Pakar ITB: Longsor Cisarua Bandung Barat Akibat Faktor Alamiah dan Manusia yang Kompleks

Senin, 26 Januari 2026 - 09:52 WIB
loading...
Pakar ITB: Longsor Cisarua...
Musibah longsor yang melanda Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu, 24 Januari 2026 tidak dapat hanya dipahami sebagai dampak alih fungsi lahan. Foto: Ist
A A A
JAKARTA - Musibah longsor yang melanda Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu, 24 Januari 2026 tidak dapat hanya dipahami sebagai dampak alih fungsi lahan.

Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Achmad Sadisun mengatakan, kejadian tersebut merupakan hasil dari interaksi faktor alamiah yang kompleks dengan berbagai faktor manusia. Kemudian, menghasilkan mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang dipicu longsoran di bagian hulu sistem alirannya.

Baca juga: 2 Anggota Polda Jawa Barat Gugur saat Tugas Penanganan Longsor Cisarua

Wilayah KBB termasuk dalam lingkungan geologi yang berada pada produk-produk vulkanik tua yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan relatif tebal. Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang relatif lebih kedap air kerap menjadi bidang gelincirnya.

Kondisi ini makin diperlemah oleh hujan dalam durasi panjang yang menyebabkan air meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh. “Ketika pori-pori tanah sudah jenuh oleh air, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Pada kondisi inilah lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri,” ujar Imam dikutip dari laman resmi ITB, Senin (26/1/2026).

Menurut dia, pemicu longsor tidak hanya ditentukan durasi hujan melainkan juga oleh intensitasnya. Dalam ilmu kebumian dikenal hubungan antara durasi dan intensitas hujan. Hujan dengan intensitas sedang namun berlangsung lama dapat sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam durasi yang singkat.

Salah satu temuan penting dalam kejadian ini adalah indikasi longsoran di hulu salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang yang menutup alur sungai tersebut hingga membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam).

Akibat tertutupnya alur sungai, aliran air tertahan sementara dan membentuk genangan di bagian hulu bersamaan dengan akumulasi sedimen berupa lumpur, pasir, hingga bongkah batu. Ketika bendungan alam ini tidak lagi mampu menahan tekanan air dalam volume tertentu, bendungan jebol dan memicu aliran lumpur (mudflow) ke arah hilir mengikuti jalur sungai yang ada.

Aliran ini bukan sekadar air melainkan aliran lumpur yang bahkan kerap mengandung bongkah-bongkah batu dan ranting-ranting kayu yang bergerak cepat dan memiliki dampak kerusakan lebih dahsyat.

“Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor pada lereng-lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai,” kata Imam.

Karakter aliran semacam ini umumnya memiliki daya rusak yang jauh lebih tinggi dibandingkan aliran air biasa karena muatan sedimen yang sangat besar. Fenomena ini lebih tepat dikategorikan sebagai aliran lumpur (mudflow) atau bahkan bisa menjadi aliran debris (debris flow).

Hal ini pula yang dapat menjelaskan mengapa terdapat kerusakan yang parah sepanjang jalur alirannya atau yang berada di kawasan bantaran sungai yang ada, meskipun wilayah tersebut tidak berada langsung di zona sumber longsoran.

Imam juga mengingatkan adanya potensi bahaya susulan mengingat masih ditemukannya indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai. Jika hujan kembali terjadi dengan intensitas tinggi, akumulasi air di balik sumbatan-sumbatan tersebut berpotensi kembali jebol dan kembali memicu aliran lumpur yang membahayakan wilayah hilir.

Meskipun sebagian besar area terdampak berada pada zona kerentanan longsoran yang relatif rendah hingga menengah secara regional, area-area tersebut, terutama lokasi permukiman berada di sempadan sungai yang berisiko tinggi terlanda aliran lumpur dan bahkan aliran debris dari bagian hulu.

Dia juga menyoroti pentingnya vegetasi dalam menjaga stabilitas lereng. Selain berfungsi secara mekanik melalui perakaran yang meningkatkan kohesivitas tanah, vegetasi juga berperan secara hidrologis dengan memperlambat kejenuhan tanah oleh air hujan.

Dalam menghadapi bahaya aliran lumpur dan/atau aliran debris, mitigasi dapat dilakukan melalui tiga pendekatan utama. Pertama, upaya stabilisasi lereng di bagian hulu, khususnya pada lereng-lereng yang berpotensi longsor sebagai sumber material, dan bahkan dapat menutup alur-alur sungai.

Kedua, pemantauan jalur aliran (flow track) menggunakan teknologi seperti geofon, sensor getaran, dan kamera pemantau untuk mendeteksi pergerakan material sejak dini.

Ketiga, perlindungan di bagian jalur aliran hingga hilir melalui pembangunan struktur penghalang aliran lumpur/debris (debris flow barrier), tanggul pengelak (deflection wall), pagar pemecah aliran (debris fence) or cekungan penampung aliran (debris flow catch basin).

“Yang paling merusak itu bukan airnya, tetapi material sedimen yang terbawa aliran. Karena itu, sistem mitigasi perlu difokuskan pada pengendalian sedimennya,” ujar Imam.

Sebagai langkah mitigasi nonstruktural, dia menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda alam. Salah satu indikator yang kerap diabaikan adalah menyusut atau hilangnya aliran air sungai secara tiba-tiba saat hujan masih berlangsung yang dapat menandakan adanya sumbatan atau pembendungan di bagian hulu.

“Jika sungai yang biasanya mengalir tiba-tiba surut saat hujan lebat, masyarakat harus waspada dan segera menjauh dari alur sungai,” katanya.

Melalui kejadian ini, dia berharap pemahaman masyarakat terhadap bahaya longsoran tidak lagi terbatas pada peristiwa runtuhnya suatu lereng, tetapi juga mencakup risiko aliran bermuatan sedimen hingga aliran lumpur/debris dari hulu yang dapat terjadi tanpa tanda visual yang jelas di area permukiman.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Fenomena Awan Pelangi...
Fenomena Awan Pelangi Muncul di Langit Jonggol, BMKG: Berkaitan dengan Optik Atmosfer
Pernah Nyanyikan Lagu...
Pernah Nyanyikan Lagu Erika HMT ITB saat Jadi Ketua Himpunan, Pramono: Tapi, Liriknya Berbeda
Soroti Kasus Pelecehan...
Soroti Kasus Pelecehan Seksual di FHUI, Mendiktisaintek: Tidak Ada Ruang bagi Tindak Kekerasan di Perguruan Tinggi
Habis UI Terbitlah ITB,...
Habis UI Terbitlah ITB, Viral Lagu Mahasiswa Tambang Lecehkan Perempuan
25 Titik di Tangsel...
25 Titik di Tangsel Banjir dan 13 Lokasi Longsor Akibat Hujan dan Angin Kencang
Diguyur Hujan Deras,...
Diguyur Hujan Deras, Tangsel Terendam Banjir hingga Longsor
NASA Temukan Sesuatu...
NASA Temukan Sesuatu yang Misterius saat Perubahan Waktu Siang ke Malam
Fenomena Titik Dingin...
Fenomena Titik Dingin Atlantik Utara Terdeteksi, Tanda-tanda Bumi Sekarat Kian Nyata
Hasil ONMIPA-PT 2026:...
Hasil ONMIPA-PT 2026: ITB Raih Juara Umum, Ini Daftar Lengkap Peraih Medali
Rekomendasi
Prabowo Pakai Peci Karanji...
Prabowo Pakai Peci Karanji Hadiri Pekan Petani dan Nelayan di Gorontalo
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
Kolombia Pecundangi...
Kolombia Pecundangi RD Kongo, Daniel Munoz Cetak Gol Penentu Kemenangan
Berita Terkini
BNPP Perkuat Pengawasan...
BNPP Perkuat Pengawasan Perbatasan RI-Timor Leste via Survei Pengendalian Jalur Tak Resmi di Belu
Taufik Hidayat Pelaku...
Taufik Hidayat Pelaku Penganiayaan Pacar Ditahan di Sel Khusus
Prakiraan Cuaca Jakarta...
Prakiraan Cuaca Jakarta Rabu 24 Juni 2026: Berawan Sejak Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Sore Hari
Di Diskusi Partai Perindo,...
Di Diskusi Partai Perindo, JJ Rizal Minta Gubernur Jakarta Belajar dari Soekarno
Polisi Tangkap Taufik...
Polisi Tangkap Taufik Hidayat Penganiaya Pacar di Bandung lewat Transaksi Belanja
DPW Partai Perindo DKI...
DPW Partai Perindo DKI Launching Warkop Aspirasa, Gelar Diskusi Refleksi 499 Tahun Jakarta
Infografis
Profil Ayatollah Ali...
Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Tewas Diserang AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved