Pengakuan Trump : Ingin Bunuh Presiden Suriah, Bashar al-Assad
Rabu, 16 September 2020 - 09:43 WIB
loading...
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Foto : SINDOnews/Doc
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Suriah, Bashar al-Assad ternyata hampir saja dibunuh oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump . Trump batal melakukan pembunuhan itu karena dicegah James Norman Mattis, yang saat itu menjabat sebagai menteri pertahanan Amerika. Baca : Dibombardir Israel, Sistem Rudal Suriah Tembak Jatuh Misil Zionis
“Tidak, saya tidak menyesalinya. Saya bisa saja hidup dengan cara itu. Saya menganggap dia ( Assad ) jelas bukan orang yang baik," kata Trump kepada Fox News.
"Saya memiliki kesempatan untuk membunuhnya jika saya mau dan ( Menteri Pertahanan James ) Mattis menentang. Menentang sebagian besar dari hal itu," lanjut Trump yang menganggap Mattis sebagai seorang jenderal yang sangat dilebih-lebihkan.
Mattis mengundurkan diri dari jabatannya di Pentagon pada Desember 2018, sehari setelah Trump mengumumkan bahwa dia akan menarik pasukan AS dari Suriah . Mattis sangat menentang rencana penarikan tentara tersebut.
Dalam surat pengunduran dirinya, Mattis saat itu menjelaskan bahwa dia membuat keputusan karena Presiden Trump memiliki hak untuk memiliki menteri pertahanan yang pandangannya lebih selaras dengan pandangannya sendiri tentang berbagai masalah, termasuk komitmen terhadap aliansi AS dan perang melawan ISIS.
Wawancara Trump dengan Fox News terjadi dua tahun setelah Trump menepis tuduhan bahwa dia mendukung pembunuhan terhadap Assad. Saat itu dia bahkan mengklaim tidak pernah mempertimbangkan pembunuhan terhadap presiden Suriah .
“Tidak, saya tidak menyesalinya. Saya bisa saja hidup dengan cara itu. Saya menganggap dia ( Assad ) jelas bukan orang yang baik," kata Trump kepada Fox News.
"Saya memiliki kesempatan untuk membunuhnya jika saya mau dan ( Menteri Pertahanan James ) Mattis menentang. Menentang sebagian besar dari hal itu," lanjut Trump yang menganggap Mattis sebagai seorang jenderal yang sangat dilebih-lebihkan.
Mattis mengundurkan diri dari jabatannya di Pentagon pada Desember 2018, sehari setelah Trump mengumumkan bahwa dia akan menarik pasukan AS dari Suriah . Mattis sangat menentang rencana penarikan tentara tersebut.
Dalam surat pengunduran dirinya, Mattis saat itu menjelaskan bahwa dia membuat keputusan karena Presiden Trump memiliki hak untuk memiliki menteri pertahanan yang pandangannya lebih selaras dengan pandangannya sendiri tentang berbagai masalah, termasuk komitmen terhadap aliansi AS dan perang melawan ISIS.
Wawancara Trump dengan Fox News terjadi dua tahun setelah Trump menepis tuduhan bahwa dia mendukung pembunuhan terhadap Assad. Saat itu dia bahkan mengklaim tidak pernah mempertimbangkan pembunuhan terhadap presiden Suriah .
Lihat Juga :