Komitmen Suli Beri Bantuan Seumur Hidup untuk Guru Honorer di Kupang NTT
Kamis, 26 Februari 2026 - 17:27 WIB
loading...
Pendiri komunitas TWS Sulianto Indria Putra berkomitmen memberikan bantuan finansial seumur hidup untuk guru honorer di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto: Ist
A
A
A
KUPANG - Pendiri komunitas TWS Sulianto Indria Putra berkomitmen memberikan bantuan finansial seumur hidup untuk guru honorer di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). TWS merupakan komunitas edukasi digital yang berkembang sebagai ruang pembelajaran literasi finansial, investasi, dan pengelolaan aset digital.
Bagi sebagian orang, pertumbuhan finansial adalah tujuan akhir. Namun, menurut Suli, pertumbuhan hanyalah alat bukan destinasi.
Baca juga: Kolaborasi Guru dan Siswa di Kupang: Inovasi Pembelajaran hingga Bengkel Mandiri
Di balik aktivitas tersebut, Suli memegang satu prinsip yakni keberhasilan harus memiliki dampak sosial. Prinsip itu diuji ketika dia mendengar kisah dari pedalaman Kupang.
Agustinus, seorang guru honorer yang telah mengabdi selama 23 tahun menerima pemotongan gaji dari Rp600.000 menjadi Rp223.000 per bulan. Di sekolah yang sama, Wesli sebagai kepala sekolah hanya memperoleh Rp100.000 per bulan.
Angka tersebut bukan sekadar nominal kecil. Itu adalah realita yang harus mereka hadapi setiap bulan untuk menghidupi keluarga. Ketika informasi itu sampai kepadanya, Suli tidak melihatnya sebagai sekadar berita sedih. Dia melihatnya sebagai tanggung jawab.
“Jika kita berbicara tentang masa depan bangsa, maka kita sedang berbicara tentang guru. Dan jika guru tidak sejahtera, kita sedang membiarkan fondasi itu rapuh,” tuturnya.
Bagi sebagian orang, pertumbuhan finansial adalah tujuan akhir. Namun, menurut Suli, pertumbuhan hanyalah alat bukan destinasi.
Baca juga: Kolaborasi Guru dan Siswa di Kupang: Inovasi Pembelajaran hingga Bengkel Mandiri
Di balik aktivitas tersebut, Suli memegang satu prinsip yakni keberhasilan harus memiliki dampak sosial. Prinsip itu diuji ketika dia mendengar kisah dari pedalaman Kupang.
Agustinus, seorang guru honorer yang telah mengabdi selama 23 tahun menerima pemotongan gaji dari Rp600.000 menjadi Rp223.000 per bulan. Di sekolah yang sama, Wesli sebagai kepala sekolah hanya memperoleh Rp100.000 per bulan.
Angka tersebut bukan sekadar nominal kecil. Itu adalah realita yang harus mereka hadapi setiap bulan untuk menghidupi keluarga. Ketika informasi itu sampai kepadanya, Suli tidak melihatnya sebagai sekadar berita sedih. Dia melihatnya sebagai tanggung jawab.
“Jika kita berbicara tentang masa depan bangsa, maka kita sedang berbicara tentang guru. Dan jika guru tidak sejahtera, kita sedang membiarkan fondasi itu rapuh,” tuturnya.
Lihat Juga :