Hari Ketujuh, 23 Santri Ponpes Al Khoziny Masih Hilang, 40 Ditemukan Meninggal
Minggu, 05 Oktober 2025 - 19:41 WIB
loading...
Hingga hari ketujuh tragedi ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur sebanyak 23 santri belum ditemukan. Foto/BNPB
A
A
A
JAKARTA - Hingga hari ketujuh tragedi ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur sebanyak 23 santri belum ditemukan. Diduga mereka masih terjebak di dalam reruntuhan pilar beton.
Jumlah santri yang belum ditemukan itu diketahui setelah pada hari ini, Minggu (5/10/2025) hingga pukul 18.00 WIB, Tim SAR gabungan kembali berhasil mengevakuasi 15 jenazah santri dari puing-puing bangunan yang dibongkar dengan menggunakan alat berat.
Baca juga: Update Musala Ponpes Al Khoziny Ambruk, Korban Meninggal Dunia 37 Orang
Dengan ditemukannya 15 santri tersebut, maka hingga hari ini total sebanyak 40 jenazah santri ditemukan dari reruntuhan pilar beton bangunan musala Ponpes Al Khoziny. Alat berat mulai dari pemecah beton hingga eskavator terus mengais puing bangunan empat lantai yang ambruk itu dan menemukan jasad para santri.
"Data pencarian korban pun terus berkembang. Hari ini, Minggu (5/10/2025) sejak pukul 00.30 WIB hingga 18.00 WIB, sudah ada 15 jenazah yang ditemukan. Hal itu yang kemudian menambah jumlah korban meninggal dunia menjadi 40 orang," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari dalam keterangan resminya, Minggu (5/10/2025) malam.
Penemuan jenazah per hari ini paling banyak apabila dibandingkan hari-hari sebelumnya. Jika dirinci, pada Rabu (1/10/2025) ditemukan sebanyak 3 jenazah, hari berikutnya Kamis (2/10/2025) hanya 2 jenazah, kemudian Jumat (3/10/20205) ada 9 jenazah, Sabtu (4/10) ditemukan 11 jenazah, dan Minggu (5/10/2025) sampai pukul 18.00 WIB sudah 15 jenazah ditemukan.
"Data tersebut menandakan bahwa kinerja seluruh tim SAR gabungan semakin membuahkan hasil yang lebih baik, seiring dengan material tumpukan beton yang berangsur dapat disingkirkan," lanjut Abdul Muhari.
Baca juga: BNPB Targetkan Evakuasi Korban Ponpes Al Khoziny Ambruk Rampung Besok
Setelah ditemukan, jasad-jasad itu kemudian dimasukkan ke dalam kantong khusus jenazah, disemprot disinfektan lalu dibawa dengan ambulans untuk dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara guna diidentifikasi.
Dia menambahkan bahwa seiring dengan semakin terbukanya akses di lokasi terdampak, tim SAR gabungan kian sering menemukan korban yang meninggal dunia. Setiap temuan menjadi langkah berarti dalam proses pencarian, sekaligus membawa jawaban bagi keluarga dan wali santri yang selama ini menanti kepastian.
Selain jenazah dalam kondisi utuh, tim SAR gabungan juga mendapatkan empat potongan bagian tubuh manusia. Empat potongan tubuh itu belum dapat dikonfirmasi sebagai tambahan jumlah temuan jenazah, termasuk apakah temuan itu merupakan dari satu tubuh yang sama.
"Proses identifikasi dengan berbagai indikator harus dilakukan demi keabsahan sesuai prosedur yang ditetapkan oleh pihak Disaster Victim Identification (DVI)," lanjut Abdul Muhari.
Penemuan jenazah untuk ke sekian kalinya itu sekaligus mengurangi jumlah angka korban dalam pencarian menjadi 23 orang. Data ini didapatkan dari daftar absensi yang dikeluarkan pihak pondok pesantren. Kendati demikian, jumlah angka tersebut sejatinya belum sepenuhnya dapat dijadikan sebagai data yang dapat divalidasi secara utuh.
Sebab ada beberapa kasus di mana salah satu santri tidak melaporkan kehadirannya kepada pengurus namun dihitung sebagai data korban hilang.
Kendati demikian, tim SAR gabungan tetap melanjutkan operasi pencarian sampai dipastikan sudah tidak ada jenazah atau potongan tubuh yang tersisa di lokasi kejadian.
Hari ini merupakan hari ketujuh jika dihitung sejak hari kejadian atau Senin (29/9/2025). Dalam standar prosedur pencarian dan pertolongan yang ditetapkan dalam operasi SAR atas insiden ini, telah ditentukan periode pencarian dan pertolongan dalam tenggat waktu selama tujuh hari.
Abdul Muhari menjelaskan, Operasi SAR terus dievakuasi dari hasil capaian kinerja, target dan sasaran serta kondisi lapangan termasuk berbagai pertimbangan lain dari segala aspek.
Tim SAR Gabungan dengan peralatan lengkap mulai alat pelindung diri (APD), helm, kacamata khusus SAR, sarung tangan dan sepatu boots menerobos puing pilar beton demi mengevakuasi jenazah yang telah tertimbun material selama tujuh hari.
Sejak dipastikan bahwa tidak ada tanda-tanda kehidupan pada hari keempat, proses SAR telah difokuskan untuk mengevakuasi jenazah sampai selesai. Artinya, operasi ini masih tetap dilanjutkan selama lebih dari tujuh hari hingga dapat dipastikan lagi tidak ada tanda-tanda keberadaan jenazah maupun potongan tubuh manusia.
Hingga malam ini, alat berat terus menderu, personel SAR gabungan bersiaga, termasuk mobil-mobil ambulance yang terus mengangkut korban. Abdul Muhari menambahkan bahwa kemungkinan data laporan jumlah korban akan terus berkembang.
"Segenap unsur dari pemerintah pusat seperti BNPB, Basarnas, Kementerian Kesehatan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan barisan para relawan terus berjuang selama 24 jam," sebutnya.
Jumlah santri yang belum ditemukan itu diketahui setelah pada hari ini, Minggu (5/10/2025) hingga pukul 18.00 WIB, Tim SAR gabungan kembali berhasil mengevakuasi 15 jenazah santri dari puing-puing bangunan yang dibongkar dengan menggunakan alat berat.
Baca juga: Update Musala Ponpes Al Khoziny Ambruk, Korban Meninggal Dunia 37 Orang
Dengan ditemukannya 15 santri tersebut, maka hingga hari ini total sebanyak 40 jenazah santri ditemukan dari reruntuhan pilar beton bangunan musala Ponpes Al Khoziny. Alat berat mulai dari pemecah beton hingga eskavator terus mengais puing bangunan empat lantai yang ambruk itu dan menemukan jasad para santri.
"Data pencarian korban pun terus berkembang. Hari ini, Minggu (5/10/2025) sejak pukul 00.30 WIB hingga 18.00 WIB, sudah ada 15 jenazah yang ditemukan. Hal itu yang kemudian menambah jumlah korban meninggal dunia menjadi 40 orang," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari dalam keterangan resminya, Minggu (5/10/2025) malam.
Penemuan jenazah per hari ini paling banyak apabila dibandingkan hari-hari sebelumnya. Jika dirinci, pada Rabu (1/10/2025) ditemukan sebanyak 3 jenazah, hari berikutnya Kamis (2/10/2025) hanya 2 jenazah, kemudian Jumat (3/10/20205) ada 9 jenazah, Sabtu (4/10) ditemukan 11 jenazah, dan Minggu (5/10/2025) sampai pukul 18.00 WIB sudah 15 jenazah ditemukan.
"Data tersebut menandakan bahwa kinerja seluruh tim SAR gabungan semakin membuahkan hasil yang lebih baik, seiring dengan material tumpukan beton yang berangsur dapat disingkirkan," lanjut Abdul Muhari.
Baca juga: BNPB Targetkan Evakuasi Korban Ponpes Al Khoziny Ambruk Rampung Besok
Setelah ditemukan, jasad-jasad itu kemudian dimasukkan ke dalam kantong khusus jenazah, disemprot disinfektan lalu dibawa dengan ambulans untuk dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara guna diidentifikasi.
Dia menambahkan bahwa seiring dengan semakin terbukanya akses di lokasi terdampak, tim SAR gabungan kian sering menemukan korban yang meninggal dunia. Setiap temuan menjadi langkah berarti dalam proses pencarian, sekaligus membawa jawaban bagi keluarga dan wali santri yang selama ini menanti kepastian.
Penemuan 4 Potongan Tubuh
Selain jenazah dalam kondisi utuh, tim SAR gabungan juga mendapatkan empat potongan bagian tubuh manusia. Empat potongan tubuh itu belum dapat dikonfirmasi sebagai tambahan jumlah temuan jenazah, termasuk apakah temuan itu merupakan dari satu tubuh yang sama.
"Proses identifikasi dengan berbagai indikator harus dilakukan demi keabsahan sesuai prosedur yang ditetapkan oleh pihak Disaster Victim Identification (DVI)," lanjut Abdul Muhari.
Penemuan jenazah untuk ke sekian kalinya itu sekaligus mengurangi jumlah angka korban dalam pencarian menjadi 23 orang. Data ini didapatkan dari daftar absensi yang dikeluarkan pihak pondok pesantren. Kendati demikian, jumlah angka tersebut sejatinya belum sepenuhnya dapat dijadikan sebagai data yang dapat divalidasi secara utuh.
Sebab ada beberapa kasus di mana salah satu santri tidak melaporkan kehadirannya kepada pengurus namun dihitung sebagai data korban hilang.
Kendati demikian, tim SAR gabungan tetap melanjutkan operasi pencarian sampai dipastikan sudah tidak ada jenazah atau potongan tubuh yang tersisa di lokasi kejadian.
Hari Ketujuh Evakuasi
Hari ini merupakan hari ketujuh jika dihitung sejak hari kejadian atau Senin (29/9/2025). Dalam standar prosedur pencarian dan pertolongan yang ditetapkan dalam operasi SAR atas insiden ini, telah ditentukan periode pencarian dan pertolongan dalam tenggat waktu selama tujuh hari.
Abdul Muhari menjelaskan, Operasi SAR terus dievakuasi dari hasil capaian kinerja, target dan sasaran serta kondisi lapangan termasuk berbagai pertimbangan lain dari segala aspek.
Tim SAR Gabungan dengan peralatan lengkap mulai alat pelindung diri (APD), helm, kacamata khusus SAR, sarung tangan dan sepatu boots menerobos puing pilar beton demi mengevakuasi jenazah yang telah tertimbun material selama tujuh hari.
Sejak dipastikan bahwa tidak ada tanda-tanda kehidupan pada hari keempat, proses SAR telah difokuskan untuk mengevakuasi jenazah sampai selesai. Artinya, operasi ini masih tetap dilanjutkan selama lebih dari tujuh hari hingga dapat dipastikan lagi tidak ada tanda-tanda keberadaan jenazah maupun potongan tubuh manusia.
Hingga malam ini, alat berat terus menderu, personel SAR gabungan bersiaga, termasuk mobil-mobil ambulance yang terus mengangkut korban. Abdul Muhari menambahkan bahwa kemungkinan data laporan jumlah korban akan terus berkembang.
"Segenap unsur dari pemerintah pusat seperti BNPB, Basarnas, Kementerian Kesehatan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan barisan para relawan terus berjuang selama 24 jam," sebutnya.
(shf)
Lihat Juga :