Soal Korban Pesawat ATR Jatuh di Sulsel, Kepala Basarnas Berharap Ada Mukjizat
Selasa, 20 Januari 2026 - 19:54 WIB
loading...
Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya TNI M Syafii. Foto/Felldy Utama
A
A
A
JAKARTA - Kepala Badan SAR Nasional ( Basarnas ) Marsekal Madya TNI M Syafi'i menyebut tidak ada korban yang selamat dari peristiwa kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Maros , Sulawesi Selatan. Namun, Syafi'i tetap berharap ada mukjizat untuk bisa menemukan korban selamat.
"Tidak ada. Saya sampaikan kita masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup," kata Syafi'i di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Ia mengisahkan pengalaman sebelumnya, pernah ada pesawat yang juga mengalami kecelakaan seperti yang dialami ATR 42-500, tapi ternyata ada penumpang yang masih hidup. Dia menyebut penumpang itu selamat setelah sebelumnya mengalami mati suri.
Baca Juga: Pesawat ATR Jatuh di Sulsel Pernah Ikut Bantu Cari Korban Kapal Terbakar
"Karena pernah itu kejadian ada pesawat crash, kemudian kondisinya sama, terburai pesawatnya, tapi ternyata ada penumpang yang terlempar, kemudian mati suri, beberapa hari ditemukan dalam kondisi hidup," ujarnya.
Jadi, kata Syafi'i, pihaknya berupaya untuk melaksanakan pencarian korban. "Sambil kita mengumpulkan puing-puing untuk nanti diserahkan kepada KNKT," ujarnya.
Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyampaikan perkembangan penanganan pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) yang dilaporkan mengalami hilang kontak (lost contact) saat melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Tim SAR Gabungan berhasil menemukan serpihan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung yang berada di perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Lokasi tersebut berjarak sekitar 26,49 kilometer dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, dan berdekatan dengan posko Basarnas terdekat.
Penemuan serpihan pesawat pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, melalui operasi pencarian terpadu yang mengombinasikan pencarian darat dan udara. TNI Angkatan Udara mengerahkan pesawat tanpa awak (drone) sejak pukul 06.15 Wita yang kemudian dilanjutkan dengan penyisiran menggunakan helikopter TNI AU.
Pada pukul 07.46 Wita, tim berhasil mengidentifikasi secara visual serpihan pesawat berupa jendela yang menjadi penanda awal lokasi kecelakaan. Selang tiga menit kemudian, tepatnya pada pukul 07.49 Wita, ditemukan serpihan berukuran besar yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekornya.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa menegaskan bahwa pada tahap ini belum berada dalam posisi untuk menyimpulkan penyebab kejadian. Seluruh aspek yang berkaitan dengan proses investigasi, termasuk faktor penyebab kecelakaan pesawat, sepenuhnya menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan akan disampaikan secara resmi oleh KNKT sesuai ketentuan yang berlaku.
Jumlah orang di dalam pesawat (Persons on Board/POB) tercatat sebanyak 10 orang, yang terdiri atas 7 awak pesawat dan 3 penumpang, dengan rincian sebagai berikut:
Awak Pesawat:
1. Capt. Andy Dahananto
2. SIC / FO M. Farhan Gunawan
3. FOO Hariadi
4. EOB Restu Adi P
5. EOB Dwi Murdiono
6. FA Florencia Lolita
7. FA Esther Aprilita S
Penumpang:
1. Deden
2. Ferry
3. Yoga
Proses evakuasi masih terus dilaksanakan oleh Basarnas bersama unsur gabungan TNI/Polri serta dukungan masyarakat setempat. Basarnas telah mendirikan Posko Topo Bulu yang berjarak sekitar 4,6 kilometer dari lokasi kecelakaan. Dua korban sudah ditemukan. Evakuasi terkendala cuaca buruk.
"Tidak ada. Saya sampaikan kita masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup," kata Syafi'i di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Ia mengisahkan pengalaman sebelumnya, pernah ada pesawat yang juga mengalami kecelakaan seperti yang dialami ATR 42-500, tapi ternyata ada penumpang yang masih hidup. Dia menyebut penumpang itu selamat setelah sebelumnya mengalami mati suri.
Baca Juga: Pesawat ATR Jatuh di Sulsel Pernah Ikut Bantu Cari Korban Kapal Terbakar
"Karena pernah itu kejadian ada pesawat crash, kemudian kondisinya sama, terburai pesawatnya, tapi ternyata ada penumpang yang terlempar, kemudian mati suri, beberapa hari ditemukan dalam kondisi hidup," ujarnya.
Jadi, kata Syafi'i, pihaknya berupaya untuk melaksanakan pencarian korban. "Sambil kita mengumpulkan puing-puing untuk nanti diserahkan kepada KNKT," ujarnya.
Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyampaikan perkembangan penanganan pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) yang dilaporkan mengalami hilang kontak (lost contact) saat melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Tim SAR Gabungan berhasil menemukan serpihan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung yang berada di perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Lokasi tersebut berjarak sekitar 26,49 kilometer dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, dan berdekatan dengan posko Basarnas terdekat.
Penemuan serpihan pesawat pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, melalui operasi pencarian terpadu yang mengombinasikan pencarian darat dan udara. TNI Angkatan Udara mengerahkan pesawat tanpa awak (drone) sejak pukul 06.15 Wita yang kemudian dilanjutkan dengan penyisiran menggunakan helikopter TNI AU.
Pada pukul 07.46 Wita, tim berhasil mengidentifikasi secara visual serpihan pesawat berupa jendela yang menjadi penanda awal lokasi kecelakaan. Selang tiga menit kemudian, tepatnya pada pukul 07.49 Wita, ditemukan serpihan berukuran besar yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekornya.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa menegaskan bahwa pada tahap ini belum berada dalam posisi untuk menyimpulkan penyebab kejadian. Seluruh aspek yang berkaitan dengan proses investigasi, termasuk faktor penyebab kecelakaan pesawat, sepenuhnya menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan akan disampaikan secara resmi oleh KNKT sesuai ketentuan yang berlaku.
Jumlah orang di dalam pesawat (Persons on Board/POB) tercatat sebanyak 10 orang, yang terdiri atas 7 awak pesawat dan 3 penumpang, dengan rincian sebagai berikut:
Awak Pesawat:
1. Capt. Andy Dahananto
2. SIC / FO M. Farhan Gunawan
3. FOO Hariadi
4. EOB Restu Adi P
5. EOB Dwi Murdiono
6. FA Florencia Lolita
7. FA Esther Aprilita S
Penumpang:
1. Deden
2. Ferry
3. Yoga
Proses evakuasi masih terus dilaksanakan oleh Basarnas bersama unsur gabungan TNI/Polri serta dukungan masyarakat setempat. Basarnas telah mendirikan Posko Topo Bulu yang berjarak sekitar 4,6 kilometer dari lokasi kecelakaan. Dua korban sudah ditemukan. Evakuasi terkendala cuaca buruk.
(zik)
Lihat Juga :