Program Huma Betang di Kalteng Tonggak Reformasi Pendidikan Daerah
Sabtu, 10 Januari 2026 - 20:54 WIB
loading...
Transformasi sektor pendidikan di Kalteng di bawah kepemimpinan Gubernur Agustiar Sabran dan Wakil Gubernur Edy Pratowo mencatatkan babak penting. Bukan sekadar klaim pemerintah, keberhasilan itu mendapat legitimasi kuat dari publik. Foto: Ist
A
A
A
PALANGKARAYA - Transformasi sektor pendidikan di Kalimantan Tengah (Kalteng) di bawah kepemimpinan Gubernur Agustiar Sabran dan Wakil Gubernur Edy Pratowo mencatatkan babak penting. Bukan sekadar klaim pemerintah, keberhasilan itu kini mendapat legitimasi kuat dari publik.
Hasil survei nasional menunjukkan apresiasi yang nyaris sempurna terhadap Program Pendidikan Huma Betang, sebuah lompatan kebijakan yang dinilai menyentuh langsung kebutuhan dunia pendidikan.
Baca juga: IPM Kalteng 2025 Naik, Gubernur Agustiar: Perkuat Sektor Digitalisasi dan Pendidikan
Program Pendidikan Huma Betang dipandang sebagai tonggak reformasi pendidikan daerah sekaligus wujud keseriusan Pemprov Kalteng dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia. Sejalan dengan itu, persepsi positif terhadap kinerja Gubernur Agustiar Sabran juga tercatat sangat tinggi mencapai 97,6 persen.
Survei mengkaji berbagai elemen yang membentuk penilaian publik terhadap kinerja Pemprov Kalteng, khususnya di sektor pendidikan. Temuan ini bukan hanya menjadi cermin evaluasi masyarakat, tetapi juga rujukan objektif dalam perumusan kebijakan pendidikan ke depan.
Evaluasi terfokus pada 4 pilar utama Program Pendidikan Huma Betang yakni digitalisasi pendidikan, peningkatan sarana dan prasarana sekolah, Kelas Digital Huma Betang, serta program beasiswa pendidikan.
Digitalisasi diwujudkan melalui penyaluran televisi interaktif dan penyediaan internet gratis di sekolah-sekolah. Sementara, sarana prasarana difokuskan pada renovasi dan pembaruan fasilitas pendidikan.
Kelas Digital Huma Betang dikembangkan sebagai platform pembelajaran daring oleh Dinas Pendidikan Kalteng membuka ruang belajar jarak jauh yang lebih luas dan inklusif. Adapun program beasiswa diwujudkan melalui kebijakan sekolah gratis dan bantuan seragam bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Empat program tersebut mendapat respons sangat positif. Digitalisasi pendidikan menjadi program yang paling diapresiasi dengan tingkat kepuasan mencapai 95 persen. Responden menilai program ini mampu meningkatkan mutu pembelajaran, mempercepat akses informasi, serta membuat proses belajar mengajar lebih efisien dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Mayoritas responden juga merasakan perubahan signifikan pada kondisi sekolah, dengan tingkat persetujuan mencapai 79,9 persen. Peningkatan fasilitas umum, ketersediaan internet, serta akses listrik menjadi indikator utama perbaikan yang paling dirasakan.
Meski demikian, survei juga mencatat sejumlah tantangan yang masih perlu dibenahi. Kesiapan tenaga pendidik dan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi, keterbatasan pasokan listrik, serta belum meratanya jaringan internet di wilayah tertentu menjadi catatan penting.
Publik menilai peningkatan kompetensi guru dan pendampingan siswa harus terus diperkuat agar transformasi digital berjalan optimal dan bertanggung jawab.
Pelatihan berkelanjutan bagi guru serta pendampingan intensif kepada pelajar dinilai sebagai kebutuhan mendesak. Selain itu, keterbatasan infrastruktur dasar masih menjadi kendala utama dalam penerapan Kelas Digital Huma Betang di daerah pelosok. Mayoritas responden tetap optimistis Pemprov Kalteng mampu menuntaskan tantangan tersebut secara bertahap.
Sebagai informasi, Program Pendidikan Huma Betang resmi diluncurkan pada 10 September 2025 setelah melalui proses perancangan sejak 2024 dan direncanakan diperluas pada 2026.
Keberhasilan Program Pendidikan Huma Betang dipandang sebagai salah satu indikator utama penilaian kinerja Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, terutama dalam menghadirkan kebijakan pendidikan yang nyata, terukur, dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
Hasil survei nasional menunjukkan apresiasi yang nyaris sempurna terhadap Program Pendidikan Huma Betang, sebuah lompatan kebijakan yang dinilai menyentuh langsung kebutuhan dunia pendidikan.
Baca juga: IPM Kalteng 2025 Naik, Gubernur Agustiar: Perkuat Sektor Digitalisasi dan Pendidikan
Program Pendidikan Huma Betang dipandang sebagai tonggak reformasi pendidikan daerah sekaligus wujud keseriusan Pemprov Kalteng dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia. Sejalan dengan itu, persepsi positif terhadap kinerja Gubernur Agustiar Sabran juga tercatat sangat tinggi mencapai 97,6 persen.
Survei mengkaji berbagai elemen yang membentuk penilaian publik terhadap kinerja Pemprov Kalteng, khususnya di sektor pendidikan. Temuan ini bukan hanya menjadi cermin evaluasi masyarakat, tetapi juga rujukan objektif dalam perumusan kebijakan pendidikan ke depan.
Evaluasi terfokus pada 4 pilar utama Program Pendidikan Huma Betang yakni digitalisasi pendidikan, peningkatan sarana dan prasarana sekolah, Kelas Digital Huma Betang, serta program beasiswa pendidikan.
Digitalisasi diwujudkan melalui penyaluran televisi interaktif dan penyediaan internet gratis di sekolah-sekolah. Sementara, sarana prasarana difokuskan pada renovasi dan pembaruan fasilitas pendidikan.
Kelas Digital Huma Betang dikembangkan sebagai platform pembelajaran daring oleh Dinas Pendidikan Kalteng membuka ruang belajar jarak jauh yang lebih luas dan inklusif. Adapun program beasiswa diwujudkan melalui kebijakan sekolah gratis dan bantuan seragam bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Empat program tersebut mendapat respons sangat positif. Digitalisasi pendidikan menjadi program yang paling diapresiasi dengan tingkat kepuasan mencapai 95 persen. Responden menilai program ini mampu meningkatkan mutu pembelajaran, mempercepat akses informasi, serta membuat proses belajar mengajar lebih efisien dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Mayoritas responden juga merasakan perubahan signifikan pada kondisi sekolah, dengan tingkat persetujuan mencapai 79,9 persen. Peningkatan fasilitas umum, ketersediaan internet, serta akses listrik menjadi indikator utama perbaikan yang paling dirasakan.
Meski demikian, survei juga mencatat sejumlah tantangan yang masih perlu dibenahi. Kesiapan tenaga pendidik dan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi, keterbatasan pasokan listrik, serta belum meratanya jaringan internet di wilayah tertentu menjadi catatan penting.
Publik menilai peningkatan kompetensi guru dan pendampingan siswa harus terus diperkuat agar transformasi digital berjalan optimal dan bertanggung jawab.
Pelatihan berkelanjutan bagi guru serta pendampingan intensif kepada pelajar dinilai sebagai kebutuhan mendesak. Selain itu, keterbatasan infrastruktur dasar masih menjadi kendala utama dalam penerapan Kelas Digital Huma Betang di daerah pelosok. Mayoritas responden tetap optimistis Pemprov Kalteng mampu menuntaskan tantangan tersebut secara bertahap.
Sebagai informasi, Program Pendidikan Huma Betang resmi diluncurkan pada 10 September 2025 setelah melalui proses perancangan sejak 2024 dan direncanakan diperluas pada 2026.
Keberhasilan Program Pendidikan Huma Betang dipandang sebagai salah satu indikator utama penilaian kinerja Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, terutama dalam menghadirkan kebijakan pendidikan yang nyata, terukur, dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
(jon)
Lihat Juga :