Halaqah UIN Raden Intan Lampung Dorong Pembentukan Ditjen Pesantren sebagai Penguat Ekosistem Ponpes
Senin, 17 November 2025 - 11:14 WIB
loading...
A
A
A
Yusi menuturkan pesantren merupakan ekosistem peradaban yang menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, hingga penguatan karakter kebangsaan. Transformasi kebijakan harus mengimbangi dinamika pesantren yang kini bersinggungan dengan isu ekonomi, digitalisasi, dan perluasan jejaring global.
Rektor UIN Raden Intan Lampung Prof Wan Jamaludin mengatakan, perspektif akademis mengenai tantangan besar yang kini dihadapi pesantren yakni arus digitalisasi, perubahan ekonomi global, dan pergeseran sosial-kultural masyarakat modern.
Dia menilai tradisi keilmuan yang kuat di pesantren harus berjalan seiring dengan adaptasi teknologi dan inovasi kurikulum. “Pesantren perlu menjadi pusat inovasi pendidikan Islam. Pembentukan Ditjen Pesantren akan mempercepat integrasi itu melalui penguatan riset, digitalisasi, ekonomi pesantren, dan kemitraan strategis,” ujarnya.
Dari perspektif praktisi, Pimpinan Ponpes Darul Ishlah Simpang 5 Lampung KH Sodiqul Amin menyoroti pentingnya menjaga tradisi keilmuan kitab kuning sembari membuka ruang bagi pembaruan metodologis. Dia mengingatkan prinsip klasik pesantren al-muhafazhah ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah sebagai pijakan transformasi.
Menurut dia, kompleksitas tantangan keilmuan menuntut kehadiran Ditjen Pesantren untuk menopang lima arah strategis yaitu modernisasi pembelajaran kitab kuning, penguatan kompetensi masyayikh dan asatidz, peningkatan mutu Ma’had Aly, digitalisasi khazanah kitab kuning nasional, serta integrasi ilmu keislaman dengan sains terapan.
Rektor UIN Raden Intan Lampung Prof Wan Jamaludin mengatakan, perspektif akademis mengenai tantangan besar yang kini dihadapi pesantren yakni arus digitalisasi, perubahan ekonomi global, dan pergeseran sosial-kultural masyarakat modern.
Dia menilai tradisi keilmuan yang kuat di pesantren harus berjalan seiring dengan adaptasi teknologi dan inovasi kurikulum. “Pesantren perlu menjadi pusat inovasi pendidikan Islam. Pembentukan Ditjen Pesantren akan mempercepat integrasi itu melalui penguatan riset, digitalisasi, ekonomi pesantren, dan kemitraan strategis,” ujarnya.
Dari perspektif praktisi, Pimpinan Ponpes Darul Ishlah Simpang 5 Lampung KH Sodiqul Amin menyoroti pentingnya menjaga tradisi keilmuan kitab kuning sembari membuka ruang bagi pembaruan metodologis. Dia mengingatkan prinsip klasik pesantren al-muhafazhah ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah sebagai pijakan transformasi.
Menurut dia, kompleksitas tantangan keilmuan menuntut kehadiran Ditjen Pesantren untuk menopang lima arah strategis yaitu modernisasi pembelajaran kitab kuning, penguatan kompetensi masyayikh dan asatidz, peningkatan mutu Ma’had Aly, digitalisasi khazanah kitab kuning nasional, serta integrasi ilmu keislaman dengan sains terapan.
Lihat Juga :