Jembatan Ruas Pari-Karoya Pandeglang Ambruk, Aktivitas Warga Lumpuh
Minggu, 01 Februari 2026 - 20:32 WIB
loading...
Jembatan penghubung di Mandalawangi, Pandeglang ambruk, Sabtu (31/1/2026). Akibatnya, akses utama transportasi terputus dan ribuan warga di lima desa terisolir. Foto/Fariz Abdullah
A
A
A
PANDEGLANG - Jembatan penghubung antar desa di Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten ambruk pada Sabtu (31/1/2026). Akibatnya, akses utama transportasi terputus dan ribuan warga di lima desa terisolir.
Jembatan ambruk yang berada di ruas jalan Pari–Karoya, tepatnya di Kampung Cisaat, Desa Sinarjaya, memiliki panjang sekitar 8 meter dan lebar 5,5 meter. Selama ini, jembatan tersebut menjadi jalur vital masyarakat untuk menuju pasar, puskesmas, serta pusat pelayanan pemerintahan.
Baca juga: Momen Prabowo Susuri Jembatan Pante Dona Aceh yang Putus Akibat Banjir
Kepala Seksi Pembangunan Kecamatan Mandalawangi, Iriyadi mengatakan, ambruknya jembatan disebabkan kerusakan struktur yang sudah berlangsung lama. Kerusakan terlihat pada bagian dinding dan pondasi jembatan yang mengalami pelapukan.
“Pondasinya sudah rusak parah. Ditambah intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir, jembatan tidak mampu menahan beban dan akhirnya ambruk,” kata Iriyadi saat dihubungi, Minggu (1/2/2026).
Menurut Iriyadi, tanda-tanda kerusakan serius telah terdeteksi sejak dua tahun lalu. Saat dilakukan pengecekan, kondisi pondasi jembatan bahkan sudah menggantung dan dinilai sangat berisiko roboh.
Baca juga: Baru Diresmikan, Jembatan Hongqi 757 Meter di China Runtuh
“Sekitar dua tahun lalu sudah ada laporan dari warga. Setelah dicek, pondasinya memang sudah menggantung dan kami menilai jembatan ini tidak akan bertahan lama,” ujarnya.
Ambruknya jembatan tersebut berdampak langsung terhadap mobilitas warga di lima desa, yakni Desa Pari, Panjangjaya, Sinarjaya, Cikumbueun, dan Ramea. Seluruh kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas. Sementara itu, pejalan kaki masih bisa menyeberang dengan keterbatasan dan risiko keselamatan.
“Jembatan ini merupakan ruas jalan kewenangan kabupaten dan menjadi penghubung utama lima desa. Saat ini kendaraan tidak bisa melintas sama sekali,” ujar Iriyadi.
Ia menambahkan, jalur alternatif memang tersedia, namun jaraknya cukup jauh karena harus memutar, sehingga menyulitkan warga, terutama dari arah Desa Pari.
Dalam peristiwa ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa. Pemerintah kecamatan berharap pemerintah daerah segera melakukan penanganan agar akses transportasi dan aktivitas perekonomian warga dapat kembali normal.
“Kami berharap jembatan ini segera ditindaklanjuti untuk dibangun kembali,” kata Iriyadi.
Jembatan ambruk yang berada di ruas jalan Pari–Karoya, tepatnya di Kampung Cisaat, Desa Sinarjaya, memiliki panjang sekitar 8 meter dan lebar 5,5 meter. Selama ini, jembatan tersebut menjadi jalur vital masyarakat untuk menuju pasar, puskesmas, serta pusat pelayanan pemerintahan.
Baca juga: Momen Prabowo Susuri Jembatan Pante Dona Aceh yang Putus Akibat Banjir
Kepala Seksi Pembangunan Kecamatan Mandalawangi, Iriyadi mengatakan, ambruknya jembatan disebabkan kerusakan struktur yang sudah berlangsung lama. Kerusakan terlihat pada bagian dinding dan pondasi jembatan yang mengalami pelapukan.
“Pondasinya sudah rusak parah. Ditambah intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir, jembatan tidak mampu menahan beban dan akhirnya ambruk,” kata Iriyadi saat dihubungi, Minggu (1/2/2026).
Menurut Iriyadi, tanda-tanda kerusakan serius telah terdeteksi sejak dua tahun lalu. Saat dilakukan pengecekan, kondisi pondasi jembatan bahkan sudah menggantung dan dinilai sangat berisiko roboh.
Baca juga: Baru Diresmikan, Jembatan Hongqi 757 Meter di China Runtuh
“Sekitar dua tahun lalu sudah ada laporan dari warga. Setelah dicek, pondasinya memang sudah menggantung dan kami menilai jembatan ini tidak akan bertahan lama,” ujarnya.
Ambruknya jembatan tersebut berdampak langsung terhadap mobilitas warga di lima desa, yakni Desa Pari, Panjangjaya, Sinarjaya, Cikumbueun, dan Ramea. Seluruh kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas. Sementara itu, pejalan kaki masih bisa menyeberang dengan keterbatasan dan risiko keselamatan.
“Jembatan ini merupakan ruas jalan kewenangan kabupaten dan menjadi penghubung utama lima desa. Saat ini kendaraan tidak bisa melintas sama sekali,” ujar Iriyadi.
Ia menambahkan, jalur alternatif memang tersedia, namun jaraknya cukup jauh karena harus memutar, sehingga menyulitkan warga, terutama dari arah Desa Pari.
Dalam peristiwa ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa. Pemerintah kecamatan berharap pemerintah daerah segera melakukan penanganan agar akses transportasi dan aktivitas perekonomian warga dapat kembali normal.
“Kami berharap jembatan ini segera ditindaklanjuti untuk dibangun kembali,” kata Iriyadi.
(shf)
Lihat Juga :