BNPT Dorong Siswa Banyumas Jadi Duta Toleransi Digital
Sabtu, 01 November 2025 - 22:54 WIB
loading...
Direktur Pencegahan BNPT Irfan Idris dalam acara Dialog Kebangsaan yang diadakan di Pendopo Sipanji, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. FOTO/IST
A
A
A
BANYUMAS - Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga arena penting untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan memperkuat karakter generasi muda.
Pesan ini disampaikan oleh Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris dalam acara Dialog Kebangsaan yang diadakan di Pendopo Sipanji, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Acara ini diikuti oleh 130 siswa dan 70 guru serta kepala sekolah dari 38 SMA, SMK, dan MA di Banyumas.
Dalam sambutannya, Irfan mengingatkan para pelajar akan tiga peran penting yang harus mereka ambil sebagai generasi muda di tengah derasnya arus informasi dan teknologi digital yang terus berkembang.
"Di era digital ini, kalian adalah generasi yang tidak hanya harus cakap dalam menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam memanfaatkannya. Jadilah generasi yang kritis dan dapat menyaring informasi dengan baik," ujar Irfan dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/11/2025).
Ia menekankan pentingnya prinsip "Saring Sebelum Sharing" untuk menghindari penyebaran hoaks dan provokasi yang bisa merusak kedamaian masyarakat. Irfan juga mengajak para siswa untuk menjadi duta perdamaian di dunia maya.
"Tunjukkan bahwa moderasi itu keren. Isi media sosial dengan pesan-pesan damai, toleransi, dan kebersamaan antar suku dan agama. Jangan biarkan ruang digital dipenuhi oleh narasi kebencian," katanya.
Peran Sekolah dalam Menjaga Toleransi dan Kebhinnekaan
Irfan menegaskan, sekolah memiliki peran yang sangat vital dalam memperkokoh semangat kebangsaan, terutama dalam membangun toleransi di kalangan pelajar. "Toleransi tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Mulailah dari hal sederhana, seperti menghargai teman yang berbeda keyakinan atau menghentikan perundungan karena perbedaan," katanya.
Menurutnya, dengan adanya keterbukaan informasi dan media sosial, tantangan kebangsaan semakin kompleks, dengan mudahnya narasi kebencian menyebar dan mengancam persatuan bangsa. Oleh karena itu, Prof. Irfan mengajak sekolah-sekolah di Indonesia untuk menjadi zona nol bagi intoleransi, radikalisme, dan kekerasan.
"Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan kondusif untuk semua. Harus ada komitmen bersama untuk menjaga sekolah sebagai benteng kebhinnekaan dan moderasi beragama," tegasnya.
Selain mengingatkan peran siswa, Irfan juga menyoroti pentingnya pembekalan bagi tenaga pendidik. "Jika guru terpapar paham radikal, dampaknya bisa sangat berbahaya. Oleh karena itu, penguatan wawasan kebangsaan bagi pendidik harus menjadi prioritas," tambahnya. Pembekalan kepada para guru sangat penting untuk menghindari adanya radikalisasi di kalangan tenaga pendidik yang nantinya bisa mempengaruhi para siswa.
Dalam kesempatan tersebut, Yanuar Arif Wibowo, Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PKS menyoroti pentingnya dialog antara guru dan siswa untuk memperkuat ketahanan mental dan moral generasi muda terhadap berbagai pengaruh negatif. Menurutnya, banyak kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah melibatkan pelajar sebagai pelaku.
"Kerusuhan yang melibatkan pelajar menjadi perhatian kami. Kami harus memberikan ruang untuk dialog, agar siswa lebih memahami pentingnya kebersamaan, persatuan, dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari," ujar Yanuar.
Ia juga menekankan bahwa generasi muda adalah kekuatan strategis bangsa, bukan hanya karena jumlahnya yang besar, tetapi juga karena mereka adalah digital natives yang tumbuh dan berkembang dengan teknologi. "Kreativitas dan inovasi mereka sangat tinggi, namun harus diimbangi dengan kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi, agar tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri dan bangsa," lanjutnya.
Dialog Kebangsaan yang diadakan di Banyumas ini menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menanamkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan moderasi. Dengan pendekatan yang holistik ini, diharapkan generasi muda dapat tumbuh menjadi individu yang cerdas, bijaksana, dan berkarakter kebangsaan yang kuat. Kegiatan ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam menjaga keutuhan Indonesia di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang terus berkembang.
Ke depan, dialog-dialog seperti ini diharapkan dapat terus digelar untuk memperkuat semangat kebangsaan dan mempererat hubungan antargenerasi muda, menjaga Indonesia tetap kuat dalam keberagaman.
Pesan ini disampaikan oleh Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris dalam acara Dialog Kebangsaan yang diadakan di Pendopo Sipanji, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Acara ini diikuti oleh 130 siswa dan 70 guru serta kepala sekolah dari 38 SMA, SMK, dan MA di Banyumas.
Dalam sambutannya, Irfan mengingatkan para pelajar akan tiga peran penting yang harus mereka ambil sebagai generasi muda di tengah derasnya arus informasi dan teknologi digital yang terus berkembang.
"Di era digital ini, kalian adalah generasi yang tidak hanya harus cakap dalam menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam memanfaatkannya. Jadilah generasi yang kritis dan dapat menyaring informasi dengan baik," ujar Irfan dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/11/2025).
Ia menekankan pentingnya prinsip "Saring Sebelum Sharing" untuk menghindari penyebaran hoaks dan provokasi yang bisa merusak kedamaian masyarakat. Irfan juga mengajak para siswa untuk menjadi duta perdamaian di dunia maya.
"Tunjukkan bahwa moderasi itu keren. Isi media sosial dengan pesan-pesan damai, toleransi, dan kebersamaan antar suku dan agama. Jangan biarkan ruang digital dipenuhi oleh narasi kebencian," katanya.
Peran Sekolah dalam Menjaga Toleransi dan Kebhinnekaan
Irfan menegaskan, sekolah memiliki peran yang sangat vital dalam memperkokoh semangat kebangsaan, terutama dalam membangun toleransi di kalangan pelajar. "Toleransi tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Mulailah dari hal sederhana, seperti menghargai teman yang berbeda keyakinan atau menghentikan perundungan karena perbedaan," katanya.
Menurutnya, dengan adanya keterbukaan informasi dan media sosial, tantangan kebangsaan semakin kompleks, dengan mudahnya narasi kebencian menyebar dan mengancam persatuan bangsa. Oleh karena itu, Prof. Irfan mengajak sekolah-sekolah di Indonesia untuk menjadi zona nol bagi intoleransi, radikalisme, dan kekerasan.
"Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan kondusif untuk semua. Harus ada komitmen bersama untuk menjaga sekolah sebagai benteng kebhinnekaan dan moderasi beragama," tegasnya.
Selain mengingatkan peran siswa, Irfan juga menyoroti pentingnya pembekalan bagi tenaga pendidik. "Jika guru terpapar paham radikal, dampaknya bisa sangat berbahaya. Oleh karena itu, penguatan wawasan kebangsaan bagi pendidik harus menjadi prioritas," tambahnya. Pembekalan kepada para guru sangat penting untuk menghindari adanya radikalisasi di kalangan tenaga pendidik yang nantinya bisa mempengaruhi para siswa.
Dalam kesempatan tersebut, Yanuar Arif Wibowo, Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PKS menyoroti pentingnya dialog antara guru dan siswa untuk memperkuat ketahanan mental dan moral generasi muda terhadap berbagai pengaruh negatif. Menurutnya, banyak kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah melibatkan pelajar sebagai pelaku.
"Kerusuhan yang melibatkan pelajar menjadi perhatian kami. Kami harus memberikan ruang untuk dialog, agar siswa lebih memahami pentingnya kebersamaan, persatuan, dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari," ujar Yanuar.
Ia juga menekankan bahwa generasi muda adalah kekuatan strategis bangsa, bukan hanya karena jumlahnya yang besar, tetapi juga karena mereka adalah digital natives yang tumbuh dan berkembang dengan teknologi. "Kreativitas dan inovasi mereka sangat tinggi, namun harus diimbangi dengan kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi, agar tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri dan bangsa," lanjutnya.
Dialog Kebangsaan yang diadakan di Banyumas ini menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menanamkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan moderasi. Dengan pendekatan yang holistik ini, diharapkan generasi muda dapat tumbuh menjadi individu yang cerdas, bijaksana, dan berkarakter kebangsaan yang kuat. Kegiatan ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam menjaga keutuhan Indonesia di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang terus berkembang.
Ke depan, dialog-dialog seperti ini diharapkan dapat terus digelar untuk memperkuat semangat kebangsaan dan mempererat hubungan antargenerasi muda, menjaga Indonesia tetap kuat dalam keberagaman.
(abd)
Lihat Juga :