IAPI Gelar Perayaan Natal, Akuntan Publik Diharapkan Semakin Kompak
Minggu, 11 Januari 2026 - 10:34 WIB
loading...
Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) untuk pertama kalinya menggelar perayaan ibadah dan Natal bersama bagi anggotanya beragama Kristen dan Katolik. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) untuk pertama kalinya menggelar perayaan ibadah dan Natal bersama bagi anggotanya beragama Kristen dan Katolik. Kegiatan tersebut mengusung tema “Allah Menyelamatkan Keluarga” dengan subtema “Cahaya Kasih di Tengah Profesionalisme”.
Acara itu diharapkan menjadi sarana mempererat kebersamaan sekaligus penguatan nilai profesionalisme akuntan publik. Ketua Panitia Natal IAPI Fiantonius Sihotang, CPA, mengatakan perayaan ini menjadi momen penting karena baru pertama kali diselenggarakan sejak IAPI berdiri.
Dia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan wadah untuk menyatukan para akuntan publik lintas latar belakang. “Hari ini kita dari Institut Akuntan Publik Indonesia menyelenggarakan perayaan ibadah dan Natal tahun 2025. Ini acara perdana dan sangat kita nantikan, supaya para akuntan publik semakin kompak dan tidak tersekat-sekat,” ujar Fiantonius, Sabtu (10/1/2026).
Baca juga: Silaturahmi Menkum Supratman dan Pemred: KUHP, KUHAP, hingga Bantuan Hukum Dibahas
Ia menjelaskan, perayaan Natal ini melibatkan anggota Kristen dan Katolik yang tergabung dalam satu kepanitiaan dan peserta. Hal tersebut mencerminkan semangat persaudaraan dan kebersamaan di dalam tubuh organisasi profesi.
“Semua di sini bergabung, baik Kristen maupun Katolik. Kita ingin punya ruang untuk bertemu, beribadah, dan bersukacita bersama,” tuturnya yang juga merupakan Dewan Pengurus Nasional IAPI ini.
Dia menegaskan bahwa perayaan Natal tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menjadi sarana penyampaian pesan profesionalisme di tengah tantangan global dan nasional yang penuh ketidakpastian.
“Kami ingin mengingatkan teman-teman akuntan publik agar tetap menjaga profesionalitas. Di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian, kita percaya pada penyertaan Tuhan dalam kehidupan dan profesi kita,” ujarnya.
Ia pun berharap 2026 membawa kondisi yang lebih baik, baik bagi Indonesia maupun dunia secara umum. “Kita berharap perekonomian Indonesia semakin membaik dan bangsa ini terus diberkati,” tambahnya.
Terkait jumlah peserta, Fiantonius menyebutkan perayaan Natal tersebut dihadiri sekitar 250 orang, melampaui target awal panitia. “Target awal kita sekitar 200 peserta, dan yang hadir sekitar 250 orang. Ini tentu sangat menggembirakan,” jelasnya.
Dia mengatakan, jumlah tersebut cukup signifikan mengingat total akuntan publik Kristen dan Katolik di Indonesia sekitar 600 hingga 700 orang yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. “Dari total sekitar 1.700 akuntan publik se-Indonesia, yang bisa hadir 200-an sudah lumayan,” ujarnya.
Dia juga menjelaskan bahwa IAPI berdiri sejak 2007 sebagai organisasi profesi yang terpisah dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), sesuai dengan standar internasional. “Pemisahan ini bukan karena konflik, tetapi karena tuntutan standar internasional yang mengharuskan profesi akuntan publik berdiri sendiri,” jelasnya.
Dia juga menyoroti pentingnya peran akuntan publik dalam perekonomian nasional. Ia mengklaim, profesi ini sangat strategis karena bertugas memberikan opini atas kewajaran laporan keuangan.
“Akuntan publik adalah satu-satunya profesi yang diizinkan negara untuk menyatakan apakah laporan keuangan itu wajar atau tidak. Ini profesi yang mulia dan sangat dibutuhkan,” tegasnya.
Kendati demikian, ia mengakui jumlah akuntan publik di Indonesia masih tergolong kurang jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. “Di Indonesia jumlah akuntan publik sekitar 1.700, sementara negara tetangga rata-rata sudah di atas 5.000,” ungkapnya.
Maka itu, ia mendorong generasi muda untuk tertarik menekuni profesi akuntan publik. Terlebih ke depan akan semakin banyak regulasi yang mewajibkan audit laporan keuangan. “Ini peluang besar bagi generasi muda,” pungkasnya.
Acara itu diharapkan menjadi sarana mempererat kebersamaan sekaligus penguatan nilai profesionalisme akuntan publik. Ketua Panitia Natal IAPI Fiantonius Sihotang, CPA, mengatakan perayaan ini menjadi momen penting karena baru pertama kali diselenggarakan sejak IAPI berdiri.
Dia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan wadah untuk menyatukan para akuntan publik lintas latar belakang. “Hari ini kita dari Institut Akuntan Publik Indonesia menyelenggarakan perayaan ibadah dan Natal tahun 2025. Ini acara perdana dan sangat kita nantikan, supaya para akuntan publik semakin kompak dan tidak tersekat-sekat,” ujar Fiantonius, Sabtu (10/1/2026).
Baca juga: Silaturahmi Menkum Supratman dan Pemred: KUHP, KUHAP, hingga Bantuan Hukum Dibahas
Ia menjelaskan, perayaan Natal ini melibatkan anggota Kristen dan Katolik yang tergabung dalam satu kepanitiaan dan peserta. Hal tersebut mencerminkan semangat persaudaraan dan kebersamaan di dalam tubuh organisasi profesi.
“Semua di sini bergabung, baik Kristen maupun Katolik. Kita ingin punya ruang untuk bertemu, beribadah, dan bersukacita bersama,” tuturnya yang juga merupakan Dewan Pengurus Nasional IAPI ini.
Dia menegaskan bahwa perayaan Natal tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menjadi sarana penyampaian pesan profesionalisme di tengah tantangan global dan nasional yang penuh ketidakpastian.
“Kami ingin mengingatkan teman-teman akuntan publik agar tetap menjaga profesionalitas. Di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian, kita percaya pada penyertaan Tuhan dalam kehidupan dan profesi kita,” ujarnya.
Ia pun berharap 2026 membawa kondisi yang lebih baik, baik bagi Indonesia maupun dunia secara umum. “Kita berharap perekonomian Indonesia semakin membaik dan bangsa ini terus diberkati,” tambahnya.
Terkait jumlah peserta, Fiantonius menyebutkan perayaan Natal tersebut dihadiri sekitar 250 orang, melampaui target awal panitia. “Target awal kita sekitar 200 peserta, dan yang hadir sekitar 250 orang. Ini tentu sangat menggembirakan,” jelasnya.
Dia mengatakan, jumlah tersebut cukup signifikan mengingat total akuntan publik Kristen dan Katolik di Indonesia sekitar 600 hingga 700 orang yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. “Dari total sekitar 1.700 akuntan publik se-Indonesia, yang bisa hadir 200-an sudah lumayan,” ujarnya.
Dia juga menjelaskan bahwa IAPI berdiri sejak 2007 sebagai organisasi profesi yang terpisah dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), sesuai dengan standar internasional. “Pemisahan ini bukan karena konflik, tetapi karena tuntutan standar internasional yang mengharuskan profesi akuntan publik berdiri sendiri,” jelasnya.
Dia juga menyoroti pentingnya peran akuntan publik dalam perekonomian nasional. Ia mengklaim, profesi ini sangat strategis karena bertugas memberikan opini atas kewajaran laporan keuangan.
“Akuntan publik adalah satu-satunya profesi yang diizinkan negara untuk menyatakan apakah laporan keuangan itu wajar atau tidak. Ini profesi yang mulia dan sangat dibutuhkan,” tegasnya.
Kendati demikian, ia mengakui jumlah akuntan publik di Indonesia masih tergolong kurang jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. “Di Indonesia jumlah akuntan publik sekitar 1.700, sementara negara tetangga rata-rata sudah di atas 5.000,” ungkapnya.
Maka itu, ia mendorong generasi muda untuk tertarik menekuni profesi akuntan publik. Terlebih ke depan akan semakin banyak regulasi yang mewajibkan audit laporan keuangan. “Ini peluang besar bagi generasi muda,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :