Kepala BSKDN Ajak Kaimana Tiru Inovasi Mojokerto dan Blora
Selasa, 18 November 2025 - 19:32 WIB
loading...
Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri, Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya pemda membangun inovasi yang berkelanjutan. Foto/Ist
A
A
A
KAIMANA - Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya membangun inovasi yang berkelanjutan. Sebab masalah terus berkembang.
Hal itu dikatakan Yusharto saat melakukan Validasi Lapangan Innovative Government Award (IGA) 2025 di Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.
Baca juga: BSKDN Dorong Daerah Tiru Inovasi Rumah Jiwa Puskesmas Cipayung
Dalam kunjungan tersebut, Yusharto menekankan inovasi daerah harus terus hidup, berkembang, dan diperbarui agar tetap memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Yusharto menyoroti pentingnya melihat inovasi dari perspektif penerima manfaat. Yusharto memberikan contoh inovasi Gempa Genting (Segenggam Sampah Gawe Stunting) milik Kabupaten Mojokerto yang setiap tahun terus diperbarui sehingga tetap memenuhi unsur kebaruan.
“Gempa Genting itu sudah lima tahun berjalan, tetapi selalu ada pembaruan fitur, perluasan manfaat, dan penyempurnaan. Inovasi seperti itu tidak pernah mati karena ia terus mengikuti perkembangan masalah,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).
Baca juga: Gelar IGA 2025, BSKDN Nilai Balangan Daerah dengan Inovasi Kuat dan Terarah
Yusharto juga menegaskan, daerah tidak boleh ragu untuk berinovasi. Menurut Yusharto, inovasi merupakan proses yang berlangsung dalam suatu ekosistem, sehingga keberlanjutannya sangat dipengaruhi oleh kemauan daerah memperbarui dan mengembangkan gagasan yang sudah ada.
“Jangan ragu untuk berinovasi. Inovasi itu ada, dan tidak pernah mati. Atau kalau kata masyarakat Kaimana, ‘terada mati,” tegasnya.
Selain Mojokerto, Yusharto turut menampilkan contoh inovasi berkelanjutan dari Kabupaten Blora, yakni inovasi “Sejuta Kotak Umat” yang berfokus pada pengelolaan limbah ternak.
Dia menceritakan bagaimana Bupati Blora merespons persoalan bau menyengat akibat tingginya populasi ternak, lalu melahirkan inovasi sederhana namun berdampak besar berupa kotak komunal berukuran 2x3 meter untuk fermentasi kotoran sapi menjadi pupuk organik. Inovasi ini terbukti mampu menurunkan ketergantungan pupuk kimia hingga 30% dan meningkatkan kualitas hasil pertanian.
“Dari Mojokerto dan Blora kita belajar bahwa inovasi lahir dari masalah. Tidak ada OPD yang tanpa masalah. Di situlah inovasi muncul. Seperti pepatah untuk apa menanam padi bila tidak menjadi nasi? Untuk apa menjadi pegawai negeri bila tidak berinovasi,” ujarnya.
Yusharto juga mengapresiasi capaian Kaimana yang pada 2024 berhasil meningkatkan skor Indeks Inovasi Daerah menjadi 56,89 dan berada pada predikat Inovatif, meningkat dari capaian tahun sebelumnya. Menurutnya, peningkatan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat kreativitas, kelembagaan inovasi, dan pelayanan publik.
Yusharto berharap Kaimana terus mengembangkan model inovasi berbasis masalah lokal serta memperluas partisipasi masyarakat dalam prosesnya, sehingga inovasi yang dihasilkan bukan hanya relevan, tetapi juga berkelanjutan dan berdampak langsung. Ia menegaskan IGA bukan sekadar kompetisi, tetapi mekanisme pembinaan untuk membantu daerah menemukan solusi terbaik bagi warganya.
“Masalah akan terus berkembang. Maka inovasi pun harus berkembang mengikuti masalah. Jangan berhenti di satu ide, tetapi perbaruilah dari tahun ke tahun,” katanya.
Hal itu dikatakan Yusharto saat melakukan Validasi Lapangan Innovative Government Award (IGA) 2025 di Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.
Baca juga: BSKDN Dorong Daerah Tiru Inovasi Rumah Jiwa Puskesmas Cipayung
Dalam kunjungan tersebut, Yusharto menekankan inovasi daerah harus terus hidup, berkembang, dan diperbarui agar tetap memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Yusharto menyoroti pentingnya melihat inovasi dari perspektif penerima manfaat. Yusharto memberikan contoh inovasi Gempa Genting (Segenggam Sampah Gawe Stunting) milik Kabupaten Mojokerto yang setiap tahun terus diperbarui sehingga tetap memenuhi unsur kebaruan.
“Gempa Genting itu sudah lima tahun berjalan, tetapi selalu ada pembaruan fitur, perluasan manfaat, dan penyempurnaan. Inovasi seperti itu tidak pernah mati karena ia terus mengikuti perkembangan masalah,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).
Baca juga: Gelar IGA 2025, BSKDN Nilai Balangan Daerah dengan Inovasi Kuat dan Terarah
Yusharto juga menegaskan, daerah tidak boleh ragu untuk berinovasi. Menurut Yusharto, inovasi merupakan proses yang berlangsung dalam suatu ekosistem, sehingga keberlanjutannya sangat dipengaruhi oleh kemauan daerah memperbarui dan mengembangkan gagasan yang sudah ada.
“Jangan ragu untuk berinovasi. Inovasi itu ada, dan tidak pernah mati. Atau kalau kata masyarakat Kaimana, ‘terada mati,” tegasnya.
Selain Mojokerto, Yusharto turut menampilkan contoh inovasi berkelanjutan dari Kabupaten Blora, yakni inovasi “Sejuta Kotak Umat” yang berfokus pada pengelolaan limbah ternak.
Dia menceritakan bagaimana Bupati Blora merespons persoalan bau menyengat akibat tingginya populasi ternak, lalu melahirkan inovasi sederhana namun berdampak besar berupa kotak komunal berukuran 2x3 meter untuk fermentasi kotoran sapi menjadi pupuk organik. Inovasi ini terbukti mampu menurunkan ketergantungan pupuk kimia hingga 30% dan meningkatkan kualitas hasil pertanian.
“Dari Mojokerto dan Blora kita belajar bahwa inovasi lahir dari masalah. Tidak ada OPD yang tanpa masalah. Di situlah inovasi muncul. Seperti pepatah untuk apa menanam padi bila tidak menjadi nasi? Untuk apa menjadi pegawai negeri bila tidak berinovasi,” ujarnya.
Yusharto juga mengapresiasi capaian Kaimana yang pada 2024 berhasil meningkatkan skor Indeks Inovasi Daerah menjadi 56,89 dan berada pada predikat Inovatif, meningkat dari capaian tahun sebelumnya. Menurutnya, peningkatan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat kreativitas, kelembagaan inovasi, dan pelayanan publik.
Yusharto berharap Kaimana terus mengembangkan model inovasi berbasis masalah lokal serta memperluas partisipasi masyarakat dalam prosesnya, sehingga inovasi yang dihasilkan bukan hanya relevan, tetapi juga berkelanjutan dan berdampak langsung. Ia menegaskan IGA bukan sekadar kompetisi, tetapi mekanisme pembinaan untuk membantu daerah menemukan solusi terbaik bagi warganya.
“Masalah akan terus berkembang. Maka inovasi pun harus berkembang mengikuti masalah. Jangan berhenti di satu ide, tetapi perbaruilah dari tahun ke tahun,” katanya.
(shf)
Lihat Juga :