Penganiayaan Guru oleh KKB di Yahukimo Dinilai Sinyal Perang Psikologis

Selasa, 10 Februari 2026 - 17:12 WIB
loading...
Penganiayaan Guru oleh...
Pengamat Politik Udayana Efatha Filomeno Borromeu Duarte menyatakan penganiayaan guru di Sekolah Yakpesmi Distrik Dekai, Yahukimo, Papua Pegunungan, Senin (2/2/2026) oleh KKB dinilai bukan lagi insiden keamanan biasa. Foto: Ist
A A A
YAHUKIMO - Penganiayaan guru di lingkungan Sekolah Yakpesmi Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Senin (2/2/2026) oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dinilai bukan lagi insiden keamanan biasa. Ini merupakan indikator strategis pergeseran konflik yang mengancam ketahanan negara Indonesia dari dalam.

Pengamat Politik Universitas Udayana Efatha Filomeno Borromeu Duarte menuturkan kekerasan tenaga pendidik harus dibaca sebagai operasi psikologis terencana, bukan reaksi spontan konflik bersenjata. “Dalam analisis intelijen, ketika guru dijadikan target itu menandakan fase konflik telah bergeser ke delegitimasi negara. Yang diserang bukan aparat melainkan kepercayaan publik dan keberlanjutan fungsi negara,” ujar Efatha, Selasa (10/2/2026).

Baca juga: Guru Tewas Diserang KKB di Yahukimo, MPSI: Ini Kejahatan Kemanusiaan

Menurut dia, guru merupakan sasaran berbiaya rendah namun berdampak tinggi (low-cost, high-impact target). Dampaknya langsung terasa yakni ketakutan sosial, lumpuhnya layanan pendidikan, serta melemahnya kehadiran negara di tingkat paling dasar.

“Ini bukan perang senjata melainkan perang persepsi. Pesan yang dikirim jelas yaitu negara dianggap tidak mampu melindungi fungsi dasarnya,” katanya.

Efatha juga menyoroti narasi yang menyebut para guru sebagai mata-mata. Dia menilai tuduhan tersebut sebagai bagian dari operasi informasi untuk menciptakan ambiguitas moral dan membingungkan opini publik internasional.

“Dalam konflik modern, narasi seringkali lebih menentukan daripada peluru. Jika dibiarkan, semua warga sipil bisa dipersepsikan sebagai target sah,” ucapnya.

Dia memperingatkan dampak berlapis jika pola ini berlanjut. Pertama, brain drain structural ketika guru dan tenaga profesional enggan bertugas di Papua. Kedua, kekosongan tata kelola, negara hadir secara militer tetapi absen secara sosial. Ketiga, internasionalisasi isu Papua karena kekerasan terhadap pendidikan dengan cepat masuk radar HAM global dan memengaruhi reputasi Indonesia.

“Pada titik itu, masalahnya bukan lagi Yahukimo, tetapi ketahanan nasional dan kredibilitas Indonesia di mata dunia,” ujar Efatha.

Karena itu, dia menilai pendekatan keamanan konvensional tidak lagi memadai. Negara perlu menggeser strategi dari respons reaktif ke perlindungan strategis.

“Perlindungan guru dan sekolah harus diperlakukan setara dengan perlindungan objek vital nasional. Dalam bahasa politik jika pendidikan runtuh akibat teror, negara sedang dilemahkan tanpa perang terbuka,” ungkapnya.

Pemerintah menyatakan komitmen menindak pelaku kekerasan dan meningkatkan perlindungan warga sipil. Namun, tragedi Yahukimo kembali menegaskan bahwa ukuran kekuatan negara di era modern bukan hanya senjata dan pasukan melainkan kemampuannya menjaga guru, sekolah, dan masa depan generasinya.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Insiden di Blok M, Kuasa...
Insiden di Blok M, Kuasa Hukum Selebgram MIA Beri Klarifikasi
Anggota KKB Pelaku Pembakaran...
Anggota KKB Pelaku Pembakaran Perumahan Pemkab dan Penembakan Pesawat Ditangkap
Terungkap, Selebgram...
Terungkap, Selebgram Woodyrman Mabuk saat Hajar Warga Negara Brunei di Blok M
Kronologi Wanita Ditabok...
Kronologi Wanita Ditabok Sesama Penumpang JakLingko
Wadanyon HSSBI KKB Kodap...
Wadanyon HSSBI KKB Kodap XVI Yahukimo Ditangkap, Satgas Cartenz Sita Amunisi dan Sajam
PKM di Meruya, UMB Dorong...
PKM di Meruya, UMB Dorong Kompetensi Guru SMK
Mensos: Rekrutmen Guru...
Mensos: Rekrutmen Guru Sekolah Rakyat 2026 Capai 5.000 Orang
WNI Dianiaya di Malaysia,...
WNI Dianiaya di Malaysia, Kemlu Sebut 4 Pelaku Sudah Diamankan
Kasus Erin Berbalik...
Kasus Erin Berbalik Arah? Bukti Psikologis Nur Disebut Untungkan Herawati
Rekomendasi
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan...
Prabowo Apresiasi Pelaksanaan Haji 2026, Beri Catatan Ini untuk Tahun Depan
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Hak Dasar Investor di Pasar Modal
Berita Terkini
Pegadaian Kanwil IX...
Pegadaian Kanwil IX Jakarta 2 Gelar Khitanan Massal Gratis di Dua Lokasi
Rencana Aksi Lagi di...
Rencana Aksi Lagi di Bundaran HI, Ketua BEM UI Ingin Dobrak Kemacetan Mobilitas Sosial
Viral Gunung Lawu Akan...
Viral Gunung Lawu Akan Erupsi Besar, Badan Geologi: Hoaks!
Besok Eksekusi Lahan...
Besok Eksekusi Lahan Hotel Sultan, Sejumlah Akses Menuju GBK Ditutup
Divonis 6 Tahun Penjara,...
Divonis 6 Tahun Penjara, Pengusaha Jambi Bengawan Kamto Tempuh Banding
KSP Dudung Cek Progres...
KSP Dudung Cek Progres MRT Jakarta Fase 2A, Siap Beroperasi 2027
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved