Satu Tahun Prabowo-Gibran, Tokoh Muda Papua Apresiasi Program MBG
Rabu, 22 Oktober 2025 - 15:37 WIB
loading...
Satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat apresiasi dari masyarakat Papua. Foto/SindoNews
A
A
A
PAPUA - Satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat apresiasi dari masyarakat. Salah satunya dari Intelektual muda dari Papua, Harmant Wakum.
Harmant meminta Pemerintah untuk memperluas jangkauan Program MBG di Papua. Sebab program yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto ini sangat dibutuhkan di Papua.
“Ketika disejumlah daerah mengalami beberapa kendala dalam pelaksanaannya, di Papua Program MBG justru sangat bermanfaat dan mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat karena selain membantu peningkatan kualitas gizi dan kesehatan siswa, para orang tua murid dan masyarakat turut merasakan manfaatnya terutama dari perputaran roda perekonomian yang terjadi,” katanya.
Di Papua, dalam penyusunan menu MBG yang dikonsumsi oleh para siswa sekolah menurut Hermant lebih memprioritaskan penggunaan bahan pangan lokal, seperti ubi, jagung dan sebagainya yang mudah ditemukan di Papua.
Baca juga: Target 82,9 Juta Penerima MBG Mundur, BGN: Paling Lambat Februari 2026
“Dengan demikian, permintaan akan bahan pangan lokal bertambah dan masyarakat petani akhirnya membuka kembali lahan-lahan yang awalnya terbengkalai untuk ditanami kembali berbagai produk pertanian lokal untuk memenuhi permintaan bahan pokok MBG,” katanya, Rabu (22/10/2025).
Selain itu, dengan adanya Program MBG para siswa sekolah di Papua memiliki rutinitas baru dalam hal kedisiplinan makan. Selama ini menurut Hermant para orang tua di Papua tidak terlalu memikirkan waktu makan secara berkala bagi anak-anaknya. Kebiasaan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat kesekolah juga tidak terlalu menjadi perhatian. Keseharian bagi orang tua sudah cukup menyediakan ubi untuk dimakan meski hanya sekali.
"MBG di Jakarta berbeda dengan di Papua. Di Papua makanan yang disajikan aman bahkan benar-benat bergizi. Justru itulah sebaiknya MBG harus lebih diperbanyak agar sekolah-sekolah yang menerimanya juga semakin banyak disana,” ujar akademisi di Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta.
Baca juga: BGN Tutup 106 Dapur MBG Imbas Keracunan Massal
Meski ada kekhawatiran perubahan pola makan dari ubi yang beralih ke nasi akan memengaruhi kekuatan fisik, namun ternyata hal itu dapat ditepis. Apalagi ternyata bahan pangan lokal lebih diprioritaskan dalam penyajiannya. Hermant berharap Program MBG ini dapat lebih ditingkatkan, tentunya dengan diiringi pengawasan yang baik dan upaya meminimalisir terjadinya praktek korupsi.
Ke depan, program MBG diharapkan dapat menjadi pintu masuk, tidak sekadar pemenuhan makanan yang bernutrisi tapi juga menjadi keberlanjutan pangan lokal.
"Saya SD,SMP, sampai SMA di Papua, pernah tinggal di Timika dan Jayapura. Percaya atau tidak, kadang-kadang anak Papua berangkat sekolah tanpa makan dulu. Ketika saya di Jakarta, saya lihat sangat berbeda. Anak-anak biasanya diwajibkan untuk sarapan di rumah. Di Papua kita tidak pernah sarapan. Kalaupun sarapan, paling ubi satu buah lalu berangkat kesekolah,” tuturnya.
Selain MBG, Hermant juga menyinggung perihal pendekatan pembangunan di Tanah Papua. Ada dua hal utama yang harus dilakukan dalam membangun Papua, khususnya dalam melaksanakan program Asta Cita yaitu dengan melakukan pendekatan kepada para tokoh masyarakat seperti tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda dan dengan turun langsung ke lapangan.
Apalagi untuk pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tidak dipungkiri terjadi penolakan cukup besar. Untuk hal ini menurut Hermant perlu dipertimbangkan sensisitivitas masyarakat Papua, yang bisa saja berpotensi pada terjadinya kerusuhan. Meski demikian Hermant tetap memberikan dukungan kepada Pemerintah agar tidak putus asa melakukan pendekatan yang humanis dan intens secara terus menerus demi pembangunan yang baik untuk Papua.
"Saya harap Pemerintah jangan putus asa, melakukan pendekatan terus-menerus untuk membangun Papua yang baik. Program astacita harus dilanjutkan,” ungkapnya.
Hermant yang juga merupakan tokoh intelektual muda Papua mengajak para pemuda Papua dengan berbagai macam profesi agar dapat melakukan pendekatan humanis,yakni dengan mengadakan diskusi-diskusi kepada berbagai kalangan, baik sesama pemuda, lintas profesi, masyarakat maupun kepada pemerintah.
![Satu Tahun Prabowo-Gibran, Tokoh Muda Papua Apresiasi Program MBG]()
Pada pemuda Papua yang telah terbuka pikirannya dan memiliki pandangan lebih maju, diharapkan dapat menjadi penghubung antara pemerintah dengan masyarakat terutama dalam kelancaran pembangunan yang ada. Disini, para pemuda yang umumnya memiliki kemampuan untuk menggunakan media sosial, bisa memanfaatkannya untuk menjelaskan berbagai program-program yang sedang atau telah dilakukan oleh Pemerintah untuk masyarakat Papua, atau untuk memberikan masukan positif yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan proses pembangunan yang sedang berjalan atau belum dilaksanakan.
Biasanya karena informasi yang diterima hanya setengah-setengah, belum lagi isu-isu lainnya, sehingga karena informasi yang diterima tidak secara utuh, maka buat seseorang/kelompok masyarakat marah atau tersinggung, di sinilah peran pemuda dibutuhkan untuk meluruskan keadaan.
"Karena masyarakat Papua masih begitu kental dengan adat dan budaya, maka tentunya pendekatan dengan tokoh-tokoh kunci di masyarakat, seperti tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemuda di sana begitu didengar. Pendekatan kepada tokoh maupun masyarakat dapat dilakukan dengan pendekatan melalui kegiatan sosial dan budaya,” ucapnya.
Harmant meminta Pemerintah untuk memperluas jangkauan Program MBG di Papua. Sebab program yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto ini sangat dibutuhkan di Papua.
“Ketika disejumlah daerah mengalami beberapa kendala dalam pelaksanaannya, di Papua Program MBG justru sangat bermanfaat dan mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat karena selain membantu peningkatan kualitas gizi dan kesehatan siswa, para orang tua murid dan masyarakat turut merasakan manfaatnya terutama dari perputaran roda perekonomian yang terjadi,” katanya.
Di Papua, dalam penyusunan menu MBG yang dikonsumsi oleh para siswa sekolah menurut Hermant lebih memprioritaskan penggunaan bahan pangan lokal, seperti ubi, jagung dan sebagainya yang mudah ditemukan di Papua.
Baca juga: Target 82,9 Juta Penerima MBG Mundur, BGN: Paling Lambat Februari 2026
“Dengan demikian, permintaan akan bahan pangan lokal bertambah dan masyarakat petani akhirnya membuka kembali lahan-lahan yang awalnya terbengkalai untuk ditanami kembali berbagai produk pertanian lokal untuk memenuhi permintaan bahan pokok MBG,” katanya, Rabu (22/10/2025).
Selain itu, dengan adanya Program MBG para siswa sekolah di Papua memiliki rutinitas baru dalam hal kedisiplinan makan. Selama ini menurut Hermant para orang tua di Papua tidak terlalu memikirkan waktu makan secara berkala bagi anak-anaknya. Kebiasaan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat kesekolah juga tidak terlalu menjadi perhatian. Keseharian bagi orang tua sudah cukup menyediakan ubi untuk dimakan meski hanya sekali.
"MBG di Jakarta berbeda dengan di Papua. Di Papua makanan yang disajikan aman bahkan benar-benat bergizi. Justru itulah sebaiknya MBG harus lebih diperbanyak agar sekolah-sekolah yang menerimanya juga semakin banyak disana,” ujar akademisi di Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta.
Baca juga: BGN Tutup 106 Dapur MBG Imbas Keracunan Massal
Meski ada kekhawatiran perubahan pola makan dari ubi yang beralih ke nasi akan memengaruhi kekuatan fisik, namun ternyata hal itu dapat ditepis. Apalagi ternyata bahan pangan lokal lebih diprioritaskan dalam penyajiannya. Hermant berharap Program MBG ini dapat lebih ditingkatkan, tentunya dengan diiringi pengawasan yang baik dan upaya meminimalisir terjadinya praktek korupsi.
Ke depan, program MBG diharapkan dapat menjadi pintu masuk, tidak sekadar pemenuhan makanan yang bernutrisi tapi juga menjadi keberlanjutan pangan lokal.
"Saya SD,SMP, sampai SMA di Papua, pernah tinggal di Timika dan Jayapura. Percaya atau tidak, kadang-kadang anak Papua berangkat sekolah tanpa makan dulu. Ketika saya di Jakarta, saya lihat sangat berbeda. Anak-anak biasanya diwajibkan untuk sarapan di rumah. Di Papua kita tidak pernah sarapan. Kalaupun sarapan, paling ubi satu buah lalu berangkat kesekolah,” tuturnya.
Selain MBG, Hermant juga menyinggung perihal pendekatan pembangunan di Tanah Papua. Ada dua hal utama yang harus dilakukan dalam membangun Papua, khususnya dalam melaksanakan program Asta Cita yaitu dengan melakukan pendekatan kepada para tokoh masyarakat seperti tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda dan dengan turun langsung ke lapangan.
Apalagi untuk pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tidak dipungkiri terjadi penolakan cukup besar. Untuk hal ini menurut Hermant perlu dipertimbangkan sensisitivitas masyarakat Papua, yang bisa saja berpotensi pada terjadinya kerusuhan. Meski demikian Hermant tetap memberikan dukungan kepada Pemerintah agar tidak putus asa melakukan pendekatan yang humanis dan intens secara terus menerus demi pembangunan yang baik untuk Papua.
"Saya harap Pemerintah jangan putus asa, melakukan pendekatan terus-menerus untuk membangun Papua yang baik. Program astacita harus dilanjutkan,” ungkapnya.
Hermant yang juga merupakan tokoh intelektual muda Papua mengajak para pemuda Papua dengan berbagai macam profesi agar dapat melakukan pendekatan humanis,yakni dengan mengadakan diskusi-diskusi kepada berbagai kalangan, baik sesama pemuda, lintas profesi, masyarakat maupun kepada pemerintah.

Pada pemuda Papua yang telah terbuka pikirannya dan memiliki pandangan lebih maju, diharapkan dapat menjadi penghubung antara pemerintah dengan masyarakat terutama dalam kelancaran pembangunan yang ada. Disini, para pemuda yang umumnya memiliki kemampuan untuk menggunakan media sosial, bisa memanfaatkannya untuk menjelaskan berbagai program-program yang sedang atau telah dilakukan oleh Pemerintah untuk masyarakat Papua, atau untuk memberikan masukan positif yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan proses pembangunan yang sedang berjalan atau belum dilaksanakan.
Biasanya karena informasi yang diterima hanya setengah-setengah, belum lagi isu-isu lainnya, sehingga karena informasi yang diterima tidak secara utuh, maka buat seseorang/kelompok masyarakat marah atau tersinggung, di sinilah peran pemuda dibutuhkan untuk meluruskan keadaan.
"Karena masyarakat Papua masih begitu kental dengan adat dan budaya, maka tentunya pendekatan dengan tokoh-tokoh kunci di masyarakat, seperti tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemuda di sana begitu didengar. Pendekatan kepada tokoh maupun masyarakat dapat dilakukan dengan pendekatan melalui kegiatan sosial dan budaya,” ucapnya.
(cip)
Lihat Juga :