Kemenkes Gandeng Persadia Pulihkan Layanan Kesehatan Pascabencana di Sumatera
Selasa, 06 Januari 2026 - 17:41 WIB
loading...
Kemenkes menggandeng Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) memulihkan layanan kesehatan. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Kesehatan ( Kemenkes ) menggandeng Novo Nordisk Indonesia, Changing Diabetes in Children (CDiC), dan Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) memulihkan layanan kesehatan. Pelayanan kesehatan tersebut ditujukan kepada pasien diabetes terdampak bencana alam di Sumatera.
Diketahui, bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat meninggalkan dampak besar bagi masyarakat dan infrastruktur.
Berdasarkan data dari situs web Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana tersebut telah menyebabkan 1.090 orang meninggal dunia, 186 orang dinyatakan hilang, serta lebih dari 7.000 orang mengalami luka-luka.
Baca juga: Penyakit Ancam Pengungsi, Kemenkes Diminta Kirim Nakes ke Lokasi Bencana
Kerusakan juga tercatat pada 147.236 rumah dan 219 fasilitas kesehatan di wilayah Sumatera sepanjang akhir November hingga Desember 2025. Kerusakan infrastruktur dan terganggunya layanan kesehatan pascabencana menyebabkan tantangan serius bagi penyandang diabetes yang bergantung pada pengobatan jangka panjang.
Gangguan distribusi obat dan keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan berisiko menghambat keberlanjutan terapi insulin. Tantangan ini menjadi semakin krusial bagi pasien diabetes tipe 1, khususnya anak dan remaja, yang sepenuhnya bergantung pada insulin untuk bertahan hidup sehingga terapi insulin tidak boleh terputus dalam kondisi apa pun.
Baca juga: 63 Brigjen TNI Dimutasi pada Desember 2025, Ini Daftar Namanya
Penghentian insulin, bahkan dalam waktu singkat, dapat berakibat fatal dan meningkatkan risiko komplikasi serius selama masa pemulihan pascabencana.
Direktur Pengelolaan dan Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Agusdini Banun Saptaningsih menyampaikan, bencana alam sangat berdampak pada keberlangsungan pengobatan pasien dengan penyakit kronis, termasuk diabetes.
Dalam situasi darurat seperti ini, ketersediaan obat esensial seperti insulin menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Karena itu pemerintah berkolaborasi dengan semua pihak untuk mengatasi tantangan ini.
"Kami mengapresiasi dukungan Novo Nordisk beserta seluruh mitra yang telah berkolaborasi dengan kami dalam memastikan pasien diabetes tetap dapat mendapatkan akses terapi insulin yang mereka butuhkan," katanya, Selasa (6/1/2026).
Dukungan ini merupakan bagian penting dari respons kesehatan pascabencana, sekaligus upaya untuk mencegah risiko komplikasi akibat terputusnya terapi, khususnya bagi pasien dengan penyakit kronis di wilayah terdampak.
Ketua PB Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Heri Nugroho menyoroti pasien diabetes menjadi salah satu kelompok paling rentan akibat terganggunya rantai distribusi obat selama bencana.
“Banjir yang melanda beberapa daerah di Sumatra menyebabkan kerusakan fasilitas kesehatan, terputusnya jalur distribusi obat, serta keterbatasan akses pasien terhadap insulin—obat esensial yang tidak boleh terhenti," ujarnya.
Melalui sinergi lintas sektor ini, seluruh pihak berharap penyaluran dukungan insulin dapat memberikan manfaat nyata bagi pasien diabetes di wilayah terdampak bencana, sekaligus berkontribusi pada penguatan layanan kesehatan dalam fase pemulihan pascabencana.
"Persadia bergerak cepat melalui koordinasi dan kolaborasi dengan Novo Nordisk, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan setempat, rumah sakit rujukan, puskesmas, serta relawan medis untuk mendistribusikan insulin secara tepat sasaran," ucapnya.
General Manager Novo Nordisk Indonesia Sreerekha Sreenivasan menegaskan, pihaknya menyadari bahwa bencana alam juga menimbulkan tantangan besar dalam keberlangsungan pengobatan pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes.
Melalui kolaborasi yang erat dengan Kementerian Kesehatan dan berbagai organisasi yang terlibat, pihaknya berharap donasi insulin ini dapat membantu menjaga keberlanjutan terapi bagi pasien diabetes yang terdampak bencana.
"Hal ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Novo Nordisk untuk terus mendukung dan memperkuat sistem kesehatan nasional, khususnya dalam penanganan diabetes dan obesitas,” ujarnya.
Donasi insulin ini akan disalurkan secara bertahap melalui mekanisme distribusi nasional yang dikoordinasikan oleh Kemenkes.Insulin dari program donasi ini akan dikirimkan oleh distributor resmi Novo Nordisk di Indonesia ke instalasi farmasi nasional/pusat.
Selanjutnya akan mendistribusikan insulin ke fasilitas layanan kesehatan di wilayah terdampak, termasuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan rujukan di tingkat daerah, sesuai dengan koordinasi dan arahan Kemenkes RI.
Secara keseluruhan, donasi ini ditujukan untuk menjangkau sekitar 500 pasien diabetes, yang terdiri dari pasien diabetes tipe 1 serta pasien diabetes tipe 2, di kabupaten/kota terdampak pada tiga provinsi di Pulau Sumatera.
Dari sudut pandang penanganan pasien anak dengan diabetes, Project Lead Changing Diabetes in Childen (CDiC) Aman Bhakti Pulungan menyampaikan bagi anak dan remaja dengan diabetes tipe 1, terapi insulin merupakan kebutuhan vital yang tidak boleh terputus dalam kondisi apa pun.
Terputusnya akses insulin, bahkan dalam waktu singkat, dapat berakibat fatal dan membahayakan keselamatan mereka. Di wilayah terdampak bencana, tercatat lebih dari 50 anak dengan diabetes tipe 1 yang membutuhkan insulin dan menghadapi tantangan berlapis, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan hingga ketidakpastian ketersediaan insulin.
"Inisiatif yang dilakukan Novo Nordisk melalui kolaborasi ini membantu memastikan anak-anak dengan diabetes tipe 1 tetap dapat melanjutkan terapi mereka secara aman dan berkelanjutan di tengah situasi darurat dan proses pemulihan pascabencana, karena tidak ada anak yang seharusnya meninggal akibat diabetes,” bebernya.
Diketahui, bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat meninggalkan dampak besar bagi masyarakat dan infrastruktur.
Berdasarkan data dari situs web Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana tersebut telah menyebabkan 1.090 orang meninggal dunia, 186 orang dinyatakan hilang, serta lebih dari 7.000 orang mengalami luka-luka.
Baca juga: Penyakit Ancam Pengungsi, Kemenkes Diminta Kirim Nakes ke Lokasi Bencana
Kerusakan juga tercatat pada 147.236 rumah dan 219 fasilitas kesehatan di wilayah Sumatera sepanjang akhir November hingga Desember 2025. Kerusakan infrastruktur dan terganggunya layanan kesehatan pascabencana menyebabkan tantangan serius bagi penyandang diabetes yang bergantung pada pengobatan jangka panjang.
Gangguan distribusi obat dan keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan berisiko menghambat keberlanjutan terapi insulin. Tantangan ini menjadi semakin krusial bagi pasien diabetes tipe 1, khususnya anak dan remaja, yang sepenuhnya bergantung pada insulin untuk bertahan hidup sehingga terapi insulin tidak boleh terputus dalam kondisi apa pun.
Baca juga: 63 Brigjen TNI Dimutasi pada Desember 2025, Ini Daftar Namanya
Penghentian insulin, bahkan dalam waktu singkat, dapat berakibat fatal dan meningkatkan risiko komplikasi serius selama masa pemulihan pascabencana.
Direktur Pengelolaan dan Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Agusdini Banun Saptaningsih menyampaikan, bencana alam sangat berdampak pada keberlangsungan pengobatan pasien dengan penyakit kronis, termasuk diabetes.
Dalam situasi darurat seperti ini, ketersediaan obat esensial seperti insulin menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Karena itu pemerintah berkolaborasi dengan semua pihak untuk mengatasi tantangan ini.
"Kami mengapresiasi dukungan Novo Nordisk beserta seluruh mitra yang telah berkolaborasi dengan kami dalam memastikan pasien diabetes tetap dapat mendapatkan akses terapi insulin yang mereka butuhkan," katanya, Selasa (6/1/2026).
Dukungan ini merupakan bagian penting dari respons kesehatan pascabencana, sekaligus upaya untuk mencegah risiko komplikasi akibat terputusnya terapi, khususnya bagi pasien dengan penyakit kronis di wilayah terdampak.
Ketua PB Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Heri Nugroho menyoroti pasien diabetes menjadi salah satu kelompok paling rentan akibat terganggunya rantai distribusi obat selama bencana.
“Banjir yang melanda beberapa daerah di Sumatra menyebabkan kerusakan fasilitas kesehatan, terputusnya jalur distribusi obat, serta keterbatasan akses pasien terhadap insulin—obat esensial yang tidak boleh terhenti," ujarnya.
Melalui sinergi lintas sektor ini, seluruh pihak berharap penyaluran dukungan insulin dapat memberikan manfaat nyata bagi pasien diabetes di wilayah terdampak bencana, sekaligus berkontribusi pada penguatan layanan kesehatan dalam fase pemulihan pascabencana.
"Persadia bergerak cepat melalui koordinasi dan kolaborasi dengan Novo Nordisk, Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan setempat, rumah sakit rujukan, puskesmas, serta relawan medis untuk mendistribusikan insulin secara tepat sasaran," ucapnya.
General Manager Novo Nordisk Indonesia Sreerekha Sreenivasan menegaskan, pihaknya menyadari bahwa bencana alam juga menimbulkan tantangan besar dalam keberlangsungan pengobatan pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes.
Melalui kolaborasi yang erat dengan Kementerian Kesehatan dan berbagai organisasi yang terlibat, pihaknya berharap donasi insulin ini dapat membantu menjaga keberlanjutan terapi bagi pasien diabetes yang terdampak bencana.
"Hal ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Novo Nordisk untuk terus mendukung dan memperkuat sistem kesehatan nasional, khususnya dalam penanganan diabetes dan obesitas,” ujarnya.
Donasi insulin ini akan disalurkan secara bertahap melalui mekanisme distribusi nasional yang dikoordinasikan oleh Kemenkes.Insulin dari program donasi ini akan dikirimkan oleh distributor resmi Novo Nordisk di Indonesia ke instalasi farmasi nasional/pusat.
Selanjutnya akan mendistribusikan insulin ke fasilitas layanan kesehatan di wilayah terdampak, termasuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan rujukan di tingkat daerah, sesuai dengan koordinasi dan arahan Kemenkes RI.
Secara keseluruhan, donasi ini ditujukan untuk menjangkau sekitar 500 pasien diabetes, yang terdiri dari pasien diabetes tipe 1 serta pasien diabetes tipe 2, di kabupaten/kota terdampak pada tiga provinsi di Pulau Sumatera.
Dari sudut pandang penanganan pasien anak dengan diabetes, Project Lead Changing Diabetes in Childen (CDiC) Aman Bhakti Pulungan menyampaikan bagi anak dan remaja dengan diabetes tipe 1, terapi insulin merupakan kebutuhan vital yang tidak boleh terputus dalam kondisi apa pun.
Terputusnya akses insulin, bahkan dalam waktu singkat, dapat berakibat fatal dan membahayakan keselamatan mereka. Di wilayah terdampak bencana, tercatat lebih dari 50 anak dengan diabetes tipe 1 yang membutuhkan insulin dan menghadapi tantangan berlapis, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan hingga ketidakpastian ketersediaan insulin.
"Inisiatif yang dilakukan Novo Nordisk melalui kolaborasi ini membantu memastikan anak-anak dengan diabetes tipe 1 tetap dapat melanjutkan terapi mereka secara aman dan berkelanjutan di tengah situasi darurat dan proses pemulihan pascabencana, karena tidak ada anak yang seharusnya meninggal akibat diabetes,” bebernya.
(cip)
Lihat Juga :