Alih Fungsi Lahan Perkebunan di Kawasan Kota Dorong Pertumbuhan UMKM
Rabu, 05 November 2025 - 14:48 WIB
loading...
Aktivitas di perkebunan milik PTPN I di Sumatera Utara, terutama di Deli Serdang. Foto/istimewa
A
A
A
SUMUT - Sejarah PTPN I di Sumatera Utara, terutama di Deli Serdang, adalah fakta tentang eksistensi dan keniscayaan. Dahulu, lahan PTPN I adalah kawasan hutan, dan pada perkembangannya menjadi kota dengan ekosistem yang saling menguatkan.
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (UNM) Ichwan Azhari mengatakan, awalnya pusat peradaban Sumatera Timur ada di kawasan Deli Serdang, Belawan. Namun, Belanda kemudian membuka pusat ekonomi baru di wilayah yang sekarang disebut Medan.
“Artinya, perkembangan wilayah akan mengikuti dinamika masyarakatnya. Kalau dulu lahan PTPN I di Deli Serdang terasa jauh, sekarang sudah di dalam kawasan kota. Maka, alih fungsi lahan bukan mustahil,” katanya, Rabu (5/11/2025).
Baca juga: Pelaku Industri Perkebunan Ikut Berperan Mengurangi Emisi Karbon
Ichwan Azhari menyebut sejarah PTPN I yang semula merupakan perusahaan milik Belanda. Ichwan merunut asal muasal komoditas tembakau Deli yang pada masa lampau merajai reputasi rokok hingga ke negeri-negeri Eropa.
“Tembakau adalah komoditas lokal yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Kedatangan kolonial mengubah struktur sosial dan demografi daerah ini secara drastis. Suku Melayu sebagai pemilik asli tanah, kini kehilangan hutan komunalnya akibat rezim perkebunan yang terus berlanjut hingga masa PTPN,” kata Ichwani.
Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Fajar Pasaribu mengatakan, tata ruang wilayah akan erat kaitannya dengan aspek ekonomi kewilayahan. Tata ruang akan terbentuk seiring spora ekonomi yang tumbuh di wilayah tersebut.
Baca juga: 20 Jenderal TNI Bersiapkan Tinggalkan Militer usai Dimutasi pada Akhir September 2025
Relasi ini bisa berlaku dua arah. Aspek ekonomi tumbuh, lalu diikuti perkembangan tata ruang wilayah. “Saya memandang PTPN sebagai warisan kolonial kini perlu beradaptasi. Alih fungsi lahan yang kemudian menjadi kawasan perumahan dari sisi ekonomi sangat positif karena meningkatkan perekonomian lokal,” kata Fajar.
Kepala Desa Helvetia Agus Salim menyambut baik perubahan itu. Agus mengaku sejak perubahan peruntukan lahan dari kebun milik PTPN I dijadikan komplek perumahan, menjadikan desanya berubah drastis.
“Saat masih kebun, kami warga sekitar banyak yang kerja serabutan. Sekarang, sejak dibuka perumahan, masyarakat kami banyak yang dagang dan jual jasa. Pokoknya, UMKM di sini tumbuh subur,” katanya.
Dengan adanya pekerjaan baru, meskipun tidak besar, masyarakat semakin produktif karena punya basis usaha. Secara umum, kata Agus Salim, kesejahteraan masyarakat di desanya sekarang meningkat.
Ketua Paguyuban Puja Kesuma (Putra Jawa kelahiran Sumatera) Juryadi menyatakan dukungannya atas perkembangan wilayah di Helvetia. Juryadi mengajak semua pihak untuk bersinergi dan menjalin kebersamaan antara PTPN dan komunitas.
“Sinergi yang saya maksud, PTPN I hendaknya terus berkordinasi dan memberi ruang kepada warga sekitar dan komunitas untuk berpartisipasi pada berbagai rencana. Dalam proyek pembangunan perumahan, warga sekitar harus diprioritaskan,” kata dia.
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (UNM) Ichwan Azhari mengatakan, awalnya pusat peradaban Sumatera Timur ada di kawasan Deli Serdang, Belawan. Namun, Belanda kemudian membuka pusat ekonomi baru di wilayah yang sekarang disebut Medan.
“Artinya, perkembangan wilayah akan mengikuti dinamika masyarakatnya. Kalau dulu lahan PTPN I di Deli Serdang terasa jauh, sekarang sudah di dalam kawasan kota. Maka, alih fungsi lahan bukan mustahil,” katanya, Rabu (5/11/2025).
Baca juga: Pelaku Industri Perkebunan Ikut Berperan Mengurangi Emisi Karbon
Ichwan Azhari menyebut sejarah PTPN I yang semula merupakan perusahaan milik Belanda. Ichwan merunut asal muasal komoditas tembakau Deli yang pada masa lampau merajai reputasi rokok hingga ke negeri-negeri Eropa.
“Tembakau adalah komoditas lokal yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Kedatangan kolonial mengubah struktur sosial dan demografi daerah ini secara drastis. Suku Melayu sebagai pemilik asli tanah, kini kehilangan hutan komunalnya akibat rezim perkebunan yang terus berlanjut hingga masa PTPN,” kata Ichwani.
Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Fajar Pasaribu mengatakan, tata ruang wilayah akan erat kaitannya dengan aspek ekonomi kewilayahan. Tata ruang akan terbentuk seiring spora ekonomi yang tumbuh di wilayah tersebut.
Baca juga: 20 Jenderal TNI Bersiapkan Tinggalkan Militer usai Dimutasi pada Akhir September 2025
Relasi ini bisa berlaku dua arah. Aspek ekonomi tumbuh, lalu diikuti perkembangan tata ruang wilayah. “Saya memandang PTPN sebagai warisan kolonial kini perlu beradaptasi. Alih fungsi lahan yang kemudian menjadi kawasan perumahan dari sisi ekonomi sangat positif karena meningkatkan perekonomian lokal,” kata Fajar.
Kepala Desa Helvetia Agus Salim menyambut baik perubahan itu. Agus mengaku sejak perubahan peruntukan lahan dari kebun milik PTPN I dijadikan komplek perumahan, menjadikan desanya berubah drastis.
“Saat masih kebun, kami warga sekitar banyak yang kerja serabutan. Sekarang, sejak dibuka perumahan, masyarakat kami banyak yang dagang dan jual jasa. Pokoknya, UMKM di sini tumbuh subur,” katanya.
Dengan adanya pekerjaan baru, meskipun tidak besar, masyarakat semakin produktif karena punya basis usaha. Secara umum, kata Agus Salim, kesejahteraan masyarakat di desanya sekarang meningkat.
Ketua Paguyuban Puja Kesuma (Putra Jawa kelahiran Sumatera) Juryadi menyatakan dukungannya atas perkembangan wilayah di Helvetia. Juryadi mengajak semua pihak untuk bersinergi dan menjalin kebersamaan antara PTPN dan komunitas.
“Sinergi yang saya maksud, PTPN I hendaknya terus berkordinasi dan memberi ruang kepada warga sekitar dan komunitas untuk berpartisipasi pada berbagai rencana. Dalam proyek pembangunan perumahan, warga sekitar harus diprioritaskan,” kata dia.
(cip)
Lihat Juga :