Operasi Katarak di Donggala, Lansia Hidup Bermartabat
Kamis, 20 November 2025 - 21:05 WIB
loading...
A
A
A
“Kami dapat data awal dari Ikatan Dokter Indonesia. Kemudian kami filter, secara sosial juga. Ada yang tak bisa kami masukkan karena faktor kesehatan, ada juga yang tidak siap mental,” jelas Yulianingsih, penanggung jawab lapangan kegiatan ini.
Yulianingsih menambahkan, bahwa terkadang bukan hanya perihal medis yang jadi hambatan, tapi rasa takut.
Ia masih mengingat satu lansia yang sempat membatalkan operasi meski sudah di meja tindakan.
“Dia panik, tiba-tiba minta pulang. Kami bujuk dengan sabra, besoknya dia datang lagi dan akhirnya berhasil dioperasi,” kenangnya.
Sosok yang punya peran penting dalam acara ini yakni dr. Diah Rini, Kepala Sentra Nipotowe Palu. Ia memantau langsung jalannya kegiatan sejak hari pertama.
“Kabupaten Donggala adalah salah satu wilayah kerja kami. Sudah dua kali melaksanakan operasi seperti ini di sini karena memang jumlah penderita katarak lansia masih tinggi,” katanya.
Bagi Diah, operasi katarak bukan sekadar kegiatan kesehatan. Ia melihatnya sebagai bagian dari rehabilitasi sosial yang utuh. “Kami ingin mereka bukan hanya bisa melihat, tapi juga kembali berdaya. Setelah penglihatan pulih, mereka bisa bekerja lagi, ikut kegiatan sosial, bahkan mengajar ngaji di kampung,” ujarnya.
Yulianingsih menambahkan, bahwa terkadang bukan hanya perihal medis yang jadi hambatan, tapi rasa takut.
Ia masih mengingat satu lansia yang sempat membatalkan operasi meski sudah di meja tindakan.
“Dia panik, tiba-tiba minta pulang. Kami bujuk dengan sabra, besoknya dia datang lagi dan akhirnya berhasil dioperasi,” kenangnya.
Sosok yang punya peran penting dalam acara ini yakni dr. Diah Rini, Kepala Sentra Nipotowe Palu. Ia memantau langsung jalannya kegiatan sejak hari pertama.
“Kabupaten Donggala adalah salah satu wilayah kerja kami. Sudah dua kali melaksanakan operasi seperti ini di sini karena memang jumlah penderita katarak lansia masih tinggi,” katanya.
Bagi Diah, operasi katarak bukan sekadar kegiatan kesehatan. Ia melihatnya sebagai bagian dari rehabilitasi sosial yang utuh. “Kami ingin mereka bukan hanya bisa melihat, tapi juga kembali berdaya. Setelah penglihatan pulih, mereka bisa bekerja lagi, ikut kegiatan sosial, bahkan mengajar ngaji di kampung,” ujarnya.
Lihat Juga :