Megawati Tolak Soeharto Dapat Gelar Pahlawan Berpotensi Hambat Rekonsiliasi Nasional
Sabtu, 08 November 2025 - 22:22 WIB
loading...
A
A
A
Namun, sikap Megawati justru dapat menjadi hambatan bagi terwujudnya proses tersebut. “Rekonsiliasi nasional itu tumbuh dari kesadaran dan partisipasi aktif dari mereka yang disebut korban kebijakan politik tertentu. Jadi, sikap Bu Megawati boleh jadi bukan hanya menghambat, tapi berpotensi menggagalkan gagasan besar rekonsiliasi nasional yang digagas Presiden Prabowo,” tegasnya.
Ridwan mengajak publik untuk meneladani tokoh-tokoh bangsa yang meski berbeda pandangan politik, tetap menjunjung tinggi nilai persatuan dan kemanusiaan.
Baca juga: Koordinator Pusat Dema PTKIN: Warisan Soeharto Masih Dinikmati Masyarakat
“Terkait keteladanan tokoh yang berseberangan politik tanpa kehilangan sikap kritis, kita mesti meneladani Ali Sadikin, Gus Dur, dan tokoh-tokoh lainnya. Mereka menyadari bahwa masa lalu adalah tesis dari dialektika masa depan—sebuah anti-tesis yang harus diwariskan kepada generasi muda dengan mengambil nilai terbaik dan menguburkan yang buruk sebagai sintesis sejarah,” jelasnya.
Menurut Ridwan, kemampuan berdamai dengan sejarah bukan berarti menghapus memori kritis, melainkan mengelola pengalaman masa lalu sebagai pelajaran kebangsaan. Ridwan Monoarfa menyebut, jasa besar Presiden Soeharto terhadap bangsa Indonesia tidak berhenti ketika ia tidak lagi berkuasa, bahkan tetap berlanjut setelah wafatnya.
Ridwan mengajak publik untuk meneladani tokoh-tokoh bangsa yang meski berbeda pandangan politik, tetap menjunjung tinggi nilai persatuan dan kemanusiaan.
Baca juga: Koordinator Pusat Dema PTKIN: Warisan Soeharto Masih Dinikmati Masyarakat
“Terkait keteladanan tokoh yang berseberangan politik tanpa kehilangan sikap kritis, kita mesti meneladani Ali Sadikin, Gus Dur, dan tokoh-tokoh lainnya. Mereka menyadari bahwa masa lalu adalah tesis dari dialektika masa depan—sebuah anti-tesis yang harus diwariskan kepada generasi muda dengan mengambil nilai terbaik dan menguburkan yang buruk sebagai sintesis sejarah,” jelasnya.
Menurut Ridwan, kemampuan berdamai dengan sejarah bukan berarti menghapus memori kritis, melainkan mengelola pengalaman masa lalu sebagai pelajaran kebangsaan. Ridwan Monoarfa menyebut, jasa besar Presiden Soeharto terhadap bangsa Indonesia tidak berhenti ketika ia tidak lagi berkuasa, bahkan tetap berlanjut setelah wafatnya.
Lihat Juga :