Menteri PPPA Sebut Siswa SD di NTT Bunuh Diri karena Tak Punya Tempat Bercerita
Sabtu, 07 Februari 2026 - 18:02 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut, Arifah mengatakan adanya faktor budaya yang turut menjadi faktor. Dimana di lingkungan masyarakat, masih kuat anggapan bahwa laki-laki tidak boleh menangis atau cengeng.
"masih ada di budaya kita laki-laki harus kuat, laki-laki enggak boleh cengeng, laki-laki enggak boleh nangis gitu ya. Jadi ini mungkin menjadi, mungkin ya, kita belum analisa nanti kalau sudah ada analisa yang lebih kuat, kita akan sampaikan," tambahnya.
Baca juga: Refleksi dari Kasus Meninggalnya Siswa SD di NTT, Anak Tak Selalu Mampu Ungkap Perasaannya
Kondisi ini, kata Arifah, semakin diperparah dengan kemiskinan. Apalagi, anak tersebut berasal dari orang tua tunggal atau single parent yang harus bekerja sepanjang hari demi menyambung hidup, komunikasi antara anak dan orang tua menjadi terhambat.
"Mungkin penyebab utama adalah kemiskinan, sehingga orang tua tidak bisa mendampingi secara utuh. Orang tuanya single parent yang bekerja sepanjang hari, mungkin komunikasi juga tidak terjalin dengan baik," tegas Arifah.
"masih ada di budaya kita laki-laki harus kuat, laki-laki enggak boleh cengeng, laki-laki enggak boleh nangis gitu ya. Jadi ini mungkin menjadi, mungkin ya, kita belum analisa nanti kalau sudah ada analisa yang lebih kuat, kita akan sampaikan," tambahnya.
Baca juga: Refleksi dari Kasus Meninggalnya Siswa SD di NTT, Anak Tak Selalu Mampu Ungkap Perasaannya
Kondisi ini, kata Arifah, semakin diperparah dengan kemiskinan. Apalagi, anak tersebut berasal dari orang tua tunggal atau single parent yang harus bekerja sepanjang hari demi menyambung hidup, komunikasi antara anak dan orang tua menjadi terhambat.
"Mungkin penyebab utama adalah kemiskinan, sehingga orang tua tidak bisa mendampingi secara utuh. Orang tuanya single parent yang bekerja sepanjang hari, mungkin komunikasi juga tidak terjalin dengan baik," tegas Arifah.
Lihat Juga :