ITB Dukung Pemberdayaan Produksi Tenun Ikat BUMDes Adobal Flores
Senin, 13 Oktober 2025 - 16:15 WIB
loading...
ITB mendukung pemberdayaan tenun ikat tradisional di Flores Timur, NTT. Dukungan itu merupakan komitmen dalam mendorong penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Foto/Ist
A
A
A
FLORES TIMUR - Institut Teknologi Bandung (ITB) mendukung pemberdayaan produk tenun ikat tradisional di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dukungan itu merupakan komitmen dalam mendorong penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat di Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Adobala, Kecamatan Kelubagolit, Flores Timur, ITB melibatkan pelatihan dan pendampingan bagi 50 perajin tenun yang sebagian besar merupakan perajin perempuan.
Baca juga: Profil Anindityo Arifiadi, Lulusan Teknik Metalurgi ITB yang Kini Berkarier di Volkswagen Group
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memperkuat aspek manajerial, legalitas, serta strategi pemasaran berbasis digital. Melalui inisiatif ini, BUMDes Adobala diharapkan mampu berperan sebagai agregator agar produk tenun dapat menjangkau audiens dan pasar yang lebih luas.
Akademisi Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB sekaligus Ketua Tim Program Sonny Rustiadi menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan industri dalam memperkuat rantai nilai usaha lokal.
“Kolaborasi antara komunitas dan sektor industri sangat penting untuk menciptakan proses penciptaan nilai yang berkelanjutan. Ketika masyarakat lokal memahami cara mengelola potensi dan kemitraan industri hadir untuk memperkuatnya, maka ekonomi komunitas bisa tumbuh menjadi lebih tangguh dan mandiri,” ujarnya, Senin (13/10/2025).
Baca juga: Purbaya Yudhi Sadewa Perkuat Barisan 6 Menteri Alumni ITB di Kabinet Prabowo
Penjabat Kepala Desa Adobala Hieronimus Hawan Teka mengapresiasi kegiatan ini dan berharap program tersebut dapat membantu mengatasi tantangan yang dihadapi BUMDes.
“Kami berharap program ini bisa membantu menjawab tantangan yang dihadapi terkait usaha BUMDes, terutama dalam hal manajemen dan pemasaran produk tenun agar lebih dikenal dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” tuturnya.
Dari sisi pengembangan produk, pakar desain produk dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Slamet Riyadi menyampaikan bahwa kolaborasi dengan pihak swasta diharapkan dapat membawa dampak nyata.
“Kami berharap apa yang dikerjakan oleh Pala Nusantara dan Shima Design House bisa memberikan manfaat dan membuka peluang kolaborasi ke depannya. Ini sejalan dengan misi mereka untuk memperkenalkan budaya Nusantara kepada audiens yang lebih muda,” sebut Slamet Riyadi.
Dalam kegiatan ini, Pala Nusantara melalui Shima Design House berperan sebagai mitra kolaborasi desain produk. Dalam diskusi langsung secara daring baik Pala Nusantara maupun BUMDes Adobala menyatakan komitmen dalam melanjutkan eksplorasi kolaborasi dari segi potensi produk tenun, kekayaan budaya lokal, perlindungan HAKI, dan inovasi model bisnis dalam merealisasikan potensi ekonomi dan budaya di Desa Adobala.
Anggota tim Pengabdian Masyarakat ITB Zartikazahra Nurulfiqri menyampaikan kegiatan eksplorasi desain dan penerapan kain tenun dalam berbagai produk fesyen berhasil memantik semangat peserta.
“Para peserta sangat antusias dan merasa terinspirasi untuk mengeksplorasi berbagai bentuk aplikasi kain tenun ke dalam produk-produk fesyen yang lebih modern,” ungkapnya.
Senada, Anggota Tim Pengabdian Masyarakat ITB Zulfikar Rifan Maulana menyatakan pendekatan serupa diharapkan dapat diterapkan untuk berbagai komoditas lokal lainnya di bawah pengelolaan BUMDes.
“Implementasi kegiatan ini dimulai dari tenun, namun harapannya pendekatan serupa bisa diterapkan pada komoditas lain, sehingga BUMDes benar-benar berfungsi sebagai penggerak ekonomi desa,” ujarnya.
Melalui sinergi antara masyarakat lokal, akademisi, dan pelaku industri terkemuka, ITB berharap model pemberdayaan berbasis desain dan digitalisasi ini dapat menjadi contoh penerapan pembangunan ekonomi desa yang berkelanjutan di berbagai wilayah Indonesia.
Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Sonata, Desa Adobala, melalui perwakilannya Asis Francis, yang berperan aktif dalam mengoordinasikan keterlibatan masyarakat selama kegiatan berlangsung.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat di Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Adobala, Kecamatan Kelubagolit, Flores Timur, ITB melibatkan pelatihan dan pendampingan bagi 50 perajin tenun yang sebagian besar merupakan perajin perempuan.
Baca juga: Profil Anindityo Arifiadi, Lulusan Teknik Metalurgi ITB yang Kini Berkarier di Volkswagen Group
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memperkuat aspek manajerial, legalitas, serta strategi pemasaran berbasis digital. Melalui inisiatif ini, BUMDes Adobala diharapkan mampu berperan sebagai agregator agar produk tenun dapat menjangkau audiens dan pasar yang lebih luas.
Akademisi Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB sekaligus Ketua Tim Program Sonny Rustiadi menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan industri dalam memperkuat rantai nilai usaha lokal.
“Kolaborasi antara komunitas dan sektor industri sangat penting untuk menciptakan proses penciptaan nilai yang berkelanjutan. Ketika masyarakat lokal memahami cara mengelola potensi dan kemitraan industri hadir untuk memperkuatnya, maka ekonomi komunitas bisa tumbuh menjadi lebih tangguh dan mandiri,” ujarnya, Senin (13/10/2025).
Baca juga: Purbaya Yudhi Sadewa Perkuat Barisan 6 Menteri Alumni ITB di Kabinet Prabowo
Penjabat Kepala Desa Adobala Hieronimus Hawan Teka mengapresiasi kegiatan ini dan berharap program tersebut dapat membantu mengatasi tantangan yang dihadapi BUMDes.
“Kami berharap program ini bisa membantu menjawab tantangan yang dihadapi terkait usaha BUMDes, terutama dalam hal manajemen dan pemasaran produk tenun agar lebih dikenal dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” tuturnya.
Dari sisi pengembangan produk, pakar desain produk dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Slamet Riyadi menyampaikan bahwa kolaborasi dengan pihak swasta diharapkan dapat membawa dampak nyata.
“Kami berharap apa yang dikerjakan oleh Pala Nusantara dan Shima Design House bisa memberikan manfaat dan membuka peluang kolaborasi ke depannya. Ini sejalan dengan misi mereka untuk memperkenalkan budaya Nusantara kepada audiens yang lebih muda,” sebut Slamet Riyadi.
Dalam kegiatan ini, Pala Nusantara melalui Shima Design House berperan sebagai mitra kolaborasi desain produk. Dalam diskusi langsung secara daring baik Pala Nusantara maupun BUMDes Adobala menyatakan komitmen dalam melanjutkan eksplorasi kolaborasi dari segi potensi produk tenun, kekayaan budaya lokal, perlindungan HAKI, dan inovasi model bisnis dalam merealisasikan potensi ekonomi dan budaya di Desa Adobala.
Anggota tim Pengabdian Masyarakat ITB Zartikazahra Nurulfiqri menyampaikan kegiatan eksplorasi desain dan penerapan kain tenun dalam berbagai produk fesyen berhasil memantik semangat peserta.
“Para peserta sangat antusias dan merasa terinspirasi untuk mengeksplorasi berbagai bentuk aplikasi kain tenun ke dalam produk-produk fesyen yang lebih modern,” ungkapnya.
Senada, Anggota Tim Pengabdian Masyarakat ITB Zulfikar Rifan Maulana menyatakan pendekatan serupa diharapkan dapat diterapkan untuk berbagai komoditas lokal lainnya di bawah pengelolaan BUMDes.
“Implementasi kegiatan ini dimulai dari tenun, namun harapannya pendekatan serupa bisa diterapkan pada komoditas lain, sehingga BUMDes benar-benar berfungsi sebagai penggerak ekonomi desa,” ujarnya.
Melalui sinergi antara masyarakat lokal, akademisi, dan pelaku industri terkemuka, ITB berharap model pemberdayaan berbasis desain dan digitalisasi ini dapat menjadi contoh penerapan pembangunan ekonomi desa yang berkelanjutan di berbagai wilayah Indonesia.
Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Sonata, Desa Adobala, melalui perwakilannya Asis Francis, yang berperan aktif dalam mengoordinasikan keterlibatan masyarakat selama kegiatan berlangsung.
(shf)
Lihat Juga :