Program Nutrisi Esok Hari Edukasi Pentingnya Pangan Nabati Ramah Lingkungan
Selasa, 27 Januari 2026 - 16:11 WIB
loading...
Program Nutrisi Esok Hari (NEH) memberikan pelatihan memasak yang lebih sehat dan berkelanjutan di di beberapa kota di Jawa Barat yaitu Majalaya, Indramayu, dan Cirebon. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
CIREBON - Memasuki 2026, Nutrisi Esok Hari (NEH) memperkuat komitmennya dalam mendorong sistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan di Indonesia melalui dukungan, pelatihan, dan edukasi gratis bagi berbagai institusi. Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan edukasi NEH sepanjang 2025, termasuk road trip edukasi pada 22 hingga 29 November 2025 di beberapa kota di Jawa Barat yaitu Majalaya, Indramayu, dan Cirebon.
Kegiatan ini menyoroti pentingnya pangan nabati ramah lingkungan bagi kesehatan masyarakat dan kelestarian bumi. Di tiga kota ini, NEH fokus meningkatkan masyarakat, khususnya pada institusi pendidikan dan organisasi sosial, akan pentingnya sistem pangan etis serta meningkatkan pola konsumsi yang mendukung pelestarian lingkungan dan menjaga iklim di Indonesia. Baca juga: Studi Terbaru: Produk Berbasis Nabati Lebih Sehat dan Berkelanjutan Dibanding Produk Hewani
Yohana Sadeli, perwakilan dari tim NEH percaya bahwa transformasi menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan dimulai dari piring kita sehari-hari. Sudah banyak data membuktikan bahwa pangan nabati tak hanya lebih ramah bagi lingkungan, tapi juga lebih menyehatkan. ”Melalui rangkaian road trip ini, kami ingin membuktikan bahwa beralih ke pangan nabati mudah dan terjangkau untuk diterapkan oleh institusi mana pun di Indonesia," katanya, Selasa (27/1/2025).
Dalam program ini, NEH mendorong setiap institusi untuk mulai menerapkan menu bergizi seimbang berbasis nabati. Terdiri dari kacang-kacangan atau polong-polongan, serealia, sayuran, dan biji-bijian di piring kita, ruang makan maupun kantin institusi tersebut yang setidaknya bisa menyajikan secara penuh dalam satu kali seminggu.
Urgensi transisi ke pola makan nabati didorong oleh fakta bahwa produksi pangan global saat ini menyumbang lebih dari seperempat, atau sekitar, dari total emisi gas rumah kaca dunia. Riset secara konsisten membuktikan bahwa produksi pangan hewani jauh lebih boros sumber daya, terutama dalam penggunaan air dan lahan, dibandingkan pangan nabati.
Sebagai gambaran nyata, produksi daging sapi membutuhkan lahan 20 kali lebih luas dan menghasilkan emisi 20 kali lebih besar untuk setiap gram protein yang dihasilkan jika dibandingkan dengan kacang-kacangan. Dengan demikian peralihan ke pangan nabati menjadi langkah paling efisien dalam menjaga kelestarian bumi.
Perjalanan edukasi ini dimulai di Yayasan SAPA di Majalaya dan dilanjutkan ke Rumah Edukasi Kenanga di Indramayu pada 25 November 2025. Dalam sesi pelatihan di Indramayu, istri Wakil Bupati Indramayu Idah Nuryani hadir memberikan kata sambutan sekaligus memberikan dukungan moril terhadap inisiatif kesehatan ini. Rangkaian kegiatan kemudian diakhiri di Cirebon melalui kolaborasi bersama Yayasan Pertakina Indonesia Sejahtera Abadi dan Yayasan Banati.
Pada puncak acara di Yayasan Banati pada 29 November 2025, Camat Gempol Sri Darmanto secara resmi membuka acara dan menyampaikan apresiasinya terhadap misi keberlanjutan yang dibawa oleh NEH. Selama kegiatan berlangsung, para peserta mendapatkan edukasi gizi mendalam melalui pemaparan materi dan aktivitas interaktif seperti menggambar konsep "Isi Piringku" serta menuliskan komitmen pribadi untuk menjalankan gaya hidup sehat. Selain teori, para peserta juga mengikuti demo masak secara langsung untuk memahami cara mengolah bahan pangan nabati menjadi sajian yang menggugah selera. Baca juga: Pola Makan Sehat Sesuai Petunjuk Al Quran, Keluarga Muslim Wajib Tahu
Sebagai langkah ke depan, NEH berkomitmen untuk terus menjalin kolaborasi dan berharap dapat menyelenggarakan lebih banyak pelatihan serupa di masa mendatang. NEH akan terus menyediakan dukungan dan pelatihan tanpa biaya, mulai dari penyediaan resep, estimasi nilai gizi, hingga pelatihan dapur bagi institusi di Indonesia yang ingin bertransformasi menuju penyajian makanan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi manusia serta bumi.
NEH merupakan program keberlanjutan internasional yang bertujuan untuk membantu institusi dalam menyajikan makanan yang lebih sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Program ini menawarkan dukungan komprehensif tanpa biaya, termasuk resep, analisis gizi, hingga pelatihan dapur bagi organisasi yang berkomitmen menerapkan menu berbasis nabati sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Kegiatan ini menyoroti pentingnya pangan nabati ramah lingkungan bagi kesehatan masyarakat dan kelestarian bumi. Di tiga kota ini, NEH fokus meningkatkan masyarakat, khususnya pada institusi pendidikan dan organisasi sosial, akan pentingnya sistem pangan etis serta meningkatkan pola konsumsi yang mendukung pelestarian lingkungan dan menjaga iklim di Indonesia. Baca juga: Studi Terbaru: Produk Berbasis Nabati Lebih Sehat dan Berkelanjutan Dibanding Produk Hewani
Yohana Sadeli, perwakilan dari tim NEH percaya bahwa transformasi menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan dimulai dari piring kita sehari-hari. Sudah banyak data membuktikan bahwa pangan nabati tak hanya lebih ramah bagi lingkungan, tapi juga lebih menyehatkan. ”Melalui rangkaian road trip ini, kami ingin membuktikan bahwa beralih ke pangan nabati mudah dan terjangkau untuk diterapkan oleh institusi mana pun di Indonesia," katanya, Selasa (27/1/2025).
Dalam program ini, NEH mendorong setiap institusi untuk mulai menerapkan menu bergizi seimbang berbasis nabati. Terdiri dari kacang-kacangan atau polong-polongan, serealia, sayuran, dan biji-bijian di piring kita, ruang makan maupun kantin institusi tersebut yang setidaknya bisa menyajikan secara penuh dalam satu kali seminggu.
Urgensi transisi ke pola makan nabati didorong oleh fakta bahwa produksi pangan global saat ini menyumbang lebih dari seperempat, atau sekitar, dari total emisi gas rumah kaca dunia. Riset secara konsisten membuktikan bahwa produksi pangan hewani jauh lebih boros sumber daya, terutama dalam penggunaan air dan lahan, dibandingkan pangan nabati.
Sebagai gambaran nyata, produksi daging sapi membutuhkan lahan 20 kali lebih luas dan menghasilkan emisi 20 kali lebih besar untuk setiap gram protein yang dihasilkan jika dibandingkan dengan kacang-kacangan. Dengan demikian peralihan ke pangan nabati menjadi langkah paling efisien dalam menjaga kelestarian bumi.
Perjalanan edukasi ini dimulai di Yayasan SAPA di Majalaya dan dilanjutkan ke Rumah Edukasi Kenanga di Indramayu pada 25 November 2025. Dalam sesi pelatihan di Indramayu, istri Wakil Bupati Indramayu Idah Nuryani hadir memberikan kata sambutan sekaligus memberikan dukungan moril terhadap inisiatif kesehatan ini. Rangkaian kegiatan kemudian diakhiri di Cirebon melalui kolaborasi bersama Yayasan Pertakina Indonesia Sejahtera Abadi dan Yayasan Banati.
Pada puncak acara di Yayasan Banati pada 29 November 2025, Camat Gempol Sri Darmanto secara resmi membuka acara dan menyampaikan apresiasinya terhadap misi keberlanjutan yang dibawa oleh NEH. Selama kegiatan berlangsung, para peserta mendapatkan edukasi gizi mendalam melalui pemaparan materi dan aktivitas interaktif seperti menggambar konsep "Isi Piringku" serta menuliskan komitmen pribadi untuk menjalankan gaya hidup sehat. Selain teori, para peserta juga mengikuti demo masak secara langsung untuk memahami cara mengolah bahan pangan nabati menjadi sajian yang menggugah selera. Baca juga: Pola Makan Sehat Sesuai Petunjuk Al Quran, Keluarga Muslim Wajib Tahu
Sebagai langkah ke depan, NEH berkomitmen untuk terus menjalin kolaborasi dan berharap dapat menyelenggarakan lebih banyak pelatihan serupa di masa mendatang. NEH akan terus menyediakan dukungan dan pelatihan tanpa biaya, mulai dari penyediaan resep, estimasi nilai gizi, hingga pelatihan dapur bagi institusi di Indonesia yang ingin bertransformasi menuju penyajian makanan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi manusia serta bumi.
NEH merupakan program keberlanjutan internasional yang bertujuan untuk membantu institusi dalam menyajikan makanan yang lebih sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Program ini menawarkan dukungan komprehensif tanpa biaya, termasuk resep, analisis gizi, hingga pelatihan dapur bagi organisasi yang berkomitmen menerapkan menu berbasis nabati sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan dan kesehatan masyarakat.
(poe)
Lihat Juga :