Kerusakan Tersebar dan Meluas, Pemulihan Listrik Aceh Perlu Langkah Bertahap
Jum'at, 12 Desember 2025 - 11:08 WIB
loading...
Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Ramzi Adriman menjelaskan, pemulihan kelistrikan Aceh pascabencana harus dilakukan secara bertahap dan hati-hati. Foto/Ilustrasi/Dok.
A
A
A
BANDA ACEH - Pemulihan kelistrikan Aceh pascabencana banjir dan longsor harus dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian. Pasalnya, kerusakan infrastruktur yang terjadi sangat luas dan tersebar di banyak titik.
Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Ramzi Adriman menjelaskan kondisi sistem kelistrikan saat ini sangat sensitif sehingga setiap tahap pemulihan perlu dijalankan secara terukur. Bencana tidak hanya merusak satu bagian sistem, tetapi banyak sekaligus.
Baca juga: Prabowo dari Moskow Langsung ke Medan, Prioritaskan Percepatan Penanganan Bencana
“Karena itu, setiap penyalaan harus dipastikan stabil agar tidak memicu gangguan yang meluas,” ujar Ramzi, Jumat (12/12/2025).
Ramzi menyebut kerusakan yang terjadi mencakup jaringan transmisi, gardu induk, hingga distribusi. Lokasinya pun saling berjauhan, sehingga penanganan tiap titik memerlukan pendekatan teknis yang berbeda.
Dalam situasi seperti ini, salah satu proses paling penting adalah sinkronisasi antarinfrastruktur ketenagalistrikan-tahap yang menyatukan pembangkit, gardu induk, dan jaringan agar kembali bekerja dalam satu sistem. Sinkronisasi menuntut kecermatan yang tinggi.
“Frekuensi, tegangan, dan beban harus benar-benar seirama. Jika ada yang belum siap, proses penyatuan tidak bisa dipaksakan karena risikonya langsung pada stabilitas sistem,” jelasnya.
Baca juga: Update Korban Bencana di Sumatera: 990 Korban Meninggal Dunia, 222 Hilang
Ramzi juga menilai manajemen beban atau penyalaan bergilir yang saat ini masih berlangsung sebagai langkah pengamanan sistem dalam kondisi yang mendesak. Dengan kapasitas sementara yang belum pulih sepenuhnya, penyalaan bergilir membantu menjaga agar layanan tetap berjalan sekaligus mencegah sistem mengalami beban berlebih.
Di lapangan, tantangan bertambah dengan akses ke sejumlah wilayah yang masih terputus. Pengiriman material dan peralatan harus menyesuaikan kondisi jalan, cuaca, dan jalur alternatif yang tersedia. Situasi ini menjadikan koordinasi teknis dan logistik sebagai faktor kunci keberhasilan pemulihan.
Menurut Ramzi, karakter kerusakan yang tersebar dan sistem yang masih sensitif memang menuntut pendekatan bertahap. Pendekatan ini menjaga stabilitas wilayah yang sudah menyala.
“Sambil memberikan ruang untuk memulihkan titik lain sesuai kesiapan teknisnya,” katanya.
Ramzi berharap akses ke wilayah terdampak segera terbuka sepenuhnya sehingga penanganan teknis dapat dipercepat dan sinkronisasi sistem dapat dilakukan lebih luas. Tujuannya satu, mengembalikan keandalan listrik Aceh secepat dan setepat mungkin tanpa mengorbankan keandalan ke depannya.
Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Ramzi Adriman menjelaskan kondisi sistem kelistrikan saat ini sangat sensitif sehingga setiap tahap pemulihan perlu dijalankan secara terukur. Bencana tidak hanya merusak satu bagian sistem, tetapi banyak sekaligus.
Baca juga: Prabowo dari Moskow Langsung ke Medan, Prioritaskan Percepatan Penanganan Bencana
“Karena itu, setiap penyalaan harus dipastikan stabil agar tidak memicu gangguan yang meluas,” ujar Ramzi, Jumat (12/12/2025).
Ramzi menyebut kerusakan yang terjadi mencakup jaringan transmisi, gardu induk, hingga distribusi. Lokasinya pun saling berjauhan, sehingga penanganan tiap titik memerlukan pendekatan teknis yang berbeda.
Dalam situasi seperti ini, salah satu proses paling penting adalah sinkronisasi antarinfrastruktur ketenagalistrikan-tahap yang menyatukan pembangkit, gardu induk, dan jaringan agar kembali bekerja dalam satu sistem. Sinkronisasi menuntut kecermatan yang tinggi.
“Frekuensi, tegangan, dan beban harus benar-benar seirama. Jika ada yang belum siap, proses penyatuan tidak bisa dipaksakan karena risikonya langsung pada stabilitas sistem,” jelasnya.
Baca juga: Update Korban Bencana di Sumatera: 990 Korban Meninggal Dunia, 222 Hilang
Ramzi juga menilai manajemen beban atau penyalaan bergilir yang saat ini masih berlangsung sebagai langkah pengamanan sistem dalam kondisi yang mendesak. Dengan kapasitas sementara yang belum pulih sepenuhnya, penyalaan bergilir membantu menjaga agar layanan tetap berjalan sekaligus mencegah sistem mengalami beban berlebih.
Di lapangan, tantangan bertambah dengan akses ke sejumlah wilayah yang masih terputus. Pengiriman material dan peralatan harus menyesuaikan kondisi jalan, cuaca, dan jalur alternatif yang tersedia. Situasi ini menjadikan koordinasi teknis dan logistik sebagai faktor kunci keberhasilan pemulihan.
Menurut Ramzi, karakter kerusakan yang tersebar dan sistem yang masih sensitif memang menuntut pendekatan bertahap. Pendekatan ini menjaga stabilitas wilayah yang sudah menyala.
“Sambil memberikan ruang untuk memulihkan titik lain sesuai kesiapan teknisnya,” katanya.
Ramzi berharap akses ke wilayah terdampak segera terbuka sepenuhnya sehingga penanganan teknis dapat dipercepat dan sinkronisasi sistem dapat dilakukan lebih luas. Tujuannya satu, mengembalikan keandalan listrik Aceh secepat dan setepat mungkin tanpa mengorbankan keandalan ke depannya.
(shf)
Lihat Juga :