LAN Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor melalui Akademi Pengentasan Kemiskinan di Probolinggo
Kamis, 09 Oktober 2025 - 16:45 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 menyebutkan angka kemiskinan di Probolinggo sebesar 5,69 persen. Angka ini memang turun dari data di tahun sebelumnya sebesar 6,18 persen, namun angka tersebut ternyata masih menempatkan Kabupaten Probolinggo menjadi daerah termiskin keempat di Jawa Timur.
Hal ini menjadi perhatian khusus pemerintah, terutama Lembaga Administrasi Negara (LAN) untuk turut andil dalam mengoptimalisasikan pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrim melalui sinergi lintas sektor untuk memastikan ketepatan sasaran dan peran serta masyarakat. Hal ini diungkapkan Kepala LAN, Dr.Muhammad Taufiq, DEA saat memberikan sambutan dalam kegiatan Launching Akademi Pengentasan Kemiskinan, Alun-alun Kabupaten Probolinggo, Selasa (7/10).
Kabupaten Probolinggo merupakan Daerah ketiga setelah Kabupaten Indramayu dan Kota Kupang yang menjadi lokus Akademi Pengentasan Kemiskinan. Dalam kesempatan itu Muhammad Taufiq menekankan pentingnya kolaborasi dalam menanggulangi kemiskinan dan kemiskinan ekstrim, hal ini tentu saja membutuhkan kerja gotong royong dengan melibatkan berbagai unsur, baik pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat untuk membangun ekosistem pemberdayaan masyarakat yang berdampak bagi penurunan angka kemiskinan.
“Cara berpikir birokratik yang kaku harus diubah menjadi cara berpikir inovatif. setiap instansi tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus beralih dari ego system menjadi eco system, membangun kerja sama lintas sektor agar program prioritas pemerintah ini agar dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat,” tegasnya
Selain merubah mindset birokrat, hal yang tidak kalah penting adalah mengubah mindset masyarakat miskin, ini penting memutuskan perangkap kemiskinan (poverty trap), yang selalu diturunkan ke anak cucunya. Muhammad Taufiq mencontohkan negara-negara seperti Singapura dan Korea Selatan yang berhasil keluar dari kemiskinan dengan keterbatasan sumber daya hal inj karena memiliki pola pikir kolaboratif dan inovatif.
“Ini berbeda dengan Kabupaten Probolinggo yang kaya sumber daya alam, tantangan kita justru bagaimana mengubah mindset masyarakat untuk dapat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk keluar dari kemiskinan.” ungkapnya.
Dalam konteks pengentasan kemiskinan, kolaborasi ini dapat diwujudkan melalui program pemberdayaan ekonomi, pelatihan kerja, dan pengembangan UMKM yang melibatkan dunia usaha sebagai mitra aktif. Dengan peran yang multi dimensi tersebut, LAN memerankan peran penting dalam membangun ekosistem kolaboratif yang mendukung percepatan pengentasan kemiskinan. Sinergi, kolaborasi, dan integrasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil yang difasilitasi oleh LAN melalui Akademi Pengentasan Kemiskinan.
Hal ini menjadi perhatian khusus pemerintah, terutama Lembaga Administrasi Negara (LAN) untuk turut andil dalam mengoptimalisasikan pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrim melalui sinergi lintas sektor untuk memastikan ketepatan sasaran dan peran serta masyarakat. Hal ini diungkapkan Kepala LAN, Dr.Muhammad Taufiq, DEA saat memberikan sambutan dalam kegiatan Launching Akademi Pengentasan Kemiskinan, Alun-alun Kabupaten Probolinggo, Selasa (7/10).
Kabupaten Probolinggo merupakan Daerah ketiga setelah Kabupaten Indramayu dan Kota Kupang yang menjadi lokus Akademi Pengentasan Kemiskinan. Dalam kesempatan itu Muhammad Taufiq menekankan pentingnya kolaborasi dalam menanggulangi kemiskinan dan kemiskinan ekstrim, hal ini tentu saja membutuhkan kerja gotong royong dengan melibatkan berbagai unsur, baik pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat untuk membangun ekosistem pemberdayaan masyarakat yang berdampak bagi penurunan angka kemiskinan.
“Cara berpikir birokratik yang kaku harus diubah menjadi cara berpikir inovatif. setiap instansi tidak bisa bekerja sendiri. Kita harus beralih dari ego system menjadi eco system, membangun kerja sama lintas sektor agar program prioritas pemerintah ini agar dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat,” tegasnya
Selain merubah mindset birokrat, hal yang tidak kalah penting adalah mengubah mindset masyarakat miskin, ini penting memutuskan perangkap kemiskinan (poverty trap), yang selalu diturunkan ke anak cucunya. Muhammad Taufiq mencontohkan negara-negara seperti Singapura dan Korea Selatan yang berhasil keluar dari kemiskinan dengan keterbatasan sumber daya hal inj karena memiliki pola pikir kolaboratif dan inovatif.
“Ini berbeda dengan Kabupaten Probolinggo yang kaya sumber daya alam, tantangan kita justru bagaimana mengubah mindset masyarakat untuk dapat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk keluar dari kemiskinan.” ungkapnya.
Dalam konteks pengentasan kemiskinan, kolaborasi ini dapat diwujudkan melalui program pemberdayaan ekonomi, pelatihan kerja, dan pengembangan UMKM yang melibatkan dunia usaha sebagai mitra aktif. Dengan peran yang multi dimensi tersebut, LAN memerankan peran penting dalam membangun ekosistem kolaboratif yang mendukung percepatan pengentasan kemiskinan. Sinergi, kolaborasi, dan integrasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil yang difasilitasi oleh LAN melalui Akademi Pengentasan Kemiskinan.
Lihat Juga :