Infrastuktur Hidrogen Hijau Kunci Wujudkan Dekarbonisasi Transportasi
Minggu, 12 Oktober 2025 - 14:53 WIB
loading...
Infrastruktur hidrogen hijau kunci wujudkan dekarbonisasi transportasi. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung pada kapal feri antarpulau. Saat ini sebagian besar kapal masih beroperasi menggunakan jaringan listrik berbasis diesel terpisah yang memiliki kapasitas terbatas untuk mengintegrasikan energi terbarukan.
Kondisi itu menjadikan upaya dekarbonisasi sektor kelistrikan dan maritim menjadi tantangan, meskipun terdapat manfaat yang jelas dari pengurangan penggunaan diesel.
Dalam rangka dekarbonisasi transportasi kapal feri penyeberangan antarpulau di Indonesia, HDF Energy (Hydrogène de France), Neuman & Esser South East Asia Ltd. (NEA SEA) dan the Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH menandatangani perjanjian kerja sama pada 10 Oktober 2025 di acara Indonesia Sustainability Forum 2025 di Jakarta.
Baca juga: Prabowo: Indonesia Berpeluang Jadi Negara Pertama Nol Emisi Karbon
“Kerja sama ini menyatukan keahlian internasional, kepemimpinan nasional, dan penerapan nyata di lapangan. Dengan menggabungkan kekuatan, kami sedang membuka jalan bagi rute kapal feri bertenaga hidrogen pertama di Indonesia, serta menuju masa depan maritim yang lebih bersih di seluruh kepulauan Nusantara,” kata Director for Asia-Pacific HDF Energy sekaligus Presiden Direktur PT HDF Energy Indonesia Mathieu Géze, Minggu (12/10/2025).
Perjanjian kerja sama baru ini berfokus pada pengembangan rantai nilai infrastruktur hidrogen yang saling melengkapi, mencakup produksi, penyimpanan, transportasi, dan pengisian bahan bakar. Kerja sama ini juga akan menilai infrastruktur dapat diintegrasikan dengan jaringan listrik kepulauan dan sistem energi pelabuhan, yang dibutuhkan untuk menyediakan pasokan energi bagi kapal feri, seperti rute Kupang - Rote di wilayah Indonesia Timur yang dioperasikan oleh ASDP.
Baca juga: Gas dan Energi Terbarukan: Duet Strategis Menuju Net Zero dan Kemandirian Energi
Fokus kerja sama dibagi sebagai berikut, pertama kerja sama IMO-HDF-Kemenhub- ASDP berfokus pada retrofit dan konversi kapal, serta aspek keselamatan dan kesiapan operasional. Kedua, kerja sama GIZ-HDF-NEA SEA menitikberatkan pada infrastruktur hidrogen dan studi kelayakan teknis-ekonomi, dengan memanfaatkan keahlian Jerman melalui NEA SEA.
Kedua program tersebut secara bersama-sama mendukung satu tujuan yang sama, yaitu mendemonstrasikan kelayakan teknis kapal feri bertenaga hidrogen, serta membangun model yang dapat direplikasi untuk konteks pulau-pulau kecil di seluruh kepulauan Indonesia.
HDF Energy saat ini tengah mengembangkan 23 pembangkit listrik hidrogen Renewstable di wilayah Indonesia Timur dengan potensi investasi sebesar USD2,3 miliar. Fasilitas-fasilitas ini menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya dengan penyimpanan energi di lokasi dalam bentuk hidrogen hijau, untuk menyediakan listrik bersih 100% yang stabil, dan tidak terputus ke jaringan listrik, baik siang maupun malam hari.
Dengan menghasilkan kelebihan hidrogen hijau pada biaya marjinal yang kompetitif, pembangkit Renewstable juga membuka jalan bagi penyediaan hidrogen hijau untuk mendukung dekarbonisasi transportasi maritim.
Sementara itu, Director of Energy Programme GIZ Indonesia/ASEAN Lisa Tinschert menjelaskan, sebagai pusat maritim di kawasan ini, Indonesia menawarkan peluang unik untuk memajukan tujuan bersama dalam menghadapi perubahan iklim.
Hidrogen hijau berada di inti dari transisi energi, dan melalui H2Uppp, pihaknya mendukung pengembangan proyek guna mendorong pertumbuhan pasar hidrogen global. “Dengan menggabungkan teknologi dan konteks lokal, inisiatif ini menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta mendukung transfer teknologi yang bernilai,” tandasnya.
Kondisi itu menjadikan upaya dekarbonisasi sektor kelistrikan dan maritim menjadi tantangan, meskipun terdapat manfaat yang jelas dari pengurangan penggunaan diesel.
Dalam rangka dekarbonisasi transportasi kapal feri penyeberangan antarpulau di Indonesia, HDF Energy (Hydrogène de France), Neuman & Esser South East Asia Ltd. (NEA SEA) dan the Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH menandatangani perjanjian kerja sama pada 10 Oktober 2025 di acara Indonesia Sustainability Forum 2025 di Jakarta.
Baca juga: Prabowo: Indonesia Berpeluang Jadi Negara Pertama Nol Emisi Karbon
“Kerja sama ini menyatukan keahlian internasional, kepemimpinan nasional, dan penerapan nyata di lapangan. Dengan menggabungkan kekuatan, kami sedang membuka jalan bagi rute kapal feri bertenaga hidrogen pertama di Indonesia, serta menuju masa depan maritim yang lebih bersih di seluruh kepulauan Nusantara,” kata Director for Asia-Pacific HDF Energy sekaligus Presiden Direktur PT HDF Energy Indonesia Mathieu Géze, Minggu (12/10/2025).
Perjanjian kerja sama baru ini berfokus pada pengembangan rantai nilai infrastruktur hidrogen yang saling melengkapi, mencakup produksi, penyimpanan, transportasi, dan pengisian bahan bakar. Kerja sama ini juga akan menilai infrastruktur dapat diintegrasikan dengan jaringan listrik kepulauan dan sistem energi pelabuhan, yang dibutuhkan untuk menyediakan pasokan energi bagi kapal feri, seperti rute Kupang - Rote di wilayah Indonesia Timur yang dioperasikan oleh ASDP.
Baca juga: Gas dan Energi Terbarukan: Duet Strategis Menuju Net Zero dan Kemandirian Energi
Fokus kerja sama dibagi sebagai berikut, pertama kerja sama IMO-HDF-Kemenhub- ASDP berfokus pada retrofit dan konversi kapal, serta aspek keselamatan dan kesiapan operasional. Kedua, kerja sama GIZ-HDF-NEA SEA menitikberatkan pada infrastruktur hidrogen dan studi kelayakan teknis-ekonomi, dengan memanfaatkan keahlian Jerman melalui NEA SEA.
Kedua program tersebut secara bersama-sama mendukung satu tujuan yang sama, yaitu mendemonstrasikan kelayakan teknis kapal feri bertenaga hidrogen, serta membangun model yang dapat direplikasi untuk konteks pulau-pulau kecil di seluruh kepulauan Indonesia.
HDF Energy saat ini tengah mengembangkan 23 pembangkit listrik hidrogen Renewstable di wilayah Indonesia Timur dengan potensi investasi sebesar USD2,3 miliar. Fasilitas-fasilitas ini menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya dengan penyimpanan energi di lokasi dalam bentuk hidrogen hijau, untuk menyediakan listrik bersih 100% yang stabil, dan tidak terputus ke jaringan listrik, baik siang maupun malam hari.
Dengan menghasilkan kelebihan hidrogen hijau pada biaya marjinal yang kompetitif, pembangkit Renewstable juga membuka jalan bagi penyediaan hidrogen hijau untuk mendukung dekarbonisasi transportasi maritim.
Sementara itu, Director of Energy Programme GIZ Indonesia/ASEAN Lisa Tinschert menjelaskan, sebagai pusat maritim di kawasan ini, Indonesia menawarkan peluang unik untuk memajukan tujuan bersama dalam menghadapi perubahan iklim.
Hidrogen hijau berada di inti dari transisi energi, dan melalui H2Uppp, pihaknya mendukung pengembangan proyek guna mendorong pertumbuhan pasar hidrogen global. “Dengan menggabungkan teknologi dan konteks lokal, inisiatif ini menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta mendukung transfer teknologi yang bernilai,” tandasnya.
(cip)
Lihat Juga :