Gen Z Diimbau Jangan Mudah Terpapar Misinformasi di Era Digital
Jum'at, 07 November 2025 - 17:08 WIB
loading...
Studium Generale bertajuk Bedah Buku Komunikasi Krisis Digital di Auditorium Vokasi Universitas Indonesia (UI). Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Generasi muda diimbau agar jangan mudah terpapar misinformasi di era digital. Untuk itu, anak muda harus memperbanyak literasi dan melakukan validasi terhadap setiap informasi yang diterima.
Hal itu dibahas dalam acara Studium Generale bertajuk Bedah Buku Komunikasi Krisis Digital di Auditorium Vokasi Universitas Indonesia (UI).
Baca juga: Negara 100% Muslim Ini Berlakukan Larangan Merokok Seumur Hidup untuk Gen Z
Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber lintas bidang komunikasi yakni penulis dan pakar komunikasi digital Rulli Nasrullah, Corporate Communications Director Danone Indonesia Arif Mujahidin, Tenaga Ahli KPU dan penulis Diah Widyawati, dan CEO Makaravox Jojo Suharjo.
Acara ini dihadiri ratusan mahasiswa serta dosen dari berbagai jurusan. Mayoritas peserta berasal dari kalangan Generasi Z, yang dikenal aktif di media sosial dan menjadi kelompok paling rentan terhadap potensi terpapar oleh konten yang berisi misinformasi.
Diskusi diawali dengan bedah buku Komunikasi Krisis Digital oleh para penulisnya, yang membahas bagaimana lanskap media berubah cepat dan menuntut kecepatan sekaligus ketepatan dalam mengelola informasi publik.
Baca juga: Gen Z Mendominasi Dunia Maya, Literasi Digital Jadi Kebutuhan Mendesak
Dalam paparannya, Arif Mujahidin membagikan pengalaman praktis mengelola reputasi dan komunikasi korporasi di tengah derasnya arus isu digital. Arif mengajak mahasiswa UI kalangan Gen Z untuk melakukan validasi atas informasi yang berlalu lalang di era digital saat ini.
Arif juga menekankan pentingnya literasi informasi dan tanggung jawab bersama dalam menghadapi arus informasi di dunia maya yang didominasi oleh noise atau kebisingan sehingga membuat voice atau suara dan informasi sejati turtutupi. Arif menjelaskan bagaimana tim komunikasi Danone Indonesia menjaga kepercayaan publik melalui pendekatan edukatif dan transparansi.
“Kami memilih jalur edukasi dan keterbukaan. Kami menjelaskan isu-isu baik secara langsung maupun tidak langsung kepada pemangku kepentingan dan publik melalui media, kanal digital, dan forum-forum akademik seperti ini. Kami juga mengajak pemangku kepentingan berkunjung ke pabrik untuk melihat sumber air dan upaya konservasi,” kata Arif, Jumat (7/11/2025).
Arif juga meluruskan sejumlah kesalahpahaman publik terkait sumber air Aqua. Menurut Arif, air yang digunakan berasal dari sistem hidrogeologi pegunungan, bukan air tanah biasa.
“Sumber air terbukti berasal dari sistem air pegunungan melalui hasil penelitian hidro isotop, yang menunjukkan kesamaan ‘DNA’ airnya dengan air hujan yang tersimpan di akuifer pegunungan tempat pabrik kami berada. Jadi pengeboran hanyalah cara untuk mengakses air dari sistem pegunungan, bukan mengambil air tanah secara sembarangan,” jelas Arif.
Arif menambahkan, untuk menjaga kelestarian sumber air pihaknya menjalankan konservasi terintegrasi di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). Upaya ini meliputi penanaman pohon dan pembuatan sumur resapan di hulu, penerapan pertanian regeneratif di tengah DAS, hingga program Water Access, Sanitation, and Hygiene (WASH) — inisiatif penyediaan akses air bersih dan sanitasi berbasis partisipasi masyarakat.
Seorang mahasiswa Vokasi UI peserta acara mengaku mendapatkan pemahaman baru setelah mendengar penjelasan Arif.
“Penjelasan Pak Arif menjawab kesalahpahaman saya. Saya juga jadi tahu bagaimana mereka menjaga kelestarian lingkungan lewat program konservasi. Menarik sekali melihat sisi komunikasi dari dunia industri,” ujarnya.
Kaprodi Humas Vokasi UI, Mareta Maulidiyanti, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para narasumber dan berharap kolaborasi serupa terus berlanjut.
“Kehadiran praktisi seperti Pak Arif memperkaya wawasan mahasiswa. Kami ingin melahirkan generasi komunikator muda yang kritis, adaptif, dan tidak mudah terpengaruh misinformasi,” tuturnya.
Hal itu dibahas dalam acara Studium Generale bertajuk Bedah Buku Komunikasi Krisis Digital di Auditorium Vokasi Universitas Indonesia (UI).
Baca juga: Negara 100% Muslim Ini Berlakukan Larangan Merokok Seumur Hidup untuk Gen Z
Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber lintas bidang komunikasi yakni penulis dan pakar komunikasi digital Rulli Nasrullah, Corporate Communications Director Danone Indonesia Arif Mujahidin, Tenaga Ahli KPU dan penulis Diah Widyawati, dan CEO Makaravox Jojo Suharjo.
Acara ini dihadiri ratusan mahasiswa serta dosen dari berbagai jurusan. Mayoritas peserta berasal dari kalangan Generasi Z, yang dikenal aktif di media sosial dan menjadi kelompok paling rentan terhadap potensi terpapar oleh konten yang berisi misinformasi.
Diskusi diawali dengan bedah buku Komunikasi Krisis Digital oleh para penulisnya, yang membahas bagaimana lanskap media berubah cepat dan menuntut kecepatan sekaligus ketepatan dalam mengelola informasi publik.
Baca juga: Gen Z Mendominasi Dunia Maya, Literasi Digital Jadi Kebutuhan Mendesak
Dalam paparannya, Arif Mujahidin membagikan pengalaman praktis mengelola reputasi dan komunikasi korporasi di tengah derasnya arus isu digital. Arif mengajak mahasiswa UI kalangan Gen Z untuk melakukan validasi atas informasi yang berlalu lalang di era digital saat ini.
Arif juga menekankan pentingnya literasi informasi dan tanggung jawab bersama dalam menghadapi arus informasi di dunia maya yang didominasi oleh noise atau kebisingan sehingga membuat voice atau suara dan informasi sejati turtutupi. Arif menjelaskan bagaimana tim komunikasi Danone Indonesia menjaga kepercayaan publik melalui pendekatan edukatif dan transparansi.
“Kami memilih jalur edukasi dan keterbukaan. Kami menjelaskan isu-isu baik secara langsung maupun tidak langsung kepada pemangku kepentingan dan publik melalui media, kanal digital, dan forum-forum akademik seperti ini. Kami juga mengajak pemangku kepentingan berkunjung ke pabrik untuk melihat sumber air dan upaya konservasi,” kata Arif, Jumat (7/11/2025).
Arif juga meluruskan sejumlah kesalahpahaman publik terkait sumber air Aqua. Menurut Arif, air yang digunakan berasal dari sistem hidrogeologi pegunungan, bukan air tanah biasa.
“Sumber air terbukti berasal dari sistem air pegunungan melalui hasil penelitian hidro isotop, yang menunjukkan kesamaan ‘DNA’ airnya dengan air hujan yang tersimpan di akuifer pegunungan tempat pabrik kami berada. Jadi pengeboran hanyalah cara untuk mengakses air dari sistem pegunungan, bukan mengambil air tanah secara sembarangan,” jelas Arif.
Arif menambahkan, untuk menjaga kelestarian sumber air pihaknya menjalankan konservasi terintegrasi di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). Upaya ini meliputi penanaman pohon dan pembuatan sumur resapan di hulu, penerapan pertanian regeneratif di tengah DAS, hingga program Water Access, Sanitation, and Hygiene (WASH) — inisiatif penyediaan akses air bersih dan sanitasi berbasis partisipasi masyarakat.
Seorang mahasiswa Vokasi UI peserta acara mengaku mendapatkan pemahaman baru setelah mendengar penjelasan Arif.
“Penjelasan Pak Arif menjawab kesalahpahaman saya. Saya juga jadi tahu bagaimana mereka menjaga kelestarian lingkungan lewat program konservasi. Menarik sekali melihat sisi komunikasi dari dunia industri,” ujarnya.
Kaprodi Humas Vokasi UI, Mareta Maulidiyanti, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para narasumber dan berharap kolaborasi serupa terus berlanjut.
“Kehadiran praktisi seperti Pak Arif memperkaya wawasan mahasiswa. Kami ingin melahirkan generasi komunikator muda yang kritis, adaptif, dan tidak mudah terpengaruh misinformasi,” tuturnya.
(shf)
Lihat Juga :