Kisah Strategi Cerdik Panembahan Senopati Bikin Pasukan Pajang Kabur dari Mataram
Jum'at, 10 Oktober 2025 - 06:04 WIB
loading...
Panembahan Senopati ditahan oleh Kerajaan Pajang menyebabkan pecah perang antara Pajang dengan Mataram. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
KERAJAAN Mataram dan Pajang berperang usai konflik internal dua petinggi kerajaan yang masih beraroma keluarga. Peperangan ini pecah usai Panembahan Senopati ditahan oleh Kerajaan Pajang.
Peristiwa itu memang membuat gempar kerajaan. Bahkan imbas dari kasus ini Raden Pabelan, keponakan Panembahan Senopati terpaksa dijatuhi hukuman penggal. Sedangkan Tumenggung Mayang, sang ayah yang menikah dengan adik Senopati terpaksa ditangkap oleh pasukan Pajang dan diasingkan ke Semarang.
Baca juga: Kisah Panembahan Senopati Semedi Munculkan Kekuatan Alam saat Perang Mataram vs Pajang
Penyebab itulah membuat genderang perang dua kubu itu muncul. Mataram berhadapan dengan Pajang yang awalnya merupakan wilayah kerajaan penguasa, atau dalam artian sebenarnya Mataram dulunya berada di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang.
Di peperangan itu, Senopati yang kalah jumlah pasukan berdoa kepada Allah, bersemedi, dan mempersiapkan taktik cerdik menghadapi pasukan dari ayah angkatnya Sultan Hadiwijaya.
Pasukan Mataram yang sedikit itu lantas sengaja ditempatkan di Gunung Kidul, sebagaimana dikutip dari "Tuah Bumi Mataram: Dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II".
Baca juga: Saat Nyi Roro Kidul dan Pasukan Jin Bantu Mataram Taklukkan Pajang Tanpa Perang
Tentara ini disuruh oleh Senopati mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya. Rencananya, nanti ketika perang meletus, kayu-kayu yang telah dikumpulkan itu harus dibakar. Kanjeng Sultan sendiri mendirikan markas perangnya di dekat Kali Opak.
Malam pertempuran pun datang. Senopati kemudian bersemedi mendatangkan kekuatan alam. Maka saat itu juga datanglah badai topan dan hujan yang lebat. Melihat alam yang mengamuk itu, seluruh prajurit Pajang, termasuk Kanjeng Sultan Hadiwijaya alias Joko Tingkir langsung gentar.
Tak lama kemudian banjir bandang terjadi. Kali Opak meluapkan airnya sehingga menyapu seluruh markas tempur Kanjeng Sultan Pajang. Tak lama kemudian, Gunung Kidul menyala dengan api besar membara di atasnya.
Melihat fenomena itu, Kanjeng Sultan menjadi gentar karena dia mengira bahwa Gunung Kidul telah berubah menjadi kobaran api. Padahal api itu adalah hasil pembakaran kayu-kayu kering yang dikumpulkan dalam jumlah besar.
Dengan kondisi alam yang demikian mengganas itu, tentara Pajang akhirnya berhasil dipukul mundur oleh tentara Mataram. Kanjeng Sultan dengan seluruh bala tentaranya lari tunggang langgang meninggalkan Mataram.
Apalagi markas tempurnya telah disapu oleh banjir bandang dari Kali Opak. Peperangan ini akhirnya dimenangkan oleh Mataram. Kanjeng Sultan dan seluruh bala tentaranya memilih kembali ke Pajang dan tidak lagi meneruskan pertempurannya untuk melawan Mataram.
Peristiwa itu memang membuat gempar kerajaan. Bahkan imbas dari kasus ini Raden Pabelan, keponakan Panembahan Senopati terpaksa dijatuhi hukuman penggal. Sedangkan Tumenggung Mayang, sang ayah yang menikah dengan adik Senopati terpaksa ditangkap oleh pasukan Pajang dan diasingkan ke Semarang.
Baca juga: Kisah Panembahan Senopati Semedi Munculkan Kekuatan Alam saat Perang Mataram vs Pajang
Penyebab itulah membuat genderang perang dua kubu itu muncul. Mataram berhadapan dengan Pajang yang awalnya merupakan wilayah kerajaan penguasa, atau dalam artian sebenarnya Mataram dulunya berada di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang.
Di peperangan itu, Senopati yang kalah jumlah pasukan berdoa kepada Allah, bersemedi, dan mempersiapkan taktik cerdik menghadapi pasukan dari ayah angkatnya Sultan Hadiwijaya.
Pasukan Mataram yang sedikit itu lantas sengaja ditempatkan di Gunung Kidul, sebagaimana dikutip dari "Tuah Bumi Mataram: Dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II".
Baca juga: Saat Nyi Roro Kidul dan Pasukan Jin Bantu Mataram Taklukkan Pajang Tanpa Perang
Tentara ini disuruh oleh Senopati mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya. Rencananya, nanti ketika perang meletus, kayu-kayu yang telah dikumpulkan itu harus dibakar. Kanjeng Sultan sendiri mendirikan markas perangnya di dekat Kali Opak.
Malam pertempuran pun datang. Senopati kemudian bersemedi mendatangkan kekuatan alam. Maka saat itu juga datanglah badai topan dan hujan yang lebat. Melihat alam yang mengamuk itu, seluruh prajurit Pajang, termasuk Kanjeng Sultan Hadiwijaya alias Joko Tingkir langsung gentar.
Tak lama kemudian banjir bandang terjadi. Kali Opak meluapkan airnya sehingga menyapu seluruh markas tempur Kanjeng Sultan Pajang. Tak lama kemudian, Gunung Kidul menyala dengan api besar membara di atasnya.
Melihat fenomena itu, Kanjeng Sultan menjadi gentar karena dia mengira bahwa Gunung Kidul telah berubah menjadi kobaran api. Padahal api itu adalah hasil pembakaran kayu-kayu kering yang dikumpulkan dalam jumlah besar.
Dengan kondisi alam yang demikian mengganas itu, tentara Pajang akhirnya berhasil dipukul mundur oleh tentara Mataram. Kanjeng Sultan dengan seluruh bala tentaranya lari tunggang langgang meninggalkan Mataram.
Apalagi markas tempurnya telah disapu oleh banjir bandang dari Kali Opak. Peperangan ini akhirnya dimenangkan oleh Mataram. Kanjeng Sultan dan seluruh bala tentaranya memilih kembali ke Pajang dan tidak lagi meneruskan pertempurannya untuk melawan Mataram.
(shf)
Lihat Juga :