Kisah Cinta Wiranto dan Rugaiya Usman, Lima Dekade Bersama hingga Akhir Hayat
Senin, 17 November 2025 - 16:13 WIB
loading...
Jenderal (Purn) TNI Wiranto berduka setelah istri tercintanya, Rugaiya Usman meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat pada Minggu (16/11/2025) sekitar pukul 15.55 WIB. Foto/Ist
A
A
A
JENDERAL (Purn) TNI Wiranto berduka setelah istri tercintanya, Rugaiya Usman meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat pada Minggu (16/11/2025) sekitar pukul 15.55 WIB. Kepergian Rugaiya bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga menutup perjalanan panjang cinta yang mereka rawat selama 50 tahun.
Di hadapan peti jenazah istrinya, Wiranto yang menjabat Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan itu mengenang kembali perjalanan hidup yang telah mereka lalui bersama. Hanya sehari sebelumnya, keduanya merayakan ulang tahun perkawinan emas.
Baca juga: Wiranto Ungkap Istrinya Meninggal usai Merayakan Ulang Tahun Perkawinan ke-50
“Baru kemarin kami merayakan 50 tahun perkawinan,” tutur mantan Panglima ABRI itu dengan suara bergetar. Sebagai suami, ia mengharapkan bisa melewati masa tua bersama sang istri.
Namun takdir berkata lain. Setelah melalui perawatan intensif, Rugaiya dipanggil pulang menghadap Allah SWT. Meski berat, Wiranto menyampaikan bahwa ia hanya dapat berserah.
“Kehendak Illahi tidak bisa kita tolak,” ucapnya di rumah duka Bambu Apus, Jakarta Timur.
Kisah cinta keduanya bermula ketika Rugaiya masih duduk di bangku SMA, berusia 15 tahun. Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan hingga ajang pemilihan ratu. Di situlah takdir mempertemukan mereka Wiranto hadir sebagai juri menggantikan temannya, dan sejak itu percakapan-percakapan kecil tumbuh menjadi hubungan yang lebih dekat.
Baca juga: Menko Polkam, Mantan Kepala BIN, hingga Penasihat Presiden Tiba di Rumah Duka Wiranto
Saat Rugaiya lulus SMA, ia ingin melanjutkan kuliah namun tak memiliki biaya. Ada pihak yang ingin membantu, tetapi ia takut terikat utang budi.
Hingga akhirnya, ia menerima lamaran Wiranto dengan satu permintaan yaitu ia ingin tetap bisa menempuh pendidikan. Wiranto memenuhi janji itu. Ketika suaminya bertugas di Jawa, Rugaiya berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Jember.
Perjalanan rumah tangga mereka tidak pernah jauh dari kebersamaan. Rugaiya selalu mendampingi Wiranto bertugas sebagai perwira, bahkan hingga menjabat Panglima ABRI.
Ia pernah berkata bahwa sang suami menyebutnya sebagai “pakaian” penjaga, pelindung, dan bagian penting yang memberikan kehormatan. Kalimat itu menggambarkan betapa kuatnya ikatan mereka.
Baca juga: Istri Jenderal Purn Wiranto Meninggal di Bandung, Besok Dimakamkan di Delingan
Rugaiya dikenal sebagai sosok penyayang dan sedikit cemburuan, namun tetap dalam batas wajar. Baginya, kepercayaan adalah fondasi pernikahan. Ia bahkan mengungkap bahwa selama masa pacaran, Wiranto tidak pernah mengucapkan kata "cinta".
Ketika Rugaiya bertanya alasan dari sikap itu, Wiranto hanya menjawab bahwa cinta adalah tindakan bukan ucapan manis. Perhatian, pengorbanan, rasa memiliki, itulah cinta yang sebenarnya.
Kisah mereka menjadi contoh keutuhan pasangan yang saling menjaga. Rumah tangga yang dibangun sejak 22 Februari 1975 itu dikaruniai tiga orang anak. Lima puluh tahun merupakan perjalanan panjang yang tidak banyak dimiliki orang lain, dan kepergian Rugaiya mengakhiri babak besar dalam hidup Wiranto.
Jenazah Rugaiya disemayamkan di Kompleks PATI-AD Bambu Apus sebelum diberangkatkan ke Delingan, Karanganyar, Jawa Tengah untuk dimakamkan. Wiranto dan keluarga memohon doa agar almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
Di balik sorotan publik terhadap karier militer dan politik Wiranto, kisah cintanya bersama Rugaiya Usman memberi gambaran sisi seorang jenderal menjadi suami yang setia, ayah yang penuh kasih, dan pria yang menjaga janji hingga ujung waktu. (MG/Nesya Naila Naulia)
Di hadapan peti jenazah istrinya, Wiranto yang menjabat Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan itu mengenang kembali perjalanan hidup yang telah mereka lalui bersama. Hanya sehari sebelumnya, keduanya merayakan ulang tahun perkawinan emas.
Baca juga: Wiranto Ungkap Istrinya Meninggal usai Merayakan Ulang Tahun Perkawinan ke-50
“Baru kemarin kami merayakan 50 tahun perkawinan,” tutur mantan Panglima ABRI itu dengan suara bergetar. Sebagai suami, ia mengharapkan bisa melewati masa tua bersama sang istri.
Namun takdir berkata lain. Setelah melalui perawatan intensif, Rugaiya dipanggil pulang menghadap Allah SWT. Meski berat, Wiranto menyampaikan bahwa ia hanya dapat berserah.
“Kehendak Illahi tidak bisa kita tolak,” ucapnya di rumah duka Bambu Apus, Jakarta Timur.
Awal Benih Cinta Wiranto dengan Rugaiya Usman
Kisah cinta keduanya bermula ketika Rugaiya masih duduk di bangku SMA, berusia 15 tahun. Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan hingga ajang pemilihan ratu. Di situlah takdir mempertemukan mereka Wiranto hadir sebagai juri menggantikan temannya, dan sejak itu percakapan-percakapan kecil tumbuh menjadi hubungan yang lebih dekat.
Baca juga: Menko Polkam, Mantan Kepala BIN, hingga Penasihat Presiden Tiba di Rumah Duka Wiranto
Saat Rugaiya lulus SMA, ia ingin melanjutkan kuliah namun tak memiliki biaya. Ada pihak yang ingin membantu, tetapi ia takut terikat utang budi.
Hingga akhirnya, ia menerima lamaran Wiranto dengan satu permintaan yaitu ia ingin tetap bisa menempuh pendidikan. Wiranto memenuhi janji itu. Ketika suaminya bertugas di Jawa, Rugaiya berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Jember.
Perjalanan rumah tangga mereka tidak pernah jauh dari kebersamaan. Rugaiya selalu mendampingi Wiranto bertugas sebagai perwira, bahkan hingga menjabat Panglima ABRI.
Ia pernah berkata bahwa sang suami menyebutnya sebagai “pakaian” penjaga, pelindung, dan bagian penting yang memberikan kehormatan. Kalimat itu menggambarkan betapa kuatnya ikatan mereka.
Baca juga: Istri Jenderal Purn Wiranto Meninggal di Bandung, Besok Dimakamkan di Delingan
Rugaiya dikenal sebagai sosok penyayang dan sedikit cemburuan, namun tetap dalam batas wajar. Baginya, kepercayaan adalah fondasi pernikahan. Ia bahkan mengungkap bahwa selama masa pacaran, Wiranto tidak pernah mengucapkan kata "cinta".
Ketika Rugaiya bertanya alasan dari sikap itu, Wiranto hanya menjawab bahwa cinta adalah tindakan bukan ucapan manis. Perhatian, pengorbanan, rasa memiliki, itulah cinta yang sebenarnya.
Kisah mereka menjadi contoh keutuhan pasangan yang saling menjaga. Rumah tangga yang dibangun sejak 22 Februari 1975 itu dikaruniai tiga orang anak. Lima puluh tahun merupakan perjalanan panjang yang tidak banyak dimiliki orang lain, dan kepergian Rugaiya mengakhiri babak besar dalam hidup Wiranto.
Jenazah Rugaiya disemayamkan di Kompleks PATI-AD Bambu Apus sebelum diberangkatkan ke Delingan, Karanganyar, Jawa Tengah untuk dimakamkan. Wiranto dan keluarga memohon doa agar almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
Di balik sorotan publik terhadap karier militer dan politik Wiranto, kisah cintanya bersama Rugaiya Usman memberi gambaran sisi seorang jenderal menjadi suami yang setia, ayah yang penuh kasih, dan pria yang menjaga janji hingga ujung waktu. (MG/Nesya Naila Naulia)
(shf)
Lihat Juga :