Sambut Nataru 2026, Pangkogabwilhan III Pastikan Situasi di Papua Kondusif
Rabu, 17 Desember 2025 - 23:50 WIB
loading...
A
A
A
Menurut dia, bakar batu memiliki filosofi luhur yang merefleksikan karakter masyarakat pegunungan Papua yang sederhana, tulus, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan. Batu yang dibakar melambangkan kehangatan hati dan semangat berbagi, sementara makanan yang dimasak dan disantap bersama menjadi simbol persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa dalam bingkai NKRI.
Usai doa yang dipimpin pemuka agama Pendeta Yonathan Sani, Pangkogabwilhan III bersama para pejabat utama Kogabwilhan III menyerahkan bantuan paket sembako kepada ratusan warga Distrik Hitadipa.
Selain penyerahan sembako, Kogabwilhan III juga menggelar pelayanan kesehatan gratis serta membagikan bingkisan berupa camilan dan berbagai mainan kepada anak-anak. Pangkogabwilhan III turut menyaksikan proses pembongkaran liang masak bakar batu sebelum pelaksanaan makan bersama warga.
Dalam kegiatan tersebut, disiapkan 7 ekor babi, 200 ekor ayam, delapan karung umbi-umbian, dan delapan karung sayuran. Tradisi bakar batu ini menjadi simbol ungkapan rasa syukur sekaligus sarana mempererat silaturahmi khas masyarakat Papua.
“Tradisi bakar batu bukan sekadar warisan budaya melainkan pelajaran hidup tentang arti bersyukur, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan dengan sesama serta alam. Sebuah warisan yang tidak akan pernah pudar, sehangat batu yang menyinari cinta di setiap hati saudara-saudara kita di Papua,” kata Bambang.
Usai doa yang dipimpin pemuka agama Pendeta Yonathan Sani, Pangkogabwilhan III bersama para pejabat utama Kogabwilhan III menyerahkan bantuan paket sembako kepada ratusan warga Distrik Hitadipa.
Selain penyerahan sembako, Kogabwilhan III juga menggelar pelayanan kesehatan gratis serta membagikan bingkisan berupa camilan dan berbagai mainan kepada anak-anak. Pangkogabwilhan III turut menyaksikan proses pembongkaran liang masak bakar batu sebelum pelaksanaan makan bersama warga.
Dalam kegiatan tersebut, disiapkan 7 ekor babi, 200 ekor ayam, delapan karung umbi-umbian, dan delapan karung sayuran. Tradisi bakar batu ini menjadi simbol ungkapan rasa syukur sekaligus sarana mempererat silaturahmi khas masyarakat Papua.
“Tradisi bakar batu bukan sekadar warisan budaya melainkan pelajaran hidup tentang arti bersyukur, saling menghargai, dan menjaga keharmonisan dengan sesama serta alam. Sebuah warisan yang tidak akan pernah pudar, sehangat batu yang menyinari cinta di setiap hati saudara-saudara kita di Papua,” kata Bambang.
(jon)
Lihat Juga :