak untuk mencari kayu jati terbaik di hutan belantara. Kayu tersebut akan digunakan untuk membangun masjid sebagai pusat syiar Islam di wilayah kekuasaan Kesultanan Demak.
Baca juga: Kisah Sunan Kalijaga Menjaga Tongkat Sakti Sunan Bonang
Tanpa ragu, Sunan Kalijaga menjalankan amanah tersebut. Ia menuju hutan lebat di kawasan Gunungpati. Dikutip dari buku "Kesaktian dan Tarekat Sunan Kalijaga" karya Rusydie Anwar, hutan itu dikenal sangat rimbun dan dipenuhi pohon-pohon jati besar yang tumbuh subur.
Namun sesuai perintah Sultan Demak, Sunan Kalijaga diminta mencari pohon jati yang paling besar dan berkualitas terbaik untuk dijadikan bahan pembangunan masjid.
Setelah berhari-hari menyusuri hutan, ia akhirnya menemukan pohon jati yang sangat besar. Akan tetapi, pohon itu ternyata menjadi tempat tinggal sekelompok kera berukuran besar.
Kera-Kera Raksasa Turun dari Pohon
Kehadiran Sunan Kalijaga rupanya membuat para kera itu terkejut. Mereka bergelantungan di dahan-dahan pohon dan satu per satu turun ke tanah seolah siap menyerang orang asing yang datang ke wilayah mereka.
Situasi itu tidak membuat Sunan Kalijaga panik. Ia justru berjalan mencari sungai kecil di sekitar lokasi untuk berwudhu. Setelah itu, sang wali menengadahkan tangan dan berdoa kepada Allah SWT agar para kera tersebut tidak mengganggu dan justru bersedia membantunya.
Baca juga: Biografi Sunan Kalijaga, Sejarah Hingga Cara Berdakwah
Kera-kera yang semula tampak agresif tiba-tiba berubah sikap. Mereka turun dari pohon dan duduk berbaris di hadapan Sunan Kalijaga dengan tenang.
Sunan Kalijaga semakin takjub ketika para kera itu disebut mampu berbicara seperti manusia. “Kami siap tunduk pada perintahmu,” kata para kera itu.
Mendengar hal tersebut, Sunan Kalijaga lalu menjelaskan maksud kedatangannya. Ia mengatakan bahwa dirinya diutus untuk mengambil pohon jati besar tersebut guna membangun masjid sebagai tempat ibadah dan penyebaran agama Islam.
Permintaan Tak Terduga dari Para Kera (H2)
Sunan Kalijaga berharap para kera bersedia mengikhlaskan pohon jati yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka. Para kera akhirnya bersedia membantu. Namun mereka mengajukan satu syarat, yakni ingin menjadi pengikut Sunan Kalijaga dan ikut bersamanya ke Demak.
Permintaan itu membuat Sunan Kalijaga keberatan. Ia menilai syarat tersebut muncul karena para kera merasa kehilangan tempat tinggalnya.
Sebagai gantinya, Sunan Kalijaga menanam dua pohon jati di depan sebuah gua yang berada di hutan tersebut. Ia meminta para kera tetap tinggal dan menjaga kawasan itu. Anehnya, para kera langsung mematuhi perintah sang wali.
Gua tempat para kera itu diyakini kemudian dikenal sebagai Goa Kreo. Nama “Kreo” berasal dari kata “Mangreho” yang berarti peliharalah atau jagalah.
Lokasi ini berada di kawasan Semarang, tepatnya di wilayah Gunungpati yang dahulu merupakan hutan lebat. Hingga kini, Goa Kreo masih menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup populer. Di kawasan tersebut masih banyak kera yang hidup bebas dan terkenal cukup jinak dengan para pengunjung.
Masyarakat setempat bahkan meyakini kera-kera yang ada di Goa Kreo merupakan keturunan dari kera yang pernah bertemu dengan Sunan Kalijaga dalam kisah pembangunan masjid pada masa lalu.
(shf)
Lihat Juga :