Produksi Pangan Terdampak Iklim Ekstrem, Dancerinus Sango Dorong Penguatan Petani Sumba Barat
Senin, 22 Desember 2025 - 19:19 WIB
loading...
Anggota DPRD Sumba Barat, Dancerinus Arifin Sango menilai ketahanan pangan dan perlindungan masyarakat jadi perhatian serius dalam perumusan kebijakan daerah. Foto/SindoNews
A
A
A
SUMBA BARAT - Dampak perubahan iklim ekstrem kian dirasakan nyata oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk di Kabupaten Sumba Barat. Hasil riset terbaru yang dipaparkan dalam diskusi publik di Kupang, beberapa waktu lalu mengungkap fakta mengkhawatirkan yakni produksi pangan di sejumlah desa mengalami penurunan hasil antara 20 hingga 40 persen akibat gagal panen.
Temuan tersebut merupakan bagian dari Laporan Riset Dampak Perubahan Iklim yang diinisiasi oleh Program SIAP SIAGA, Kaukus Akademisi Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB), serta Pemerintah Provinsi NTT.
Baca juga: Puluhan Rumah Kampung Adat Waru Wora Terbakar, Perindo Sumba Barat Turun Tangan Salurkan Bantuan
Riset yang dilakukan sepanjang tahun 2025 itu menyoroti enam temuan kunci, di antaranya penurunan tajam ketersediaan air bersih serta meningkatnya risiko kesehatan berbasis cuaca, seperti ISPA, diare, dan demam berdarah.
Penurunan produksi pangan ini tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga berimbas pada pendapatan petani, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta melemahnya daya beli keluarga. Khususnya masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidup pada hasil pertanian musiman.
Anggota DPRD Sumba Barat, Dancerinus Arifin Sango menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius dalam perumusan kebijakan daerah. Terutama yang berkaitan dengan ketahanan pangan dan perlindungan masyarakat rentan.
Menurutnya, tantangan perubahan iklim tidak bisa lagi dipandang sebagai isu jangka panjang semata, melainkan sudah menjadi persoalan keseharian yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dan kualitas hidup warga.
Baca juga: Punya Kantor Baru, Partai Perindo Sumba Barat Daya Bangun Organisasi Kuat dan Dekat dengan Masyarakat
“Ketika hasil panen turun drastis, yang terdampak bukan hanya petani, tetapi seluruh rantai ekonomi di desa. Ini harus dijawab dengan kebijakan yang tepat dan berkelanjutan,” ujar Dancerinus.
Wakil Ketua DPRD Sumba Barat itu menekankan bahwa penguatan ketahanan pangan harus dilakukan secara terintegrasi dan tidak parsial.
“Penguatan ketahanan pangan harus dibarengi dengan pengelolaan air, infrastruktur dasar, dan pendampingan petani. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi bisa tetap produktif di tengah perubahan iklim,” tegasnya.
Isu dampak perubahan iklim terhadap kehidupan masyarakat tersebut juga mengemuka dalam kegiatan reses masa sidang III yang dilakukan Dancerinus di Kampung Sendi, Kabupaten Sumba Barat, menjelang perayaan Natal.
Dalam dialog terbuka bersama warga, sejumlah aspirasi disampaikan, mulai dari kondisi infrastruktur jalan hingga kebutuhan mendesak akan ketersediaan air bersih, yang semakin terasa sulit seiring perubahan cuaca yang tidak menentu.
Dancerinus menjelaskan, reses menjadi ruang penting bagi wakil rakyat untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung sekaligus memastikan kebijakan yang diperjuangkan di DPRD berangkat dari kebutuhan riil di lapangan.
“Reses bukan sekadar agenda formal, tetapi sarana mendengar langsung apa yang dirasakan masyarakat, termasuk dampak perubahan iklim terhadap kehidupan mereka,” kata legislator Partai Perindo ini.
Ia memastikan aspirasi warga, khususnya terkait infrastruktur dasar dan akses air bersih, akan dibawa ke pembahasan DPRD agar dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan dan kemampuan anggaran daerah.
Kegiatan reses tersebut ditutup dengan doa bersama serta penyerahan bingkisan Natal kepada warga, menciptakan suasana kebersamaan antara wakil rakyat dan masyarakat di tengah berbagai tantangan yang dihadapi.
Temuan tersebut merupakan bagian dari Laporan Riset Dampak Perubahan Iklim yang diinisiasi oleh Program SIAP SIAGA, Kaukus Akademisi Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB), serta Pemerintah Provinsi NTT.
Baca juga: Puluhan Rumah Kampung Adat Waru Wora Terbakar, Perindo Sumba Barat Turun Tangan Salurkan Bantuan
Riset yang dilakukan sepanjang tahun 2025 itu menyoroti enam temuan kunci, di antaranya penurunan tajam ketersediaan air bersih serta meningkatnya risiko kesehatan berbasis cuaca, seperti ISPA, diare, dan demam berdarah.
Penurunan produksi pangan ini tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga berimbas pada pendapatan petani, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta melemahnya daya beli keluarga. Khususnya masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidup pada hasil pertanian musiman.
Anggota DPRD Sumba Barat, Dancerinus Arifin Sango menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius dalam perumusan kebijakan daerah. Terutama yang berkaitan dengan ketahanan pangan dan perlindungan masyarakat rentan.
Menurutnya, tantangan perubahan iklim tidak bisa lagi dipandang sebagai isu jangka panjang semata, melainkan sudah menjadi persoalan keseharian yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dan kualitas hidup warga.
Baca juga: Punya Kantor Baru, Partai Perindo Sumba Barat Daya Bangun Organisasi Kuat dan Dekat dengan Masyarakat
“Ketika hasil panen turun drastis, yang terdampak bukan hanya petani, tetapi seluruh rantai ekonomi di desa. Ini harus dijawab dengan kebijakan yang tepat dan berkelanjutan,” ujar Dancerinus.
Wakil Ketua DPRD Sumba Barat itu menekankan bahwa penguatan ketahanan pangan harus dilakukan secara terintegrasi dan tidak parsial.
“Penguatan ketahanan pangan harus dibarengi dengan pengelolaan air, infrastruktur dasar, dan pendampingan petani. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi bisa tetap produktif di tengah perubahan iklim,” tegasnya.
Reses Jelang Natal, Warga Sampaikan Aspirasi
Isu dampak perubahan iklim terhadap kehidupan masyarakat tersebut juga mengemuka dalam kegiatan reses masa sidang III yang dilakukan Dancerinus di Kampung Sendi, Kabupaten Sumba Barat, menjelang perayaan Natal.
Dalam dialog terbuka bersama warga, sejumlah aspirasi disampaikan, mulai dari kondisi infrastruktur jalan hingga kebutuhan mendesak akan ketersediaan air bersih, yang semakin terasa sulit seiring perubahan cuaca yang tidak menentu.
Dancerinus menjelaskan, reses menjadi ruang penting bagi wakil rakyat untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung sekaligus memastikan kebijakan yang diperjuangkan di DPRD berangkat dari kebutuhan riil di lapangan.
“Reses bukan sekadar agenda formal, tetapi sarana mendengar langsung apa yang dirasakan masyarakat, termasuk dampak perubahan iklim terhadap kehidupan mereka,” kata legislator Partai Perindo ini.
Ia memastikan aspirasi warga, khususnya terkait infrastruktur dasar dan akses air bersih, akan dibawa ke pembahasan DPRD agar dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan dan kemampuan anggaran daerah.
Kegiatan reses tersebut ditutup dengan doa bersama serta penyerahan bingkisan Natal kepada warga, menciptakan suasana kebersamaan antara wakil rakyat dan masyarakat di tengah berbagai tantangan yang dihadapi.
(shf)
Lihat Juga :